
Nickolas menggendong sang istri seperti bayi koala, langsung membawanya ke dalam kamar yang tersedia di ruangan ini.
Kamar yang terasa seperti ruang rahasia bagi Naina. Bagaimana tidak, di luar sana semuanya nampak normal selayaknya ruang kerja pada umumnya. Tapi mendadak di dalam sini ada kamar dengan fasilitas yang sangat lengkap.
Namun Naina tidak sempat mengagumi kamar tersebut, sebab dia sedang menerima serangan bertubi-tubi dari sang suami. Ciuman bibir yang menggebu, lalu turun menyusuri lehernya dan mencetak tanda merah di sana.
Tau-tau Naina sudah jatuh diatas ranjang yang empuk tersebut. Sementara Nickolas langsung menindihnya dengan posesif, sampai Naina bisa merasakan sesuatu yang berbeda di dalam celana sang suami.
"Sayangh, inih cepat sekalih besarnyah?" tanya Naina dengan nafas terengah, satu tangannya merambat di bawah sana, langsung menyentuh senjata sang suami yang masih ditutup rapat.
"Entahlah, aku tidak ingin sesumbar. Kita langsung buktikan saja," balas Nick, lengkap dengan senyum miring.
Senyum yang membuat Naina merinding sekaligus berdesir tubuhnya. Dadda Naina naik turun, seirama dengan nafas berat yang dia keluarkan.
Nick mulai melepaskan satu per satu kancing baju sang istri, namun dengan cepat Naina menahannya. "Sayangh yakinh?" tanya Naina lirih.
Selama ini dia belum pernah menunjukkan tubuhnya yang telanjjang sempurna di hadapan sang suami. Nai selalu menggunakan bra meski Nickolas menyentuhnya. Tapi dari gelagat suaminya sekarang rasanya berbeda, seolah sang suami hendak menyantapnya hidup-hidup.
Ingin membuka semua penghalang yang ada.
"Hem, kamu belum siap?" tanya Nickolas pula dan membuat Naina menelan ludah dengan kasar.
"Yang atas saja dulu, jangan yang bawah," balas Naina dengan pasrah, tapi masih coba menahan diri sebab saat ini pun masih masa pengobatan sang suami. Meskipun hasratnya sudah membumbung tinggi, tapi Naina tak ingin melayang seorang diri.
Dia harus pastikan kak Nickolasnya benar-benar siap, baru mereka bisa menumpahkan hasrat bersama.
Nick elus lembut kedua gundukan sintal yang masih tertutup bra berwarna hitam. Kontras sekali dengan kulit putih milik Naina. Pengait bra itu ada di depan, jadi Nickolas bisa melepaskannya tanpa susah payah meski Naina tidur berbaring.
Dan saat pengait itu terlepas Naina pun membuang nafasnya dengan kasar, akhirnya apa yang selama ini masih dia tutupi rapat dapat dilihat pula oleh sang suami.
"Indah," kata Nickolas, satu kata yang membuat Naina merona. Malu tapi hari berbunga-bunga.
"Jangan hanya ditatap, aku semakin malu," jujur Naina.
Saat itu juga Nick segera menunduk dan mencium bibir sang istri, sementara salah satu tangannya mulai bergerilya di dua gunung kembar tersebut. Untuk pertama kalinya dia menyentuh tanpa penutup, begitu lembut dan membuatnya candu.
Siang menjelang sore ini hawanya panas sekali, Nickolas menjelma jadi bayi yang merasakan kehausan. Sedangkan Naina makin tak mampu menahan hasrat di dalam jiwa, dia ingin lebih.
Tapi Naina tak kuasa untuk meminta.
Benarkah sang suami telah sanggup?
Benarkah mereka benar-benar bisa menyatu dengan sempurna?
Naina tidak berani untuk meminta.
Emh, lenguh Naina dengan suara tertahan.
"Nai, aku ingin lebih," kata Nickolas.
Di luar sana Gracia benar-benar gamang, dia masih berdiri di balik dinding dan menatap ke arah pintu ruang direktur utama rumah sakit Medistra.
Jantungnya berdegup dan kini tangannya pun sudah basah dengan keringat dingin, pikirannya makin tak karu-karuan. Menebak apa yang terjadi di dalam sana.
"Aku akan coba untuk menghubungi dokter Nickolas," gumam Gracia lalu menelan ludahnya sendiri dengan kasar.
Menggunakan kedua tangannya yang gemetar, Gracia pun benar-benar menelpon nomor ponsel milik Nickolas.
Tut Tut Tut! Suara tersambung terdengar jelas di telinganya, namun sampai panggilan itu mati Nickolas tak kunjung menjawab.
Deg! Rasa takut itu makin menguasai diri, mulai meyakini bahwa yang dia lihat adalah benar. Bahwa apa yang selama ini Zendaya tuduhkan adalah nyata, bahwa dokter Nickolas memiliki hubungan khusus dengan Naina.
Seketika itu juga Gracia menyandarkan tubuhnya yang lemah di dinding. Begitu sulit untuk menerima kenyataan ini.
Kenapa harus Naina?
Sejallang apa wanita itu sampai bisa merayu dokter Nickolas.
"Dokter Grac, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya seorang karyawan yang bekerja di gedung tersebut.
Gracia hanya tersentak, tidak menjawab apapun. Dengan tubuh yang lunglai itu akhirnya dia pergi begitu saja.
"Dokter Gracia kenapa?" gumam karyawan itu lagi dengan bingung, namun dia mengedikkan bahu, tak ingin ambil pusing.
Sementara itu di dalam ruangan sana, Nickolas makin menatap lekat sang istri di bawah kungkungannya, sebab ada hasrat yang makin besar dia rasakan di dalam hati.
Sungguh, Nickolas ingin lebih. Dia ingin menyatu dengan Nainanya.
Sedangkan Naina gamang, ingin menjawab iya namun takut jika akhirnya mereka berhenti di tengah jalan.
"Tungguh duluh sayangh," jawab Naina akhirnya, dengan perlahan dia bangun dan duduk di hadapan sang suami. Tubuh atasnya yang polos makin nampak menggoda dan menantang.
"Tunjukkan padaku bahwa sayangh sudah bisa keluar," ucap Naina ambigu.
Nickolas bahkan belum begitu paham apa maunya sang istri, sampai akhirnya Naina menunduk dan mulai melepaskan kancing celananya.
Perlahan Naina makin menunduk dan akhirnya melahap senjata tersebut, sedangkan Nick langsung memejamkan mata merasakan nikmat layanan sang istri.
"Naih," panggil Nick dengan suaranya yang terdengar berat.
Naina tak ingin dengar, dia tetap melakukan sebaik mungkin untuk menyenangkan sang suami. Jika dalam keadaan ini Nickolas bisa bertahan cukup lama, maka mereka bisa melakukan eksekusi yang lebih.
"Nainah," panggil Nickolas lagi dan akhirnya Naina menjeda akhirnya, mendongak dan menatap nakal pada sang suami.
"Kenapah?" tanya Naina manja.
"Kamu tidak jijik?"
"Tidak," jawabnya lalu malah menjilat. Sikap nakal yang membuat Nickolas tak tahan.
Naina kembali melahap sampai akhirnya keluar saus mayonaise itu. Nick mengeram penuh nikmat dan nafasnya terengah.
Sedangkan Naina puas, selanjutnya mereka benar-benar bisa bersama. Sang suami telah pulih.
"Enak tidak?" tanya Nai dan Nickolas tak mampu menjawab, hanya terkekeh dan mengusap kasar puncak kepala sang istri.
"Nakal," kata Nickolas.
"Kalau tidak nakal tidak akan jadi istri Kakh Nickh," jawab Naina.
Nickolas lantas turun lebih dulu dari atas ranjang dan menggdong sang istri yang telah kotor, di dadda Naina penuh dengan mayonaise miliknya.
Sore itu mereka putuskan untuk mandi bersama dan di dalam kamar mandi sana, giliran Nick yang memuaskan Naina.
Nickolas tidak ingin nikmat sendiri, dia juga ingin Naina puas.
1 jam lebih Naina berada di ruangan direktur utama, dan ketika keluar rambutnya terlihat setengah basah.
Huh! Naina membuang nafasnya dengan kasar, lelah karena beberapa saat lalu sudah melakukan olahraga yang cukup berat.
Mengigit bibir bawah saat terbayang-bayang senjata sang suami yang membuatnya bergidik ngeri. Namun merinding saat membayangkan senjata itu menusuk dirinya.
Padahal Naina juga sudah merasakan pelepasan, tapi tetap saja masih ingin merasakan senjata suaminya tersebut.
"Astaga, sadarlah Nai, sadar, kenapa kemesyumanmu jadi bertambah berkali-kali lipat seperti ini," gumam Naina, berulang kali dia menggelengkan kepalanya sendiri dan segera pergi.
"Aku harus cepat-cepat ke kamar ibu, mungkin dia sudah bangun," ucap Naina diantara langkah yang cukup cepat.
Seolah tak terjadi apa-apa, Naina tetap menundukkan kepalanya dengan hormat saat berpapasan dengan beberapa orang.
Ketika keluar dari gedung itu, langkahnya langsung terlihat oleh Gracia yang menunggu di salah satu sudut.
Dan tatapan Gracia langsung terkunci pada rambut Naina yang terlihat setengah basah. Tak perlu dia pikir dengan susah payah, Grac langsung bisa menebak bahwa Naina baru saja mandi di ruangan sang dokter.
Deg! jantungnya makin bergemuruh, tak rela namun bingung bagaimana mengungkapkannya.
Secara reflek kaki Gracia pun melangkah mengikuti Naina. Sampai tiba di salah satu koridor yang cukup sepi Gracia pun memanggil wanita itu.
"Naina!" panggil Gracia.
Langkah Naina yang cepat sontak terjeda, dia juga langsung menoleh ke belakang dan melihat dokter Gracia datang menghampiri. Buru-buru Naina menundukkan kepalanya dan saat dia mengangkat wajah dokter Gracia sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Iya Dokter Grac, ada apa?" tanya Naina lebih dulu.
Dan ditanya seperti itu seketika Naina menelan ludahnya dengan kasar, Dokter Gracia seolah melihat kepergiannya ke ruangan dokter Nickolas, karena itulah pertanyaan ini beliau lontarkan.
"Saya dari ruangan dokter Nickolas," jawab Naina lirih, entah kenapa dia pilih untuk jujur.
"Aku melihatmu masuk ke dalam ruangan dokter Nickolas, lebih dari satu jam kamu berada di ruangan itu dan sekarang saat keluar rambutmu basah seperti ini. Katakan, ada hubungan apa diantara kalian berdua?" balas Gracia, pertanyaan yang lebih menuntut dan Rinci.
Sementara Naina justru berdegup jantungnya.
"Kamu merayu dokter Nickolas? Karena itulah semua kemudahan ini kamu dapat? Dokter Aresha jadi menangani ibumu, kalian juga dipindahkan ke kelas 1. Nai ... Ini rumah sakit, tempat terhormat, jangan melakukan tindakan asusilla," ucap Gracia dengan menggebu, sudah habis kesabarannya. Bahkan rasanya dia pun ingin menjambak rambut Naina.
Pembicaraan mereka terjeda saat beberapa perawat dan pengunjung rumah sakit melewati koridor itu pula.
Belum sempat Naina bicara, Gracia sudah lebih dulu berucap saat ada kesempatan ...
"Seharusnya kamu malu, ibumu sembuh karena menggunakan uang harram," hardik Gracia, geram sekali rasanya.
"Aku memperingatkan mu karena aku peduli, segera akhiri semua ini. Dokter Nickolas bukan orang sembarangan, jangan membuat karirnya hancur hanya karena memiliki skanddal denganmu." Setelah puas mencaci maki Naina, akhirnya Gracia pun langsung pergi begitu saja.
Sedangkan Naina masih tergugu, ingin bicara bahwa dia adalah istri dokter Nickolas namun tak punya kesempatan. Apalagi saat mendengar kata skandal yang bisa menghancurkan karir sang suami.
Kegamangan Naina makin jadi, saat tiba-tiba kini dokter Herli berdiri di hadapannya.
"Apa semua yang diucapkan dokter Gracia benar?" tanya dokter Herli, kedua matanya manatap Naina dengan lekat.