
Mata Jendral Trode terlihat fokus pada sesuatu. "ssst! lihat kesana. Gita belum tumbang."
"hah apa!?" (Figo)
"melihat Gita dalam keadaan seperti itu... Jendral Castro, nampaknya mustahil jika tak ada yang terluka. apalagi sudah terlanjur ada darah yang tumpah." (Trode)
Rayk meringkih kesakitan sambil memegang tangan kanannya yang patah.
Gita bergerak menyerang dengan cepat"Bats!"
"?!, JANGAN LENGAH GITA MASIH BANGKIT! " (Rafale)
"AO... Blue Sphere." (Gita)
Mereka tidak sempat bertahan dari serangan Gita yang sangat cepat tersebut.
"GWAKH!"
sementara Rafale, Ian, Vincent dan juga Dazel berhasil bertahan.
"guh! serangan macam apa itu." (Vincent)
Tanpa banyak bicara Gita langsung menerjang Vincent kemudian menebaskan pedangnya ke leher Vincent.
"swik, ckit!. SLASH!"
"AKH!!"
Vincent beruntung sempat diselamatkan, karena apabila telat 0,001 detik saja pedang yang berjarak 1 inchi dari lehernya akan langsung menebasnya.
Gita benar-benar serius, ia tak main-main dalam tebasannya. karena saat ini, adik kecilnya terluka parah.
_____________.
6 Tahun yang lalu ketika Rayk terlahir.
"Nona Muda! adik anda telah lahir."
Gita berlari menuju ruang dimana Ibundanya berada.
"lihatlah sayang... ia adalah seorang laki-laki. wah... betapa manisnya dia..." (Lilith)
Itu adalah hari dimana keluarga kami kedatangan anggota keluarga baru, aku ingin menyentuh pipinya yang lembut itu, aku sangat senang dengan keberadaannya.
"hm..? Gita mau coba sentuh adik bayinya?" (Lilith)
Dengan wajah berbinar-binar aku menjawab mau, ia halus dan lembut, Mama kemudian bertanya padaku mau dinamai siapa adik bayi ini.
Mama berkata bahwa aku berhak menamai dirinya. lalu "Rayk. bagaimana jika namanya Rayk?"
"Rayk ya... itu terlalu singkat dan sederhana" (Castro)
"Baiklah kita namai dirinya Rayk." mama berkata halus sambil tersenyum.
Ayah terkejut dengan keputusan mama "Eh?, Lilith sayang kamu bercanda kan."
Mama hanya membalas dengan tersenyum, "hmmmm..?"
"eh... Baiklah kalau begitu. Gita kembalilah latihan, karena kamu yang memberikan adikmu nama, maka kamu tidak boleh jadi lemah agar adikmu juga kuat." (Castro)
Latihanku dinaikkan 2 kali lipat ketika umurku masih 8 Tahun, akan tetapi aku tak pernah mengeluh.
Ayahku juga melatihku dengan sepenuh hatinya. setiap umurku bertambah latihan untukku juga ditambahkan 1 kali lipat.
Dalam kurun waktu 2 Tahun, latihan Ayah seketika berubah, perilakunya pada pelatihanku sangatlah keras. jika ada kesalahan sepele yang kulakukan ia tak ragu melayangkan pukulannya padaku.
Ia berkata 1 kesalahan maka kamu akan mati pada medan perang, aku memakluminya karena Ayah adalah seorang Jendral Besar dalam kemiliteran.
Ketika umurku 12 Tahun. Ayah membawaku masuk kedalam pelatihan kemiliteran.
Mental keras dan tanpa ampun milikku makin terbentuk ketika ayah secara resmi memasukkan ku kedalam militer.
Latihan yang ekstrim AO ku dilatih sampai ketitik maksimalnya, sparing dengan setiap pasukan yang terlatih.
Dituntut menciptakan sebuah jurus khas ku sendiri, dan karena aku adalah seorang anak pertama dari seorang Jendral Besar aku diberikan latihan khusus.
Bertarung dengan seorang mata-mata dari bumi Peako yang ditahan oleh militer kami,
mata-mata yang tingkatnya setara dengan Mayor.
Semua senjata sudah disiapkan, "Ini adalah latihan untuk mematangkan dirimu Gita. jangan ragu, jika kamu menujukkan sebuah kelemahan maka musuh akan langsung membunuhmu!"
Aku lelah. apa alasan aku melakukan semua ini sampai sejauh ini?
"Mulai Pertarungannya!"
Kami berdua bertarung dengan sangat sengit sampai menghancurkan berbagai macam senjata yang disediakan.
Pada akhirnya aku menang dengan telak, dan sama sekali tidak tergores bahkan seujung pipi.
"LELAH! LELAH! LELAH! LELAH! LELAH! HAMPA! HAMPA! HAMPA! HAMPA! HAMPA!" (Gita)
"hmmm... anak anda sangat luar biasa berbakat Jendral Castro. bagaimana kalau kita memberikannya Hak wajah baru?" (Kabura)
"tidak. Jendral Kabura dengan segala hormat jangan begitu, hal itu berlebihan, lagipula hal itu memerlukan sebuah kompetisi dan bukan dipilih berdasarkan keegoisan." (Castro)
"Tidak seperti itu Jendral Castro... Gita adalah seorang yang berbakat, bahkan aku yang selalu bangga pada cucuku sangat kagum pada Gita" (Figo)
"namun, apakah hal ini benar-benar rasa kagum? ataukah sebuah benih yang muncul dari rasa takut?"
"Hei... tidak baik seorang pemenang berekspresi muram seperti itu. aku tak tahu seberat apa perjalanan hidupmu akan tetapi, jangan pernah melupakan alasan dirimu berada disini."
"?!, orang yang mau mati melantur apaan?" balas Gita dingin.
"uwah, mengerikan. yah, selama 2 tahun ini aku melihat dirimu berlatih di militer, awal kedatanganmu dirimu masihlah memiliki ekspresi.
kupikir saat itu kamu adalah perempuan cuek, akan tetapi makin kesini ekspresimu makin menghitam seakan kamu dilahap kegelapan.
aku hanya berspekulasi kalau kamu ingin melakukan balas dendam. makanya kamu membunuh perasaanmu sendiri. aku terlalu banyak bicara, aku ingin tidur dan misiku sudah selesai."
Saat itu mata-mata dari Bumi Peako yang ditangkap sudah meninggal, dan begitulah bagaimana pelatihan 5 Tahun ku selesai, Ayah dan aku kembali ke rumah.
Saat itu aku secara kebetulan merasa diriku tak sabar, apakah? seakan aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting bagiku.
Tibalah ketika aku bertemu dengannya, aku mengingatnya. adikku Rayk. pelatihanku selama 5 Tahun serta mental yang kutempa selama itu hancur, seolah sia-sia.
Aku sangat marah ketika mengetahui ia yang berumur 5 Tahun bahkan belum pernah memegang pedang kayu.
"Ayah! Rayk! Dia laki-laki bukan mengapa dia tidak pernah memegang pedang, bahkan di umurku yang ke empat tahun aku sudah mahir dalam berpedang." aku melakukan protes terhadap Ayahku.
Aku dibakar api amarah dan api kecemburuan pada adik kecilku, 5 Tahun aku menderita. aku membunuh ekspresi diriku, aku membunuh keyakinanku, aku membunuh Duniaku. Aku mengorbankan semuanya akan tetapi.
Mengapa dunia tak adil padaku? Mengapa Rayk yang laki-laki malah hidup tanpa beban seperti itu, selama 5 Tahun penuh ia berada dalam dekapan Mama.
Malam itu Keluarga kami mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan diriku yang kembali dari kemiliteran.
Aku pula berniat untuk mempermalukannya dihadapan para Keluarga terpandang lainnya akan tetapi rencanaku tak berjalan lancar.
"itu pesta untuk Kakak mah, aku lebih baik di dalam kamar saja." Rayk menolak untuk menghadiri pestanya.
"sial! Rayk malah menolaknya" batin Gita.
Gita kemudian mencari akal lagi agar Rayk ikut ke pesta tapi Lilith tidak mau memaksanya.
"aku memiliki ide, Rayk pasti tidak kompeten dalam pertarungan. maka ia adalah seorang kutu buku, akan kugunakan ini untuk mempermalukannya." (Gita)
Ketika pesta dimulai aku hanya menunjukkan muka sebentar kemudian berkata kalau aku ingin ke toilet.
Aku bergegas ke kamar Rayk untuk memfoto dirinya yang merupakan kutu buku.
"akan kupermalukan dirimu."
kudobrak pintu kamarnya Rayk dengan kencang. "Rayk! Ayo ikut PESTANYA!"
Dengan menyeringai aku masuk kedalam kamar Rayk. akan tetapi, apa yang sedang terjadi. Rayk tidak sedang belajar ataupun membaca buku.
Ia hanya menatap keluar jendela kamarnya, memandangi langit yang dipenuhi bintang.
tatapan matanya kosong, saat itu aku baru menyadari keganjilan yang ada di hatiku, selama ini setiap ekspresinya adalah buatan. senyum yang ia paksakan.
Apakah Rayk muak dengan aktingnya, ataukah mungkin ia tak mau kalau pestaku dinodai oleh aktingnya.
Aku telah melihat wajah asli Rayk, topeng yang selalu ia gunakan. lalu aku teringat dengan sesuatu.
Sesuatu yang ingin kulindungi adalah senyumannya. akan tetapi aku telah gagal, rasa marah padanya membuatku buta, kenapa aku marah padanya atas hal yang kujanjikan sendiri, betapa bodohnya diriku.
Dua roh secara tiba-tiba muncul dalam kamar Rayk, kemudian memeluk dirinya dan saat itulah tatapannya matanya yang kosong mulai mengeluarkan air mata.
Aku tak bisa menahan tangisku lagi, aku bergegas memeluk Rayk.
____________.
Gita mengamuk dan dengan niat membunuh ia menghajar Vincent yang melukai Rayk sambil bertarung melawan 7 orang lainnya.
"Kakak ada disini, karena itulah... kumohon jangan menangis lagi adikku sayang."
^^^Bersambung....^^^