Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 57: Kudeta



Rafale berhasil membunuh kedua anggota kerajaan di dalam Istana.


Pangeran Dands dan Putri Thea tewas dengan mengenaskan dalam kekacauan itu, sementara masyarakat yang ada di sekitar sana di amankan oleh anak buah Rafale sebelum akhirnya mereka juga akan di bunuh.


Genosida terburuk sepanjang sejarah Sarvest, ketakutan, tangisan. menghiasi suasana sore berdarah tersebut.


Raja dan Ratu Sarvest sekarang tidak bisa tenang meskipun dilindungi di dalam markas besar militer.


"Anakku, anakku sedang tidak dalam perlindungan!" teriak sang Ratu dengan mata berkaca-kaca.


Jendral Figo hanya terdiam tidak bisa berkata apapun. ia sendiri sedang berfikir keras tentang kejadian mengejutkan ini. 'Siapa sebenarnya si pembuat kekacauan ini.'


Raja mencoba untuk menenangkan Istrinya. "Sayang tenanglah ... Thea pasti akan selamat, Dands adalah Ksatria yang kuat, Okey ..."


Raja kemudian bertanya pada Jendral Figo. "Apakah bisa untuk menjemput Dands dan Thea di Kerajaan Inggris?"


Jendral Ozin menggelengkan kepalanya. "Tentu bisa, aku akan menjemputnya bersama dengan Unit Khusus Sarvest, mereka sudah tiba disini."


Unit Khusus itu adalah teman-teman Gita sebagai pasukan Khusus, mereka adalah orang-orang kuat.


Melihat hal ini, Yang mulia raja nampak bisa tenang, namun itu adalah bagian rencana Rafale.


"Ding-Dong ... "


click !


DUARRRR !!


Ledakan bom yang dahsyat menghancurkan bagian dalam markas militer.


Dari kejauhan Rafale berdiri dari atas gedung tinggi memperhatikan Markas Militer yang terlihat sangatlah sulit ditembus itu.


"Kalian pikir tempat itu sangatlah aman? yah ... memang benar, namun itu karena Barrier buatan dari Kakek dan sekarang ia telah mati.


Dan Raja, kau harus menanggung semua amarahku, dendamku, dan segala dosa-dosamu! kau membunuh seluruh keluargaku, sahabatku, dan kerabat-kerabat yang aku kenal!"


Sementara itu di dalam Markas besar militer, Ratu terluka parah akibat ledakan tersebut.


"******* sudah sampai disini?!" tukas sang Raja terkejut setengah mati.


Para Jendral lainnya juga sama terkejutnya ditambah, seluruh unit khusus yang dibawa Jendral Ozin pun tewas semua.


"Bom macam apa itu? bagaimana bisa membunuh para Unit Khusus?!"


Barrier pelindung Markas Besar sudah hancur separuhnya, bahkan barrier yang bisa menahan 1 Juta Nuklir ini rusak hanya dengan satu buah bom.


Bagaimana mungkin. namun itulah yang terjadi.


"aku sudah mendengar saat-saat dimana Sarvest berada dalam genggaman tanganku."


Rafale menghirup udara kemengan disekitarnya, angin kencang membuatnya betul-betul bersemangat.


Tak butuh waktu lama, akhirnya seluruh pasukan Rafale sudah berada di belakangnya dan siap menerima perintah.


"Tuan, Pasukan kita sudah berkumpul. hampir di seluruh penjuru Negara para penduduknya telah dibantai.


Sekarangkah waktunya kita membunuh Raja Bumi Sarvest?"


Rafale mengangguk. "Raja itu dipilih berdasarkan popularitas, aku sudah mengecek biodata dirinya. seorang pengusaha kecil yang memiliki koneksi kemudian mendapat jackpot menjadi seorang Raja.


Arti dari semua perkataan Rafale dapat disimpulkan bahwa Raja ini tidak sehebat sebutan yang disandang olehnya.


"Meyden, apakah kamu tahu mengapa pada akhirnya Jendral Castro yang seorang Edgard bisa menjadi Jendral?"


Meyden menggelengkan kepalanya. "Pelayan yang rendah ini tidak tau Tuan."


"Itu semua karena untuk mencegah kejadian Yuto sang Iblis, kemampuan yang sanggup menyetarai eksistensi orang itu hanyalah darah Edgard."


Meyden mendapatkan sebuah pengetahuan yang luar biasa dari Rafale. "Apakah artinya, Castro Edgard adalah Orang terkuat di bangsa Sarvest?"


"Benar, kamu begitu cerdas. hanya saja, dia pasti mati di medan perang," ungkap Rafale dengan yakin.


Kemudian Rafale memerintahkan pasukannya untuk bergerak menyerbu markas besar militer.


Pertarungan sengit terjadi, para Jendral besar berusaha untuk melindungi Keluarga kerajaan dengan sekuat tenaga hanya dengan 2 Jendral.


"Beraninya kalian para penjahat!"


Jendral Figo memiliki kekuatan tangan yang luar biasa hebat, bahkan pukulannya mampu menghancurkan berbagai senjata yang mengarah pada dirinya.


Bagai kilat ia menghajar para ******* itu dari satu ke yang lain dengan begitu cepat.


"kuh! mereka tak ada habisnya!"


Pasukan militer juga ikut membantu dalam pertempuran ini, dan kedua belah pihak mengalami kerusakan yang sama.


Terlihat dengan jelas Jendral Figo yang mengalami luka parah di sekujur tubuhnya, darah mengucur deras dari tubuhnya yang seharusnya sangat sulit untuk ditembus oleh besi sekalipun.


"ukh ..."


Pertarungan berlangsung cukup lama, dan kekalahan bagi pasukan militer Sarvest karena kewalahan melawan banyaknya pasukan Rafale.


Mayat-mayat pasukan dari kedua belah pihak bergelimpangan begitu saja di lantai, seolah tak berharga.


Jendral Ozin tergeletak tak berdaya setelah menrima banyaknya tusukan dan AO Skill yang mengarah pada dirinya dan menghancurkan nya.


"Fuh ... bahkan seorang Jendral Besar sekalipun tidak bisa menghentikan nya, baiklah ini waktunya aku turun."


Seperti sebuah kapas, tanpa ragu Rafale melompat ke bawah dari atas gedung yang begitu tinggi. dan setelah ia berhasil mendarat, Rafale dalam sekejap melesat dari jarak 2 Kilometer kemudian langsung mencekik sang Raja.


grep!


"Tak kusangka, semudah ini rupanya membunuh dirimu hey raja bodoh." Rafale menatap tajam kearah wajah Raja.


Sang Raja berbalik mentap Rafale dengan begitu terkejut, tak ia sangka dalang dari kudeta ini adalah perbuatan Rafale. "ekkhh!! ka-kau! Rafale!?"


Rafale kemudian menghantamkan kepala sang raja ke tanah secara brutal hingga membuatnya kehilangan nyawanya.


Menyadari Raja Sarvest sudah mati, Rafale melemparnya ke tumpukan mayat.


Kudeta Sore hari itu telah berhasil dilakukan,


"Kudeta sudah berhasil kulakukan, tujuanku telah tercapai, ini saat nya aku memenuhi janji ku padamu Rafale."


^^^Bersambung....^^^