
Malam ini juga setelah Naina tidur, Nickolas langsung membuka ponsel sang istri dan mengambil nomor ponsel milik ayah Naina.
Dengan berbekal nomor ponsel tersebut, Nickolas keluar dari dalam kamar dan menuju ruang kerja.
"Gio, aku ingin kamu melacak keberadaan seseorang," ucap Nickolas setelah panggilannya terhubung dengan sang asisten. "Nomor ponselnya akan aku kirimkan sekarang," timpal Nick lagi.
"Baik Tuan," jawab Gio di ujung sana.
Setelah panggilan itu terputus, Nickolas pun mengirim nomor ponsel ayah Naina dan Gio langsung berkeja sesuai perintah sang Tuan. Nickolas memang tidak begitu mengerti tentang dunia bawah tanah, dia hanya memiliki uang yang membuatnya bisa mendapatkan apapun dengan mudah.
Sementara Gio sang asisten, lebih tau banyak hal. Sebab dia diam-diam adalah asisten pribadi kiriman Daddy Rayden untuk anak kesayangan.
Setelah mendapatkan nomor ponsel tersebut, Gio langsung menghubunginya sampai akhirnya panggilan itu terhubung dan dijawab.
Tit! Sensor lokasi mulai hidup. Keberadaan pria itu langsung terpantau dengan jelas.
"Halo! Siapa ini?!" tanya ayah Naina dengan suara yang terdengar seperti orang mabuk.
Namun Gio langsung memutus sambungan telepon tersebut, sebab dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Alamat pria itu pun langsung dikirimnya pada sang Tuan.
Alamat yang tak asing bagi Nickolas, sebab Naina pernah menyebut tempat itu sebagai tempat tinggalnya bersama sang ibu.
*
*
Malam pun bergulir, semua yang Nickolas lakukan semalam Naina benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali. Setau dia saat pagi sang suami masih tertidur pulas di sampingnya.
"Sayangh, bangun," pinta Naina, dia menggoyangkan dadda sang suami dengan lembut, sedikit merematnya suka-suka.
"Jam berapa?" tanya Nickolas.
"Jam Setengah 6."
"Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?" tanya Nickolas, dia bicara namun dengan kedua mata yang masih terpejam. Memposisikan sang istri berada penuh di dalam pelukannya.
"Tidak mau melakukan apa-apa, hanya ingin di rumah bersama mommy seperti kemarin."
"Mau berenang denganku?" tanya Nickolas dan Naina langsung mengangguk dengan antusias.
Sementara Nickolas tersenyum lebar, memang sudah tugasnya untuk membuat Naina selalu merasa bahagia seperti ini.
"Tapi pagi ini aku pergi sebentar ya, kemarin ada dokumen yang tertinggal di rumah sakit. Gio tidak bisa mengambilnya sebab pintunya aku kunci," ucap Nickolas, setelah dia membahagiakan Naina kini tinggal menyampaikan apa yang dia ingini.
"Iya sayang, kalau begitu cepat bangun. Sebelum jam 8 harus segera pulang," kata Naina, dia sedikit bangun dan berada di atas tubuh sang suami.
"Tapi aku masih ingin memeluk mu," balas Nickolas, dia kini sudah ahli sekali membuat Naina senang.
"Ihh sayang, ayo bangun." titah Naina pula.
Nickolas berlagak terpaksa, padahal dia benar-benar ingin segera pergi. Tapi bukan menuju Rumah Sakit, melainkan menuju rumah Naina yang lama. Dimana ayah Naina berada saat ini.
Jam 6 pagi, Nickolas sudah pamit pergi. Di tengah jalan dia bertemu dengan Gio dan dua anak buah yang Gio bawa. Menempuh perjalanan beberapa menit dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Rumah yang nampak lusuh, dedaunan kering menghiasai halaman rumah tersebut.
Tempat ini seperti tak terpakai lagi, tapi lampu di dalam rumah itu masih menyala.
Tanpa pikir panjang Nickolas pun mengetuk pintu rumah tersebut. Tok tok tok!