
Melihat Naina yang seketika terdiam, Nickolas langsung sadar bahwa ucapannya salah. Dia telah melukai harga diri sang istri, padahal Nickolas pun tau bahwa Naina masuk ke dunia malam karena terpaksa, demi pengobatan sang ibu.
"Maafkan aku Nai, aku salah bicara," ucap Nickolas kemudian. Memecah keheningan yang sejenak tercipta di dalam kamar itu.
Tapi ucapan yang telah keluar tak mampu ditarik lagi, seperti gelas pecah dan tak mungkin kembali seperti semula.
Naina yang hendak maju jadi urung, kini salah satu kakinya justru mengambil langkah mundur.
Dan melihat pergerakan itu hati Nickolas seketika mencelos, tak ingin kesalahan pahaman ini semakin menjadi-jadi dia pun segera maju dan mengikis jarak, menarik pinggang Naina dan di dekapnya erat.
"Maaf, aku cemburu. Aku tak bisa mengendalikan kecemburuan ku," jujur Nickolas. Dia memeluk semakin erat dan mencium puncak kepala sang istri.
Kata cemburu itu tentu membuat Naina makin terkejut, tak akan ada cemburu jika dokter Nickolas tidak mencintainya. Dan sekarang dokter Nickolas bicara tentang cemburu, apakah artinya cinta itu sudah ada?
Naina makin bingung sendiri.
"Kenapa dokter cemburu? Dokter kan tidak mencintai aku," balas Naina, dia belum membalas pelukan sang suami. Masih merasa kesal tentang ucapan yang tadi.
"Aku tidak tahu Nai, aku hanya tidak bisa melihat mu bersama pria lain. Kamu adalah istriku," balas Nick dengan posesif, bahkan memeluk sampai ingin menelan Naina hidup-hidup. Sampai Naina merasa sesak dan akhirnya menggerakkan kedua tangannya untuk membalas.
"Aku tidak bisa bernafas, Dok," ucap Naina.
"Panggil aku sayang, Nai," titah Nick.
"Aku malu, ada ibu," balas Naina.
"Biar saja ibu tau bahwa kita sudah menikah," putus Nick. Kalimat singkat yang membuat Naina akhirnya kembali berdebar, dalam sekejap hilang sudah semua rasa sakit hatinya. Kini mendadak dipenuhi bunga.
"Panggil aku sayang Nai, aku sangat merindukan kamu. Hari ini begitu menyebalkan," kata Nick.
Pernikahan yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya kini diketahu oleh ibu Wilda, meski hanya terdengar di alam bawah sadar.
"Tidak bisa bernafas? Kalau begitu aku akan beri nafas buatan," balas Nickolas. Dia menggendong Naina seperti bayi koala, lalu mencium bibirnya dengan penuh hasrat, terkesan kasar namun nikmat. Dengan posisi seperti itu, Nickolas berjalan menuju sofa dan duduk disana, memangku Naina tanpa sedetikpun melepaskan pagutan mereka.
Apa yang terjadi hari ini memang sangat menyebalkan, dan satu-satunya penenang adalah sentuhan intim.
Nick bisa merasakan bahwa kini hasratnya begitu memuncak, dia benar-benar ingin menyentuh Naina. Ingin memiliki Naina dengan utuh melalui penyatuan, tapi hal itu tentu harus dia urungkan mengingat dimana kini mereka berada.
Di kamar sang mertua.
Nick jadi harus bersusah payah untuk melepaskan ciuman tersebut. "Maafkan aku," kata Nickolas sekali lagi dan kini Naina mengangguk.
Nickolas lantas menghapus sisa-sisa salivanya di atas bibir sang istri.
"Turunlah," kata Nickolas.
"Mau apa?" tanya Naina pula.
"Ayo kita temui ibu berdua," jawab Nick.
Naina makin tertegun, namun akhirnya dia turun dari atas pangkuan sang suami. Dengan tangan saling menggenggam mereka mendekati ranjang ibu Wilda.
"Maafkan aku Bu, aku baru bisa menghadap sekarang sebagai suami Naina," kata Nickolas.
Di luar kendali Naina, tiba-tiba dia menangis begitu saja.