Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 17: Past (Destruction)



"masa lalu tentang peperangan ini memang seru, akan tetapi bagaimana aku bisa percaya dengan ini semua dan Informasi tentang Elin masih terlalu minim."


Lord Borezo menggelengkan kepalanya "kekeke... sejarah ini belum selesai bodoh. jika kamu ragu tentang sejarah ini, aku bisa jamin ini dari sumber terpercaya karena berasal dari Universe Record."


Rayk kembali bertanya dengan ekspresi bingung, "hah, Universe Record? apa itu."


"hmm... entahlah aku tak bisa menjelaskannya secara spesifik akan tetapi, itu mirip seperti perekam kejadian besar dalam suatu Alam Semesta.


dan juga aku bisa menjamin peperangan 10.000 tahun lalu ini berkaitan dengan Dewi Elin, meskipun secara kesimpulan Dewi Elin hanyalah seorang Dewi penjaga Bumi Sarvest, akan tetapi aku yakin jawaban itu tak akan membuat dirimu puas bukan?"


Rayk mengangguk-angguk dengan wajah malas, "kamu benar, oh iya! aku sempat berjumpa dengan orang dari Bumi Peako, mereka mengatakan bahwa Bumi Sarvest menggunakan nama Dewi Elin untuk melakukan Invasi apakah itu benar? melihat bagaimana agresifnya dan kuatnya orang-orang di Bumi Sarvest aku ragu mereka menjual nama Dewi Elin."


Lord Borezo tertawa keras sambil menggelengkan kepalanya. "HAHAHA! kelakuannya masih tidak berubah. apa kamu tau Bumi Peako diciptakan siapa?"


Rayk menggeleng tak tahu, kemudian Lord Borezo kembali memperlihatkan kejadian di masa lalu.


"Bumi Gargazi adalah Bumi yang pertama kali melakukan sebuah aliansi, seperti yang kamu lihat sebelumnya Bumi Gargazi melakukan aliansi dengan 5 Bumi.


pada Perang sebelumnya Bumi lain menyerang Sarvest secara bersamaan akan tetapi mereka tidak beraliansi, dan melihat celah tersebut mata-mata Sarvest menghancurkan mereka dari dalam yang membuat mereka saling bermusuhan sehingga, Sarvest leluasa menyerang balik."


"sebaiknya kamu melihat sendiri kejadiannya."


...----------------...


Laksamana Vhersa berhasil memenangkan pertarungan 1 lawan 1 tersebut dan membunuh Heron serta Tarcad, uhukh! Laksamana Vhersa tersungkur jatuh dan mulutnya mengeluarkan darah.


"mereka lawan yang cukup kuat, aku harus kembali ke-"


tiba-tiba seseorang muncul dari belakang Vhersa "Ke Markas?" ucap suara itu dengan nada berat. mata Laksamana Vhersa langsung terbelalak, kemudian ia reflek menusukkan pedang yang ia genggam ditangan kirinya ke belakangnya.


SWIKS!


"wah... untung aku sempat menghindar. perkenalkan aku Dewa Waktu Tre-"


belum sempat orang itu memperkenalkan dirinya, Vhersa langsung menyerangnya kembali. mengetahui kalau musuhnya saat ini adalah Dewa ada perasaan amarah, akan tetapi disatu sisi instingnya mengatakan kalau Vhersa akan mati.


Trexiz menghindari setiap serangan pedang Vhersa. dan ketika Trexiz melompat ke belakang untuk mengambil posisi, saat itu lah AO Skill Vhersa diaktifkan. AO Skill Invinsible sword.


dari bawah tanah tempat Trexiz berdiri muncul pedang tak kasat mata yang menusuk Trexiz. tak berhenti disitu saja Vhersa masih terus menyerang Trexiz karena ia tahu Trexiz tidak akan mati dengan satu serangan.


"MATI!" teriak Vhersa. stab! Vhersa berhasil menusuk Trexiz tepat di jantungnya dan telah memastikan kematian Trexiz, "hosh... hosh... hosh...", Vhersa menoleh ke belakang kemudian pergi meninggalkan Trexiz.


satu hal yang tidak diketahui Vhersa adalah lawannya kini adalah seorang Dewa Waktu, AO Skill polar time.


saat itu lah sebilah pedang menembus perut Vhersa, stab! "ack... kuhuk!" Laksamana Vhersa langsung terjatuh ke tanah. "a-apa yang terjadi..."


suhu tubuh Vhersa mulai mendingin, akan tetapi Laksamana Vhersa masih berusaha mempertahankan kesadarannya, "lawan yang kuat sudah mulai muncul."


dengan segera Vhersa bangkit kembali dan langsung menyerang Trexiz dengan pukulannya. "HEARGGH!" BAAAMM!, akan tetapi Trexiz menahannya dengan jari kelingkingnya dan saat itu juga Vhersa dipentalkan hingga terpental jauh.


"kamu manusia yang tak mudah menyerah, pantas saja Bumi Sarvest sangat sulit untuk di taklukkan." ucap Trexiz memuji.


Vhersa berusaha untuk berdiri dengan keadaannya yang terluka, kemudian ia memanggil AO Weapon miliknya "Pedang Naga Zagro, Pedang pembelah langit Sefu."


"baiklah. sudah kuputuskan, aku akan menghabisi dirimu. Pedang Waktu, Rethor."


Trexiz dan Vhersa saling berhadapan. mereka memasang kuda-kuda bersiap. BATS! , keduanya saling menerjang DUASSHHH!!


Pedang Trexiz dan Pedang Vhersa saling beradu, Vhersa menyabetkan pedangnya dengan sangat cepat SLASH! SLASH SLASH!


Trexiz menangkis dan juga menghindari setiap serangan dari Vhersa yang sangat cepat itu.


akan tetapi, dampak dari serangan Vhersa bahkan merusak dataran yang ada ditempat mereka bertarung.


KRAK! DUAR!!!!! , datarannya hancur dan terpotong dadu oleh tebasan Laksamana Vhersa, "VHERSA! DRAGON FLAME!!" Vhersa menggunakan AO Skillnya yang memunculkan Api yang menyelimuti Pedang Naganya.


"HAAAAH!" dengan sekuat tenaga Pedang itu ditebaskan oleh Vhersa hingga membuat sekitarnya terbakar oleh kobaran Api. meskipun begitu Trexiz berhasil menahan serangan luar biasa tersebut menggunakan Pedangnya meskipun dirinya terdorong oleh kekuatan Vhersa.


Trexiz menggumam, "begitu ya... kalian manusia Bumi Sarvest terlampau kuat. karena itulah aku akan menghancurkan kalian semua."


Trexiz langsung menerjang Vhersa dengan sangat cepat. Pedangnya kemudian ia tebaskan kearah Vhersa yang sedang terkejut. Swash! , cting!!!. Vhersa berhasil menahan tebasan itu akan tetapi. Trexiz mendorongnya dan melepaskan serangan yang kuat. "rasakan ini."


kali ini Trexiz menebaskan Pedangnya menyilang dan melukai tubuh Vhersa secara telak. "ARGGHHH!" Vhersa merasakan sakit yang sangat luar biasa. namun Vhersa menggertakkan giginya kemudian mengambil posisi untuk kembali bertahan.


darah Laksamana Vhersa mulai membanjiri tubuhnya sendiri apa lagi lukanya sangat dalam, "Pedang Pembelah langit..." Vhersa dengan nafas yang terangah-engah berusaha untuk terus melakukan perlawanan.


"sangat membuat diriku kagum. kalau begitu akan kulihat seberapa kuat jurus pamungkas milikmu wahai manusia."


[]


{Qent}


sebuah sihir muncul ditengah mereka berdua, sebuah sihir dengan area yang sangat luas mungkin radiusnya sekitar 80 meter.


sihir tersebut terlihat seperti jam besar, "manusia kamu pasti akan mati ketika Jamnya sudah menunjuk angka 12."


TING! TONG! TING! TONG! TING! TONG!


bersamaan dengan suara dering Jam tersebut Vhersa melancarkan serangan terakhirnya. "HAAAAH!!!"


DUAR!!! tangan kiri laksamana Vhersa seketika itu hancur, kemudian Trexiz maju dan melompat menendang leher Vhersa. Krak! , lehernya seketika itu patah.


[]


sebuah guncangan Ruang terjadi di situ yang menyebabkan retakan dimensi. Vhersa mengarahkannya AO Skillnya kearah Trexiz untuk menyerangnya namun Trexiz mundur dan terus menerus menghindar dengan cepat.


"sangat berbahaya... selama ini kami selalu meremehkan manusia, ternyata manusia mempunyai potensi untuk menjadi seorang Dewa."


Vhersa mengeluarkan darah dari mulutnya, "ohokghh!!" tulang lehernya sudah patah tangan kirinya sudah hancur, ia sudah kehilangan banyak darah. 'aku... tidak boleh mati. aku belum membalas kebaikannya, aku tak boleh mati... aku belum membalaskan dendam ku pada mereka.'


Mata Laksamana Vhersa sayup-sayup mulai menutup, sampai akhirnya ia ambruk juga dan kehilangan nyawanya.


^^^Bersambung....^^^