
Saking gemasnya Nick tanpa sadar merremas kedua bokkong Naina sampai wanita itu menganga mulutnya. "Hais, kenapa Suamikuh jadi nakal!" ucap Naina, membentak tanpi manja.
Sementara Nick selalu saja gemas sendiri tiap kali melihat Naina jadi Laura. Akhirnya dia pun menarik hidung istrinya tersebut. "Aku mandi dulu," pamit Nickolas.
"Hem," jawab Naina singkat.
Pelukan diantara mereka pun terlepas, Nickolas menuju kamar dan Naina pilih langsung membuatkan minuman hangat untuk sang suami dan untuk dia sendiri.
"Tidak memakai Cellana dalam seperti ini risih juga. Jika basah tidak ada yang menampung," gumam wanita tersebut, dia sedikit berlari ke meja dan mengambil tissue, membersihkannya dengan tisue itu dan membuangnya ke tempat sampah. Mencuci tangan lalu kembali membuat minuman.
Saat sang suami kembali menghampiri dia, Naina sudah duduk cantik di salah satu kursi. Menyambut dengan senyum yang terkembang lebar. Bagaimana tidak, dia melihat suaminya yang makin tampan saja saat menggunakan baju santai seperti itu.
Jangankan manusia, semut pun pasti akan terpesona dengan ketampanan dokter Nickolas.
"Duduk di sini," titah Nickolas setelah dia duduk, memerintahkan Naina agar duduk di atas pangkuannya.
"Memangnya tidak capek? Kan makan dulu."
"Tidak," balas Nickolas singkat.
Naina tak punya alasan menolak, dia juga suka jika selalu berdekatan dengan sang suami seperti itu.
Jadi saat makan malam bersama ini, Naina terus berada di pangkuan suaminya tersebut. Sesekali makan sendiri, sesekali saling menyuapi. Bahkan kadang Naina menyuapi dengan mulutnya, sampai ada ciuman yang tercipta.
Selesai makan bukannya kenyang, tapi keduanya malah merasa panas. Naina merasakan ada yang berbeda dari sang suami, permainan yang lebih kasar namun membuatnya merasa senang.
"Dokterh pelan-pelan sajah," lirih Naina, saat dengan cepat dia di pindah ke atas meja, Nick membuka kakinya lebar dan memeluk pinggangnya erat.
"Tenang dulu." Naina membelai lembut kepala sang suami, terburu-buru hanya akan membuat usaha mereka gagal. Satu tangannya masih membelai kepala dokter Nickolas, sementara tangannya yang lain turun dan menyentuh senjata di bawah sana. Benar-benar telah mengembangkan dengan sempurna. Naina bahkan tidak menyangka jika squishynya akan sekuat ini.
Tapi jika langsung ke inti Naina takut senjata ini akan cepat habis tenaganya, jadi dia putuskan untuk memainkannya menggunakan tangan. Seperti saat dokter Nickolas memuaskannya beberapa hari lalu.
"Nai," panggil Nickolas saat hasrat itu makin menguasai dirinya.
"Tahan Sayangh, malam ini seperti ini dulu," pinta Naina.
Di ruang makan itu Naina memuaskan sang suami menggunakan tangan dan tubuhnya, tak ada penyatuan. Namun belum sempat hasrat itu keluar, Nickolas sudah kehilangan tenaganya. Sebab tiba-tiba di dalam hati ada rasa yang mengganjal. Entah apa, namun dia tak ingin puas sendirian, dia tak ingin Naina hanya bekerja, dia ingin Naina juga menikmatinya.
Jadi saat senjata itu kembali layu, Nickolas langsung memeluk Naina dengan erat.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti sembuh," kata Naina, dia membalas pelukan itu dan juga kembali membelai lembut kepala suaminya.
Nickolas tidak menjawab dengan kata-kata, dia langsung menggendong sang istri seperti bayi koala. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Terima kasih," kata Nick diantara langkahny yang terus melaju.
"Aku tidak suka mendengarnya," balas Naina.
"Jadi apa yang ingin kamu dengar?"
"Aku mencintaimu, Nai," ucap Naina lalu memeluk suaminya erat.
Namun kalimat itu ternyata cukup sulit untuk Nickolas ucapkan.
"Tidak apa-apa, jika tidak bisa mengucapkan tidak apa-apa kok. Aku tidak akan marah dan tidak akan memaksa. Biar aku saja yang mengatakannya ... Aku, aku mencintaimu Dokter," ucap Naina, dia sembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami. Sebab mendadak merasakan sesak di dada
Tak bisa dipungkiri, rasanya sedih sekali saat harus selalu terlihat baik-baik saja, sementara hati sudah seperti teriris.
Sejak awal Naina sadar, cinta memang terlalu agung untuk dia miliki. Naina juga sudah menyiapkan diri dengan yang namanya penolakan, tapi nyatanya tetap saja membuat hatinya sakit.
Dan Nickolas lagi-lagi tak menjawab dengan kata-kata, dia semakin memeluk erat hingga akhirnya membaringkan Naina di atas ranjang. Gaun Naina tersingkap hingga menampakkan lembah yang begitu ranum.
Lembah yang membuatbtubuh Nickolas kembali berdesir, dan bahkan senjata bangkit lagi. Namun dia tahan diri dan justru menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
Setelahnya dia membungkuk dan mencium bibir Naina lembut. Mereka saling berpagut mesra sampai akhirnya sama-sama berbaring di atas ranjang itu. Nick kembali membuat Naina melayang menggunakan tangannya. Sampai wanita tertidur di pelukannya.
Di saat Naina tertidur, Nickolas memandangi wajah sang istri dengan intens.
"Jika kamu sedang tidur seperti ini, kamu benar-benar seperti Naina," gumam Nickolas, dia membelai wajah itu dengan lembut. Lalu kembali mendekap tubuh sang istri yang seolah begitu ringkih, sementara dia bersedia jadi tempat bersandar.
Pagi pun datang dan Nickolas adalah yang bangun lebih dulu. Namun ada yang mengejutkan pagi ini karena tiba-tiba mommy Aresha datang ke apartemennya tanpa ada angin dan hujan.
"Mom," ucap Nickolas, dia bahkan masih menggunakan celana pendek tanpa baju.
"Perasaan semalam cuacanya dingin, kenapa kamu tidak memakai baju?" tanya mommy Aresha, dia datang dengan banyak bawaan di tangannya. Nickolas mengambil beberapa dan mereka berjalan menuju dapur.
"Kenapa wajahmu terlihat terkejut seperti itu Nick? Apa kamu tidak melihat ponsel mu?" tanya mommy Aresha, semua barang yang dia bawa kini telah berada di atas meja yang berantakan. Mommy Aresha membawa banyak makanan untuk mengisi lemari pendingin sang anak.
"Apa semalam kamu membawa seorang wanita ke sini?" tanya mommy lagi, entah sudah berapa banyak pertanyaan yang dia ajukan. Tapi Nickolas masih terdiam dengan keterkejutan yang luar biasa. Di benaknya justru ada Naina yang sedang tidur di kamar. Bagaimana jika tiba-tiba istrinya itu keluar dan bertemu dengan sang ibu.
Glek! Nickolas hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar. Dia pun tak bisa pergi ke kamar begitu saja, justru akan membuat ibunya semakin curiga. Jadi Nick putuskan untuk tetap di sini.
"Ditanya malah diam saja," kata mommy Aresha pula.
"Maaf Mom, aku baru bangun tidur," jawab Nick.
"Maaf Mom, aku tidak melihat ponsel ku."
"Mommy tau," balas mom Aresha. "Duduklah, ada yang ingin mommy katakan padamu juga," timpal mom Aresha kemudian.
Dia merapikan meja yang berantakan itu lebih dulu, memindah semua yang kotor di westafel. Setelah meja di lap bersih, barulah dia ikut duduk dengan sang anak.
"Apa yang ingin mommy bicarakan?" tanya Nickolas.
Tapi perhatian mom Aresha justru ke arah leher sang anak yang nampak bekas merah. Dia bukan lagi gadis lugu, mommy Aresha sangat tau bahwa tanda merah itu adalah bekas ciuman.
Dan memang benar pemikirannya, sebab Naina lah tersangkanya.
"Apa kamu memiliki kekasih?"
"Tidak Mom," balas Nickolas dengan cepat.
"Ini sudah lama sekali sejak pernikahan mu dan Zendaya batal Nick, mommy bahkan dengar Zendaya sekarang di rawat di rumah sakit kita. Demi apapun Nick, mommy tidak akan rela jika kamu kembali pada wanita itu," jelas mom Aresha.
Nickolas terdiam.
"Tapi yang ingin mommy bicarakan bukan tentang Zendaya, tapi tentang kamu. Mommy ingin melihatmu menikah, cobalah untuk kembali menjalin hubungan dengan wanita."
Nickolas masih terdiam.
"Apa Gracia tidak terlihat menarik di matamu? Dia sepertinya baik."
Jeda sesaat sebelum akhirnya mommy Aresha kembali bicara ...
"Mommy tidak ingin menjodoh-jodohkan kamu Nick, pilihlah calon istri mu sendiri. Tapi jika sekarang kamu belum memiliki taman dekat, cobalah untuk mengenal Gracia lebih dalam."