SAY YOU LOVE ME TOO

SAY YOU LOVE ME TOO
CHAPTER 56



...(HAPPY READING ALL)...


☘️.



Munculnya Li Ming.



setelah ia bersembunyi lama, Li Ming dan segerombolan prajurit pergi dari sana dengan tatapan mata tajam. walau mereka pergi, namun mereka merasa ada yang aneh disini.


apalagi Li Ming, ia merasa ada aura kakaknya disini. namun walau ia tau sekarang, dia pasti akan berbohong dan berkata bahwa kakaknya tidak ada.


hanya dengan begini dia baru merasakan kasih sayang ayahnya itu... "Li Huang, jangan pikir aku bodoh." ujar Li Ming yang lalu berjalan lurus.


disisi lain lagi, Mu Fei dan yang lainnya sudah tiba disekolah lagi. mereka merenggangkan kedua tangan dan kaki yang pegal karna duduk seharian.


"akhirnya pulang juga, ehhh Mu Fei, lu nggak capekkah?."


"nggak juga Liu Yi, aku malah merasa lebih nyaman."


"emang beda ya sifat-sifat orang itu."


setelahnya Mu Fei terkekeh kecil dan lalu berjalan mengarah keadiknya. iapun memukul pelan bahu adiknya hingga akhirnya sang adik menoleh kearahnya.


melihat kakaknya ada dibelakang, ia langsung berbalik dan bertanya... "ada apa kak Fei?." tanya Mu Xiao Bi yang penasaran dengan kakaknya.


"dik, nanti kita beliin makanan burung yuk, kayaknya merpati ini lapar deh."


melihat burung itu sudah berbunyi, akhirnya Mu Xiao Bi setuju. mereka berdua sudah sepakat untuk mencari beberapa toko yang menjual makanan burung.


"hey burung merpati kesayangan, kali ini aku membutuhkan bantuanmu. kali ini nampaknya kau akan bekerja ekstra."


seketika burung itu berbunyi lebih berisik lagi... "cuit...cuit...cuit..


cuit...cuit..." kicau burung itu yang membuat semuanya kaget.


mereka kaget karna siapa yang membawa burung, soalnya diperjalanan tidak ada suara burung sebelumnya.


namun yang sebenarnya terjadi adalah burung itu jinak dan lalu dilepaskan oleh Mu Fei, dan akhirnya burung itu mengikuti mobil mereka.


sesaat mereka sampai, burung itu langsung mendarat ditangan Mu Fei. setelah beberapa saat mereka penasaran, akhir salah satu dari mereka bertanya...


"siapa yang membawa burung disini?." tanya salah satu murid yang lalu dijawab oleh Mu Fei... "saya yang membawa burung itu." jawab Mu Fei.


iapun langsung berjalan pelan sambil mengelus pelan kepala burung itu, ia perlahan menoleh kebelakang dan terkekeh kecil.


"heheheheh, maaf kalo berisik, kayaknya dia lapar beberapa Minggu dia pasti sudah lelah terbang."


"ini burung lu?."


"bisa dibilang gitu."


"lepasin aja burungnya, berisik gitu."


"kalo lu bisa, lu coba aja sendiri."


setelahnya murid itu kesal dan mencoba untuk membuat burung itu lepas, namun sayang burung itu malah mematuk tangan murid itu.


ia malah semakin berisik hingga akhirnya Mu Xiao Bi berkata... "lepasin burung itu, dia nggak suka dipegang sama kamu."


"dihhh lu siapa hah?, lu kira tanah ini punya nenek lu."


mendengar perkataan kasar dari murid itu, Mu Fei kesal dan berkata... "sekali lagi lu bilang gitu keadik gua, jangan harap lu bakal lolos."


"emangnya lu siapa juga?, burung sok-sok ini aja udah bikin kesel apalagi orangnya."


"ngeselinnya gua, gua nggak pernah jadi benalu. lu yang baru pulang dari kemah udah mau sok sama gua?, lu kira lu siapa?.


gua sih bakal mikir sebelum sombong dihadapan orang lain." ujar Mu Fei yang lalu pergi bersama dengan burung yang tadi ia bawa.


bahkan burung juga ikut kesal melihat orang itu, karna ia kesal ia terbang dan mengarah tepat diatas kepalanya. burung itu tanpa rasa malu langsung saja mengeluarkan ta* burung.


itu semua adalah balasan atas apa yang ia lakukan kepadanya... "berpikir sudah tahu banyak hal, kau melawan orang yang salah."


setelahnya burung itu kembali ketangan Mu Fei, Mu Fei yang melihat itu langsung menghela nafas panjang... "jangan ulangi lagi." ujar Mu Fei.


setelahnya burung itu terdiam dan menunduk sedih karna dimarahi oleh Mu Fei. Mu Fei yang melihat burung itu sedih, merasa kasihan akhirnya ia mengelus kembali rambutnya.


disisi lain lagi, Li Ming yang tadinya dijalan kini sudah sampai dikerajaan. iapun berlutut dan memberi laporan terbaru tentang pencariannya.


"ayahanda, aku masih belum menemukan keberadaan kak Li Huang."


mendengar jawaban itu, raja Li kesal dan melemparkan ia sebuah vas keramik, lemparan itu tepat dikepala Li Ming.


Li Ming yang sudah bercucuran darah semakin kesal dengan sifat ayahnya. namun karna keadaan tidak membaik, lebih baik ia mengalah.


ia kembali berjalan dengan muka yang sudah terkena darah, sakit memang sakit, kepala yang sudah berdarah ditambah dengan rasa sakit hati.


ia sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya, selalunya ia akan diasingkan bagaikan anak buangan yang tak berguna.


Li Ming yang begitu merasa semakin kesal, akhirnya iapun berlari pergi ketempat pasukannya. iapun duduk dikursi dan melamun disepanjang jalan.


teman-teman seperjuangannya merasa ada yang aneh, apalagi dengan darah yang banyak dikepalanya. melihat hal itu, beberapa dari prajurit malah bergosip.


"lihat jenderal muda Li, sepertinya ia dilukai oleh raja Li lagi."


"sungguh kasihan jenderal, dia dari dulu tidak pernah mendapatkan dukungan dari ayahnya sama sekali."


"lebih parahnya lagi, ayahnya bahkan tega melukai anaknya sendiri. aku bingung sebenarnya masalah apa yang menyebabkan raja Li begitu tak suka dengannya."


"kau tak tau tentang kabar itu, katanya Li Ming itu adalah anak simpanan dari selir Ming. dengar-dengar selir Ming itu selingkuh dengan salah satu Kasim.


itulah kenapa raja Li sangat membenci jenderal muda hingga begitu." ujar salah satu prajurit yang lalu dibalas teriakan oleh Li Ming.


"berbicara sembarangan dibelakang orang, maka akan dihukum 50 pukulan."


mendengar perkataan itu mereka langsung bersujud dan berkata... "ampuni kami yang mulia, kami tidak akan mengulanginya."


setelahnya Li Ming hanya menghela nafas dan lalu pergi dari sana. diapun terdiam dan termenung disetiap jalannya, hingga akhirnya dia sampai ditempat kejadian hilangnya Mu Fei.


diapun semakin penasaran dan terdiam disana, hingga tiba-tiba ia malah mengingat kembali kejadian itu. kejadian Mu Fei hilang itu membuat ia penasaran.


iapun semakin ingin mencoba turun dari sana dan melihat dasar jurang itu, namun sesaat ia ingin terjun tiba-tiba salah satu dari prajuritnya langsung menangkapnya.


"jenderal jangan kesana, disana bahaya. jika jenderal disana, mungkin nyawa jenderal tidak ada."


mendengar itu Li Ming malah menjawab... "lebih baik aku mat*, daripada harus tersiksa bathin. ayahku sama sekali tak suka denganku sejak dulu.


sejak kecil aku sudah diasingkan dan disiksa oleh semuanya, hanya dengan ini aku baru mampu melakukannya. tapi semua itu hanya mimpi bagiku.


yang kuharapkan adalah kasih sayang orang tua, tapi yang kudapat adalah kebencian dari mereka." ujar Li Ming yang lalu melepaskan genggaman tangan itu.


... "YANG PALING DIBUTUHKAN OLEH ANAK IALAH KASIH SAYANG DAN JUGA CINTA DARI ORANG TUA."...


to be continued


mohon maaf jika ada kesalahan kata atau typo dimohon maafkan, saya memang suka eror kalo ngetik.


btw jangan tersinggung atau apapun itu ya, saya disini hanya melanjutkan hobi saya saja'-'


btw jangan lupa dibaca, like, dan difavoritkan, semoga kalian suka ceritanya^^


(Phoenix Amazone**)