
...(HAPPY READING ALL)...
☘️.
Kemenangan Yang Menyenangkan.
setelah itu Mu Fei berjalan menuju kelas, dia tidak begitu peduli dengan apa yang dipandang oleh orang-orang tentangnya.
menit ke menit telah berlalu, kini Mu Fei sampai dikelas dan lalu menghampiri Mengmeng dengan raut wajah puas akan kemenangan.
"Mengmeng, gimana?."
Mengmeng yang tidak paham maksud ucapan Mu Fei kini menoleh kearahnya dan lalu bertanya... "apa maksudmu?."
mendengar pertanyaan itu dengan segera Mu Fei terdiam dan lalu menghela nafas... "maksud aku gimana hebatkan aku?.
mereka semua terpesona melihat gerakan itu, padahal itu belum seberapa dengan latihannya." ujar Mu Fei sambil berbisik.
"memangnya latihanmu kenapa?." tanya Mengmeng sambil menggigit salah satu pulpen dimejanya.
"sungguh rumit, latihan itu butuh 5 tahun mempelajarinya. aku mulai melatih tarian dan juga bela diri dari usia 7 tahun.
saat usia 12 tahun aku sudah mulai menguasai seni pedang, dan lalu disaat usiaku 15 aku sering ikut ajaran militer untuk melatih kemampuanku.
namun siapa sangka, diusia itu aku sudah dijadikan jenderal oleh ayahku. sungguh aku merasa senang saat itu." ujar Mu Fei dengan wajah tersenyum.
Mengmeng yang baru pertama kali melihat Mu Fei tersenyum begitu puas kini merasa terpesona, dia merasa aura putri didalam dirinya itu masih ada.
mungkin disaat ia kembali, semua orang bisa memperlakukan dia seperti putri sungguhan. dengan begitu Mu Fei tak perlu repot-repot begini.
"siapa gurumu?." tanya Mengmeng yang lalu membuat Mu Fei terdiam kaku.
dia nampak menutup rapat mulutnya, ntah apa yang ia sembunyikan saat ini. Mengmeng yang mengerti gestur itu dengan segera terdiam.
dia mengerti maksud Mu Fei begitu, dia sepertinya tidak pernah mau membicarakan hal ini.
"Mu Fei ayo makan." ajakan Mengmeng yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"ayo Mengmeng."
merekapun bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju kantin. baru saja melangkah keluar kelas, tiba-tiba Dyon muncul dengan tatapan penasaran.
Mu Fei yang merasa terganggu karna ulah Dyon kini menatap tajam dan lalu berkata... "kamu menggangguku!."
"maaf, btw elu maukan ajarin gua tarian kayak gitu?."
"nggak mau, salah gerakan sedikit itu akan mencelakai dirimu."
"aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah popularitasku harus naik kembali. karna ulahmu popularitasku jadi menurun...
semua orang memperhatikan dirimu, itu sangat tidak adil." ujar Dyon yang lalu berteriak ditelinga Mu Fei.
Mu Fei yang sudah terlanjur kesal mendengarnya seketika menatap mata Dyon dengan tatapan menakutkan.
dia melangkah maju kedepan dan memojokkan Dyon hingga kedinding. disaat Dyon disitu, dia langsung menggempalkan tangannya..
awalnya dia ingin memukulnya, tapi tanpa ketahui niatnya hanya ingin menakuti saja.
dia langsung memukul dinding, hingga tangan Mu Fei terluka. Dyon yang melihat itu dengan segera wajahnya memucat, dia merasa takut melihatnya.
"ini adalah peringatan kedua, jangan pernah nyari gara-gara sama aku."
setelah menyebutkan itu, dengan segera ia pergi bersama Mengmeng. walau tangannya terluka, dia terlihat biasa saja tanpa merasa kesakitan.
padahal darah yang terkeluar dari tangannya kini mulai mengalir deras. Huang Jia yang baru keluar dari kelas seketika terkejut melihat darah ada dimana-mana.
seketika ia teringat Mu Fei dan lalu berlari mencarinya. saat ia menemukan Mu Fei, dengan segera ia memegang tangan Mu Fei.
Mu Fei yang kaget karna Huang Jia yang langsung memegang tangannya dan memberi ia sebuah kain untuk menutupi luka tangannya.
"kenapa tanganmu?."
"tidak apa-apa, tadi aku jatuh makanya aku terluka."
baru saja Mengmeng ingin berbicara, tiba-tiba Mu Fei sudah menutupi mulutnya dengan wajah tersenyum.
dia lalu berjalan pelan mengarah telinga Mengmeng dan berkata... "jangan katakan itu, aku tidak mau Huang Jia bertengkar dengan pria s*alan itu."
Huang Jia yang diam-diam menguping kini menatapi mata kedua orang itu... "kalian menyembunyikan apa?." tanya Huang Jia.
"tidak ada apa-apa kok, benerkan Mengmeng?." ujar Mu Fei yang lalu menyentuh sedikit tangan Mengmeng untuk kode.
Mengmeng yang paham dengan segera mengangguk kepala, dengan raut wajah ragu-ragu keduanya berpamit untuk makan.
"Huang Jia, kami mau makan dulu, kamu mau ikut?."
"boleh, bentar aku panggilin yang lain."
"oke, kami tunggu disini."
merekapun duduk disalah satu kursi disana, menunggu kedatangan mereka bertiga. Mu Fei yang panik, karna takut ditanya ini itu.
dia lebih panik, jika nanti Huang Jia tau bahwa ia berduel dengan Dyon. apalagi luka ini, jika bukan karna Dyon yang membuat Mu Fei marah, Mu Fei tidak mungkin memiliki luka ditangannya.
"duh gawat, jika Xiao Lin ataupun Huang Jia tau itu, gawat mereka bisa-bisa bertengkar dengan pria itu."
melihat wajah panik Mu Fei, dengan segera Mengmeng sadar dan lalu membathin... "dia pasti memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan Dyon.
wah emang gawat sih kalo sampe ketahuan sama dua orang itu. kayaknya aku harus tutup mulut, bahkan kakakku tidak boleh tau ini.
jika dia tau, mungkin dialah orang yang akan membuat Mu Fei semakin cemas. lebih baik aku berpura-pura tidak tau soal ini.
semoga tidak ada yang menyadariku!." bathin Mengmeng sambil menggigit bibirnya.
menit ke menit telah berlalu, kini ketiga pria itu sampai ditempat Mu Fei dan juga Mengmeng menunggu.
"kami sudah siap makan!."
Xiao Lin yang sadar dengan tangan Mu Fei kini bertanya dengan lembut... "ada apa dengan tanganmu?."
"ini akibat jatuh tadi, aku cereboh karna berjalan tidak hati-hati."
"yaudah lain kali berjalan lebih pelan." ujar Xiao Lin sambil mengelus pelan rambut Mu Fei.
semua murid yang lewat melihat itu seketika terkejut, kenapa Mu Fei begitu dekat dengan mereka semua.
"Xiao Lin, ini bukan dirumah, lagipun nanti dikiranya kita punya hubungan lebih."
"bener tuh, padahalkan yang pacarnya dia itu gua. ngapain elu yang malah ngelus rambut dia." ujar Huang Jia yang memeluk Mu Fei.
Mu Fei yang merasa risih malah melepaskan pelukan itu, dia merasa tak nyaman saat dipeluk begitu.
namun siapa sangka, teman-temannya yang baru mengetahui itu seketika lebih kaget mendengarnya.
"apa?, kalian berdua pacaran?, gimana caranya?."
"cukup mudah, kami saling cinta."
Huang Jia seketika mengolok mereka dengan begitu lucunya. Mu Fei yang melihat itu seketika merasa lapar.
perutnya berbunyi dengan begitu kuat hingga kedengaran oleh teman-temannya... "lapar?." tanya Huang Jia.
Mu Fei seketika tersenyum dan mengangguk kepala, dengan raut wajah ragu-ragu dia berjalan pelan menuju kantin.
semua teman-temannyapun ikut, apalagi sesaat dijalan mereka selalu bertemu murid-murid yang bersikap aneh dengannya.
bahkan ada yang memandangi mereka semua dengan pandangan ketakutan, bahkan ada yang tersenyum ramah dengan Mu Fei.
..."JIKA ITU PENTING BAGIMU, KAMU AKAN MENEMUKAN JALAN."...
to be continued
mohon maaf jika ada kesalahan kata atau typo dimohon maafkan, saya memang suka eror kalo ngetik.
btw jangan tersinggung atau apapun itu ya, saya disini hanya melanjutkan hobi saya saja'-'
btw jangan lupa dibaca, like, dan difavoritkan, semoga kalian suka ceritanya^^
(Phoenix Amazone**)