
Setelah keluar dari ruang rawat Zendaya, Nickolas pun membuang nafasnya dengan kasar. Apa yang selama ini mengganjal di dalam hatinya kini seolah perlahan hilang. Semuanya tentang Zendaya kini telah benar-benar berakhir, tidak peduli bagaimana kehidupan rumah tangganya Nickolas tak akan terpengaruh.
Zendaya harus menyelesaikan sendiri masalah hidupnya, seperti selama ini Nick yang berjuang sendirian untuk sembuh dari rasa sakit hati.
Dibandingkan terus berkutat dengan masa lalu, Nickolas lebih pilih untuk menjalani hidupnya ke depan. Dan sekarang hanya Naina lah yang ada di sampingnya.
Setelah Nickolas pergi, Gracia pun masuk ke dalam ruang rawat Zendaya. Dia merasa tak tenang atas pertemuan kedua orang tersebut, jadi datang ke sini untuk memastikan semuanya. Namun belum sempat dia masuk ke dalam kamar wanita itu, Gracia sudah lebih dulu mendengar suara tangis yang begitu pilu.
Langkahhya sontak terhenti sejenak, sebelum akhirnya kembali mengambil langkah mundur dan pilih untuk keluar lagi.
Mendengar tangis itu, bibir Gracia tersenyum kecil. Tidak perlu dijelaskan dia sudah tau apa jawabannya. Dokter Nickolas pasti mengakhiri semuanya dengan Zendaya.
"Baguslah, untuk apa juga kembali pada wanita itu. Kak Nickolas berhak mendapatkan wanita yang lebih baik," gumamnya, dan wanita yang lebih baik itu adalah dirinya, bukan yang lain.
*
*
Keadaan rumah sakit awalnya berjalan seperti biasa, namun mendadak jadi tegang ketika sore menjelang, ketika dokter Aresha akhirnya memasuki rumah sakit tersebut.
Dokter Aresha sebenarnya sangat ramah, hanya saja kemampuannya yang luar biasa di dunia medis membuat semua orang sangat menghormatinya. Hingga saat menunduk sampai nyaris membungkuk untuk memberikan hormat.
Tau bahwa calon ibu mertuanya datang, Gracia adalah yang maju paling depan. Menyapa dan berniat mengantarkan dokter Aresha menuju ruangan sang anak. Jelas saja dokter Aresha pasti hanya akan berkunjung. Tidak menangani kasus apapun.
"Selamat datang Dokter," sapa Gracia dengan begitu anggunnya.
"Gracia, semakin hari kamu semakin cantik saja," puji mommy Aresha. Kedua orang tua Gracia juga adalah kenalannya, karena itulah mereka cukup saling mengenal satu sama lain.
"Terima kasih Dokter, mari saya antar ke ruangan dokter Nickolas," balas Gracia pula. Andai ini di luar rumah sakit, dia akan memanggil Dokter Aresha dengan sebutan Tante.
"Hem, seperti itulah Grac. Orang tua sangat merindukan anaknya, tapi anaknya sibuk dengan dunianya sendiri," balas mommy Aresha pula dan keduanya jadi tertawa bersama.
Sungguh, sekarang Gracia seperti melayang di atas awan. Interaksinya dengan dokter Aresha yang hangat seperti ini semakin membuatnya yakin bahwa dia adalah jodoh sang direktur utama.
"Apa kamu tau pasien Nickolas bernama ibu Wilda?" tanya mommy Aresha kemudian, hingga membuat tawa Gracia jadi mereda.
"Ibu Wilda? Iya Dokter, saya mengetahuinya."
"Nickolas memintaku untuk memeriksa keadaan beliau, apa komanya sudah lama?" tanya Aresha lagi dan Gracia malah kesulitan untuk menjawab.
Kenapa pula dokter Nickolas sampai meminta bantuan dokter Aresha untuk menangani ibu Wilda. Padahal pasien koma yang ditanganinya oleh dokter Nickolas bukan hanya ibu Wilda, tapi masih ada dua lainnya lagi.
Tapi kenapa harus ibu Wilda.
Belum sempat Gracia menjawab, mereka sudah lebih dulu tiba di depan ruangan Nickolas.
"Terima kasih Grac, Untuk pertanyaan tadi lupakan saja. Aku akan menanyakannya langsung pada Nickolas," ucap mommy Aresha, dengan bibir tersenyum dia pun masuk ke ruangan itu dan menutup pintu.
Meninggalkan Gracia yang tergugu.
Kenapa harus ibu Wilda? kenapa harus ibunya Naina?
Pertanyaan itu seketika menguasai pikirannya, apalagi saat ingat ucapan Zendaya bahwa dia pernah melihat Nickolas dan Naina di dapur rumah sakit.
Deg!