
Saat Naina kembali lagi ke dalam kamar ibunya, ibu Wilda sudah terbangun dari tidur.
Tersenyum menyambut sang anak yang baru saja masuk ke ruangan ini.
"Ibu sudah bangun, maafkan aku Bu, tadi aku pergi," kata Naina, dia mengambil segelas air putih dan di serahkannya pada sang ibu.
"Aduh!" rintih ibu Wilda, merasakan sakit di dada sampai senyumnya tadi menghilang.
"Bu, aku panggil dokter ya?" tanya Naina dengan cemas, bahkan hendak bergegas pergi namun dengan cepat ibu Wilda tahan.
"Tidak usah Nai, hanya sakit sedikit, ibu masih bisa tahan," jawab ibu Wilda, dia justru mengambil gelas di tangan Naina hendak minum.
Namun Naina tak memberikan gelas itu, dia membantu sang ibu untuk meneguk air tersebut.
"Maafkan aku Bu, tadi aku malah pergi, tidak terus menjaga ibu di sini," kata Naina.
"Sstt, jangan bicara seperti itu Nai. Ibu baik-baik saja, ibu malah senang bisa melihatmu melanjutkan hidup seperti ini. Ibu tau, pasti kamu baru saja bertemu dengan suamimu kan?" balas ibu Wilda pula, dia coba tersenyum lagi dan Naina membantunya untuk kembali berbaring.
"Maafkan aku Bu."
"Jangan minta maaf terus," balas sang ibu.
Naina jadi murung sendiri, sebab merasa bersalah pada ibunya. Operasi ibu Wilda telah ditentukan jadwalnya 4 hari lagi. Jadi selama menunggu kesehatan ibu Wilda akan tetap dipantau dengan intens.
"Nai, apa kamu mendengar kabar tentang ayahmu?" tanya ibu Wilda kemudian.
Sebuah pertanyaan yang membuat raut wajah Naina seketika berubah, jika tadi dia merasa bersalah maka kini jadi marah.
"Kenapa membahas pria itu lagi Bu? ibu sakit begini juga karena pria badjingan itu," kesal Naina.
"Nai, jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu."
"Tidak lagi Bu, dia sudah pergi meninggalkan kita. Dia yang memutus semua hubungan dengan kita. Jadi tidak perlu kita bicarakan lagi," putus Naina.
Ibu Wilda hanya mampu terdiam mendengar kemarahan sang anak. Sangat wajar jika Naina menaruh kebencian sebesar itu pada sang ayah.
"Ibu jangan minta maaf, jangan merasa aku begitu menderita. Tidak Bu, tidak seperti itu. Sekarang aku sudah bahagia, apalagi Kak Nickolas yang mendampingi kita," jawab Naina.
"Apa ibu tau, kak Nickolas adalah direktur utama di rumah sakit ini. Dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini Bu. Jadi jangan cemaskan apapun, sekarang hidup kita akan membaik," jelas Naina.
Ibu Wilda melebarkan matanya saat mendengar hal tersebut, terkejut dengan apa yang diucapkan oleh sang anak. "Direktur utama?" tanya ibu Wilda dan Naina mengangguk dengan antusias.
Di hadapan ibunya dia membanggakan sang suami.
"Jangan bercanda kamu Nai."
"Tidak Bu, aku serius. Menantu ibu adalah seorang direktur utama, jadi jangan cemaskan apapun lagi. Ibu harus sembuh agar kita bisa hidup dengan lebih baik," jelas Naina.
Dia memberanikan diri untuk bicara seperti ini, meskipun sebenarnya belum mendapatkan restu dari keluarga Carter.
"Ibu ingin apa? Aku akan membelikannya tanpa pikir panjang," kata Naina.
"Ibu ingin memakai cincin lagi? Aku akan belikan sekarang," kata Naina dengan antusias. Dia ingat betul dulu sang ibu menjual cincinnya untuk tambahan biaya hidup mereka.
Dan ibu Wilda belum sempat menjawab apapun, tapi Naina sudah pergi lebih dulu dengan bibir yang tersenyum lebar.
Sebelum pergi menuju toko perhiasan, Naina putuskan untuk mencari perawat Ami lebih dulu, agar ada yang siaga menjaga ibunya.
Tapi di salah satu koridor dia malah bertemu dengan dokter Gracia. Naina langsung ingat bahwa dia tidak boleh menunduk pada wanita itu.
Sementara Gracia pun tidak langsung menunduk memberi hormat, dia ingin lihat apa yang akan dilakukan Naina ketika merek berpapasan seperti ini.
Dan alangkah terkejutnya Gracia, saat melihat Naina yang sedikit pun tidak Menunduk. Bahkan tetap mengangkat wajahnya dengan tegap.
"Naina," panggil Gracia, mulutnya tak bisa ditahan untuk memanggil.
Naina sontak menoleh dan membalas tatapan wanita tersebut, wanita yang tadi sudah mencaci makinya sesuka hati. Bahkan mengatakan sang ibu sembuh karena yang harram.
"Dokter Grac, jangan mencari masalah denganku. Sekarang sudah tau kan jika aku istrinya Dokter Nickolas?" kata Naina langsung, lengkap dengan wajahnya yang cengil. Menunjukkan sisinya sebagai Laura.