
...(HAPPY READING ALL)...
☘️.
Perpindahan Waktu.
namun siapa sangka, saat ia terjatuh, dirinya malah berada ditempat yang berbeda. ya dunia yang penuh dengan alat canggih dan juga otomatis.
namun karna Mu Fei yang masih sedikit sakit, dirinya harus pingsan selama beberapa hari.
setelah 3 hari dia berada disana, dirinya masih tak kunjung bangun, hingga akhirnya dia bertemu dengan 4orang remaja yang sedang mendaki.
"ehhh guys...guys...ada orang kayaknya."
"mana Mengmeng?."
"itu yang make baju hitam sama rompi."
"kok lu bisa ngelihat, padahal gua nggak nampak bajunya."
"mata lu rusak kali, yok kesana siapa tau dia butuh bantuan."
merekapun dengan segera menghampiri Mu Fei yang masih pingsan, terlihat sekali wajah dan juga tubuh Mu Fei yang penuh dengan darah.
salah satu teman mereka yang melihat itu justru merasa takut dan jijik, ternyata dia memiliki fobia terhadap darah.
"dia udah mati kali."
"sttt...jangan ngomong gitu!!."
tiba-tiba salah satu temannya maju dan mendekati Mu Fei, ternyata dia akan memeriksa nafas Mu Fei.
saat dia memeriksa, dirinya merasa heran, ternyata nadi Mu Fei sangat normal dan nafasnya juga begitu.
"aneh, kenapa dia baik-baik saja, coba kalian panggil, mungkin aja dia lagi ngeprank kita."
"oke, bentar gua idupin dulu Hp gua buat bangunin dia."
setelah dia menggunakan hpnya untuk membangun Mu Fei, namun yang terjadi tetaplah sama. Mu Fei masih tak kunjung sadar, mereka segera paham dan langsung menggendong Mu Fei untuk dibawa kerumah sakit.
"Mengmeng, telpon guru minta izin, kali ini kita kayaknya gagal buat ngedaki."
"siap, Xiao Lin."
setelah selesai semua hal, mereka bergegas keluar dari hutan dan mencari mobil untuk pergi ke kota kembali.
selama beberapa jam, Mu Fei masih tak kunjung bangun juga. mereka semua sedikit khawatir dengan kondisi seperti ini.
"didalam medis kayaknya ini nggak pernah terjadi deh."
"bawa aja dulu kerumah sakit, siapa tau mereka paham."
sesampainya mereka dirumah sakit, mereka dengan segera pergi mencari suster dan juga dokter untuk melihat kondisinya.
menit ke menit telah berlalu, setelahnya muncul dokter yang selesai memeriksanya.
"teman kalian baik-baik saja, walau ada beberapa tusukan tapi tidak sampai menembus keorgannya. dia tidak sadarkan diri, karna kekurangan darah atau mungkin mengalami hal." jelas dokter yang membuat mereka lega.
"makasih Dok."
setelahnya dokter pergi dan membiarkan mereka masuk kedalam untuk melihat kondisi Mu Fei.
"lu kenal kagak dia siapa?."
"Mu Fei..." ujar Xiao Lin yang mengagetkan mereka.
"tumben lu nyebut nama jenderal itu."
"bukan nyebut, gua lagi baca ini. dia tadi bawa ini pas gua gendong dia, bahkan saat dimobil gua juga ngelihat ada sebuah giok dipinggangnya."
"beneran, coba lihat asli kagak, kalo asli gile Sultan bener bisa buat yang mirip aslinya."
"kayaknya asli deh, lihat aja permata ini bagus banget, aku nggak pernah lihat modelan kayak gini."
"ehhh Xiao Lin, coba lu tanya ke kakek lu, siapa tau dia paham tentang giok kayak gini."
"oke nanti gua tanya, btw kita nggak boleh ninggalin dia sendirian disini, salah satu dari kita harus ngejaga dia malam ini."
"Mengmeng serius lu mau?."
"eumm...lagipun sesama wanita pasti dia mengerti."
"okelah, gua pergi dulu. penasaran banget gua sama giok ini."
"oke, gua juga mau pulang bentar, nanti gua balek lagi."
"dek, kakak pulang dulu, mau bilang kemama buat izinin kamu disini malam ini."
"oke kak, guys, thanks ya. gua ngelihat didalam dulu."
setelah kejadian Mu Fei terjatuh dari jurang, semua rakyat yang ada sekaligus kerajaan mystic kini terkejut mendapatkan kabar itu.
mereka tak percaya Mu Fei begitu cepat pergi, apalagi Li Huang yang mendengar kabar itu dengan segera pergi kejurang dan menangis disana.
"Mu Fei, kembalilah, aku berjanji, aku akan menjagamu selalu. beri aku kesempatan untuk melakukannya, Mu Fei maafkan aku."
dia terus menangis hingga bersuara isak, bahkan raja Li yang melihat itu ikut kasihan dengan anaknya. ini kali pertamanya ia menangis dengan begitu kerasnya.
"Li Huang pulang!!!." titah raja Li yang ditolak secara langsung oleh Li Huang. dia malah menatap tajam kearah ayahnya dengan wajah penuh kebencian.
"ayah, jika tidak ada perang ini, maka Mu Fei masih bisa hidup ayah. jika ayah ingin aku pulang, maka bu*uh jenderal yang sudah melakukan itu.
aku akan memberi kesempatan untuk ayah, jika ayah membanggakan kerjanya, maka jangan harap aku akan terima hal itu.
ayah ingat satu hal, aku bukan lagi anakmu, jadi kenapa ayah ingin aku pulang?, lebih baik aku pergi selamanya." ujar Li Huang yang berlari pergi tanpa kata-kata lagi.
raja Li yang melihat itu seketika kesal dan lalu berteriak dengan keras... "ha....Xiao Bao, dimana jenderal itu sekarang?."
"dia...dia berada ditenda, dia sedang merayakan pesta kemat*an putri pertama raja Mu Ying."
"berani sekali, aku bilang ambil wilayah bukan berarti memb*nuhnya, sekarang tunjukkan aku tempatnya akan kuhukum dia."
"tapi raja, bukankah itu berita bagus raja, jika kita berhasil memb*nuh jenderal itu. lagipun itu adalah kesempatan bagus..."
"Bodoh, kamu tau tidak betapa pentingnya orang itu untuk putra mahkota?, segera beri perintah turunkan jabatannya dan kirim dia dipenjara bawah tanah."
"baik raja, aku akan memanggil orang-orang untuk membawanya kepenjara."
"bagus, pergilah."
setelahnya, disisi lain lagi raja Mu Ying yang juga mendengar itu tak berhenti menangis. bahkan Mu Xiao Bi yang dekat dengan Mu Fei juga ikut menangis.
bagaimana tidak, dia adalah orang terdekat baginya, Mu Fei adalah segalanya juga baginya, apalagi dia adalah kakak terbaik.
"kak Fei, kenapa kau melakukan itu, kak Fei, aku...aku beluk siap menerimanya."
"Mu Fei, ayah tau kau anak yang berbakti, ayah tau betapa sakitnya hati jika selalu dihina sana sini, ayah juga tau betapa menderitanya dirimu sekarang.
tapi ayah tidak menyangka dirimu akan pergi secepat ini, jika ayah tau kau akan pergi seperti ini, maka ayah tidak akan membiarkan dirimu menjadi jenderal lagi.
ayah bersalah kepadamu, Mu Fei, ayah bodoh, ayah hanya mementingkan orang lain, tapi tidak denganmu, ayah salah, ayah terlalu bodoh.
bisakah kau memaafkan ayahanda sekarang ini?." ujar raja Mu Ying yang terus menangis mendengar kabar itu.
bahkan permaisuri juga ikut bersedih, bagaimana tidak, anak satu-satunya malah pergi seperti itu, walau dia sudah menolong, tapi tetap saja...
"anakku, ibunda tau kamu selalu punya niat baik yang tidak bisa dimengerti orang, tapi ibunda paham maksudmu selama ini.
ibunda merasa bersalah karna selama ini, ibunda selalu mengabaikannya dirimu, jarang berbicara denganmu, bahkan mendidikmu.
ibunda menyesal membiarkan segalanya terjadi begitu saja." teriak permaisuri yang berada didalam kamar.
dirinya tidak mau keluar dari sana, hingga mendapatkan kabar terbaru tentang Mu Fei...
... "MENYESALLAH SEBELUM TERLAMBAT, BERANIKAN DIRI UNTUK MENGUNGKAPKAN SEGALANYA, KARNA SESUATU BELUM TENTU ADA KESEMPATAN KEDUA."...
to be continued
mohon maaf jika ada kesalahan kata atau typo dimohon maafkan, saya memang suka eror kalo ngetik.
btw jangan tersinggung atau apapun itu ya, saya disini hanya melanjutkan hobi saya saja'-'
btw jangan lupa dibaca, like, dan difavoritkan, semoga kalian suka ceritanya^^
(Phoenix Amazone**)