SAY YOU LOVE ME TOO

SAY YOU LOVE ME TOO
CHAPTER 45



...(HAPPY READING ALL)...


☘️.



Belajar Mandiri.



disisi lain lagi, Mu Fei dan teman sekelasnya kini belajar mandiri. mereka belajar banyak hal, termasuk pelajaran matematika hingga fisika.


Mu Fei yang lumayan senang belajar kini merasa cukup bagus jika ada belajar mandiri begini. ia merasa pelajaran seperti ini sangatlah mirip seperti saat ia latihan dulu.


setiap kali Mu Fei sedang sibuk, maka prajurit lain akan diperintahkan untuk latihan mandiri cara bertarung dan menggunakan kekuatan mereka.


bahkan Mu Fei mengajarkan arti dari berperangan itu seperti apa, ia mengajari itu semua agar prajurit yang ia latih bisa mengerti tentang banyak hal.


semua hal yang dikatakan oleh Mu Fei sendiri adalah salah satu ajaran penting dari jenderal lama, yaitu jenderal Ling Wu.


jenderal Ling Wu sangat akrab dengan Mu Fei, apalagi ia selalu menceritakan pengalaman perangnya dimedan perang saja.


alasan Mu Fei ingin menjadi seorang jenderal ialah karna saat mendengar perkataan jenderal Ling Wu, ia malah merasa kasihan dengan warga yang ada didekat sana.


mereka pasti terkena dampak buruk akibat perperangan itu, ia juga merasa salut kepada jenderal Ling Wu karna mampu mempertahankan kota.


ia mulai merasa bahwa tugas jenderal jauh lebih sulit daripada menjadi seorang putri biasa. karna pada nyatanya, walau ia adalah putri pertama tapi bukan berarti ia selalu menjadi kesayangan.


ia selalu memilih jalannya sendiri, apapun yang ia lakukan hanya untuk kepentingan bersama.


melihat wajah Mu Fei yang masih sedikit murung, membuat Mengmeng sebagai teman dekatnya sekarang kini merasa sedih melihat wajah itu.


"Mu Fei ada apa?."


"tidak apa-apa."


"katakan saja, lagipun kita adalah teman sekarang."


"baiklah, aku tadi hanya mengingat masa lalu lamaku. saat awal mula aku mempunyai impian baru. semua itu terjadi begitu saja, terlalu cepat untukku."


"impian?, maksudmu dulu kamu punya impian gitu?."


"tentu saja iya, impian lamaku adalah menjadi jenderal dulunya. namun semua itu sudah terpenuhi, untungnya nyawaku benar-benar tidak sia-sia kali ini.


aku rela mat* demi menyelamatkan nyawa orang-orang disana, hanya ada beberapa kata bagus untukku." ujar Mu Fei yang lalu ditanya oleh Mengmeng.


"apa itu?, apakah kata-kata itu sungguh memotivasi dirimu."


"tentu saja, bahkan beberapa pahlawan selalu berkata itu."


"coba sebutkan, aku ingin mendengarkan perkataanmu."


"baiklah, dengar ya... jika ingin melindungi orang-orang, maka lindungi dulu orang yang paling kita sayangi.


jika orang yang kita sayangi tetap saja pergi, maka sama saja melindungi siapapun akan sia-sia." ujar Mu Fei yang lalu terdiam setelahnya.


ntah kenapa ia tiba-tiba teringat dengan Li Huang dan juga Huang Jia, mengingat perkataan itu membuat ia teringat kedua wajah itu.


ia merasa berat untuk meninggalkan mereka, tapi pasti ada jalan dimana mereka bisa bertemu lagi.


Mengmeng yang mendengar perkataan Mu Fei, malah merasa sedih dan terharu. ia malah merasa bahwa perkataan Mu Fei sangatlah bagus.


sungguh mampu membuat suasana yang tadinya menyeramkan berubah menjadi suasana yang sedikit sedih.


jam demi jam telah berlalu, kini bel istirahat telah berbunyi. Mu Fei dan yang lainnya istirahat dikantin sebentar, sambil mengisi perut.


Mu Xiao Bi yang tadinya diam, kini membaca beberapa puisi bagus untuk sekolah ini. karna ia melihat beberapa bunga indah disekolah ini.


ia tersenyum lembut dengan wajah yang begitu indah. jalannya sungguh sopan, pandangan matanya sangat menarik banyak orang.


bahkan siswi disekolah ini terpesona melihat wajah tampan Mu Xiao Bi, mereka menyebutkan bahwa Mu Xiao Bi jauh lebih tampan dari pada Dyon.


dari wajah hingga sifat saja sudah berbeda, Dyon memiliki sifat iri dan juga mudah emosi, sedangkan Mu Xiao Bi sangatlah tenang dan tetap anggun.


mendengar suara Mu Xiao Bi, Mengmeng langsung saja menoleh dan berkata... "kenapa kau daritadi hanya diam saja?, apa ada yang mengganggumu?."


"tidak ada, hanya saja aku memang jarang bicara. aku hanya banyak bicara jika dengan kak Fei saja."


setelahnya Mengmengpun mengangguk paham dan lalu berjalan pelan menuju kantin. namun Mu Fei yang belum melihat yang lainnya, kini merasa aneh.


"kalian pergi kekantin duluan, aku akan melihat kelas Huang Jia."


mereka berdua langsung mengangguk dan tetap berjalan. berbeda pula dengan Mu Fei, ia langsung berbalik dan berlari kearah kelas Huang Jia.


saat sampai disana, ternyata Huang Jia masih belajar didalamnya. disana ada guru yang sedang mengajar dikelas.


melihat hal itu, ia langsung berjalan tanpa mengetuk pintu. ia tau jika ia melakukan itu maka ia akan mengganggu pelajaran yang lain.


karna masih ada rasa pengertian, ia akhirnya berjalan pelan pergi dari sana. namun siapa sangka, saat ia sedang pergi tiba-tiba Huang Jia muncul dan memanggilnya.


"Mu Fei...." teriak Huang Jia yang membuat Mu Fei menoleh kearahnya. saat itu juga, angin kencang muncul membuat rambut Mu Fei terurai.


melihat rambutnya begitu, ia langsung mengambil karet dan mengikatnya. dengan begini ia merasa lebih baik daripada tidak mengikatnya.


"Huang Jia, kalian sudah selesai?."


"sudah, barusan kelar belajar. btw kenapa nggak ketuk pintu aja, lagipun kami memang sudah selesai belajar."


"aku takut mengganggu, btw yang lain kemana?."


"tu masih didalam, mereka masih membersihkan buku tadi."


"owh gitu, yaudah mau kekantin bareng nggak?."


"maulah, gua dah daritadi laper. perut gua bunyi mulu."


mendengar perkataan itu, Mu Fei langsung terkekeh kecil. ia merasa perkataan Huang Jia cukup lucu untuknya...


melihat Mu Fei tersenyum begitu lebar, membuat ia sadar, ada sesuatu yang menjanggal dihatinya.


"ada apa ini?, kenapa hatiku terasa begitu senang."


melihat wajah Huang Jia begitu, senyum Mu Fei hilang dan malah berubah menjadi raut wajah penasaran yang sangat tinggi.


baru saja Mu Fei ingin bertanya, tiba-tiba datang kedua temannya yang lain. Xiao Lin yang sudah melihat Mu Fei disini langsung saja bertanya...


"tumben sendiri, dimana yang lain?."


"mereka sudah pergi kekantin sejak tadi, niatku ingin melihat kalian dulu. karna biasanya kita selalu keluar samaan mulu."


"keluar samaan mulu atau karna faktor lain nih?."


"maksudnya apa Liu Yi?."


"lupakan saja."


setelahnya mereka berempatpun berjalan pelan menuju kantin. selama mereka berjalan, Huang Jia menceritakan banyak hal.


dimulai dari pelajaran hingga akhirnya mengenai kehidupannya. ntah kenapa Huang Jia akhir-akhir ini sedikit merasa gelisah.


tidak tau kenapa, perasaannya seperti ada yang menjanggal. ia tidak tau apa hal itu, ia hanya tau bahwa hal ini cukup mengganggu ia sedikit.


..."YANG TERPENTING, BUKANLAH SEBERAPA BESAR MIMPI KALIAN, MELAINKAN SEBERAPA BESAR UPAYA KALIAN MEWUJUDKAN MIMPI ITU."...


to be continued


mohon maaf jika ada kesalahan kata atau typo dimohon maafkan, saya memang suka eror kalo ngetik.


btw jangan tersinggung atau apapun itu ya, saya disini hanya melanjutkan hobi saya saja'-'


btw jangan lupa dibaca, like, dan difavoritkan, semoga kalian suka ceritanya^^


(Phoenix Amazone**)