
Ah... nampaknya aku sedang berada di dalam kamarku. suhu tubuhku terasa panas.
Ketika aku melirikkan mataku kulihat Mamaku sedang tertidur disampingku, aku bertanya-tanya pada diriku apa yang terjadi tadi?.
Setelah kucoba mengingat-ingat nampaknya aku sebelumnya kehilangan kesadaran karena kepalaku sangat sakit.
"kurasa kepalaku sangat sakit sebelumnya..."
Seseorang masuk kedalam kamarku, itu adalah Ayahku, begitu ia melihat diriku sudah siuman ia langsung memeluk diriku.
"Syukurlah kamu baik-baik saja..." (Castro)
Mama pun ikut terbangun dari tidurnya kemudian juga memelukku, mereka berdua meminta maaf karena bertengkar di depanku.
Mereka menyalahkan diri mereka sendiri, kurasa kepalaku sakit karena sesuatu dan bukan disebabkan karena terlalu banyak beban pikiran.
Yah aku tak begitu peduli akan tetapi kini wajah Castro kembali serius, "Rayk... apa kamu tertarik menjadi lebih kuat?, jujur saja karena kamu tidak memiliki inti AO kamu yang saat ini bukanlah seseorang yang berharga."
Apa yang mau dikatakan orang ini sebenarnya? mengapa ia begitu bertele-tele?, langsung saja keintinya brengsek.
"Ayah akan mencarikan Guru untuk menata AO milikmu, ayah yakin kamu pasti sudah tahu apa itu AO"
Aku mengangguk paham, aku tak mau memberitahukan rahasiaku yang memiliki 3 AO karena AO itu adalah sebuah inti yang mirip Identitas bahkan orang yang mati akan tetap membawa AO nya.
dan jika AO milik seseorang hancur tidak heran apabila mereka akan kehilangan akal, kehilangan kekuatannya bahkan kehilangan nyawanya.
Juga seseorang hanya memiliki 1 AO sepanjang hidupnya apabila ia memiliki lebih dari 1 AO maka dapat dipastikan ia adalah seorang yang bereinkarnasi dan membawa AO dari kebidupan sebelumnya.
Aku tak boleh membiarkan rahasiaku ketahuan. memang jumlah AO seseorang tak dapat diketahui oleh orang lain akan tetapi karena AO Kuze Yuto tak terkendali maka mau tak mau aku menyegel seluruh AO ku.
Aku berani menjamin 1 hal, bahkan seorang guru terhebat tak akan berguna untuk diriku, akan tetapi tak buruk juga apabila ada kemungkinan aku berhasil mengendalikan AO milikku.
"Jadi bagaimana Rayk apakah kamu setuju?". (Castro)
"eh??" (Rayk)
"ah sial, nampaknya aku terlalu lama melamun" batinku.
"ah... tidak begitu tertarik, melihat Kakak saja sudah cukup", aku hanya asal bicara saja, tetapi nampaknya Castro dan Lilith terkejut mendengarnya.
Ayahku menghela nafas, "ayah akan berhenti membujukmu apabila kamu bisa melakukan hal yang ayah minta. tunggulah dalam 3 hari", kemudian ia langsung pergi begitu saja.
Kemudian Lilith langsung memelukku, "Syukurlah..." kemudian Lilith bertanya padaku dengan nada lembut.
"Rayk mau mama temani tidurnya?" sambil tersenyum.
"lakukan sesuka mama" balasku singkat.
________________.
Waktu berjalan begitu cepat, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 3 Sore, aku pergi keluar rumah untuk menghirup udara segar sambil melihat-lihat area sekitar.
"sudah kuduga aku tak merasa lebih baik sedikitpun, itukah Bumi Peako? itu nampak dari sini. jadi memang ada Another Earth ya... tapi kurasa saat 5 Tahun yang lalu hal ini tak pernah ada, kurasa sudah terlalu banyak kekacauan yang terjadi."
Aku melamun cukup lama, darimana Bumi Peako berasal, bagaimana caranya ia bisa disini, apakah ada bumi lain selain bumi Peako dan Bumi ini dan siapa yang menamai Bumi Peako dengan nama itu?
_______________.
3 Hari kemudian Ayah membawaku kesuatu tempat, kami berempat pergi mengendarai mobil, aku tak tahu ia ingin membawaku kemana tapi yang jelas nampaknya ini sesuatu yang merepotkan karena eksperesi Gita yang lebih gusar dari biasanya.
Setelah sampai tujuan Castro membawa Gita dan aku langsung masuk ke sebuah gedung besar.
"hmmm... nampaknya ini markas besar. apa yang mau Castro lakukan padaku?"
Di dalam Castro sempat berbincang-bincang sebentar dengan kenalannya, kemudian kami pergi ke sebuah ruangan khusus. dan ternyata disana ada wajah yang pernah kukenal.
nampaknya para Jendral Besar itu juga membawa Cucu mereka karena disana ada Rafale, ia adalah orang yang membunuh Yuto.
"BAIKLAH. KARENA SEMUANYA SUDAH BERKUMPUL DISINI, MAKA PEMILIHAN WAJAH BARU AKAN DISELENGGARAKAN SAAT INI JUGA" ujar Jendral Besar Kabura dengan lantang.
Aku sekarang paham situasinya, jadi kami akan diadu disini, entah kami akan bertarung secara Battle Royale atau Cup aku belum tahu.
Jendral Besar Kabura kemudian menjelaskan cara pemilihannya, "PEMILIHAN AKAN DILAKUKAN SECARA LANGSUNG, PERATURANNYA SEDERHANA KALIAN HANYA PERLU MEMBURU SANG RAJA DALAM PERTEMPURAN INI.
SANG RAJA AKAN DIDAMPINGI OLEH 1 PENGAWAL, MAKANYA KALIAN SEMUA KESINI BERSAMA 2 ORANG, dan juga TAK BOLEH SAMPAI MEMBUNUH." tukasnya dengan nada lantang.
Setelah semua peserta dirasa paham, Jendral Kabura memerintahkan mereka untuk menunggu, karena Peserta yang akan menjadi Raja akan dipilih secara acak dan sisanya akan menjadi Hunter yang memburu sang Raja.
aku mulai menganalisa keadaan saat ini. saat ini ada 5 Team yang berjumlah 10 orang, jika dikurangi oleh Team yang menjadi Raja maka ada 8 Orang yang menjadi Hunter.
"ada yang salah..." gumam ku.
"Baiklah! Team yang menjadi Rajanya adalah Team 3 yaitu Team Dazel !"
"oohh... artinya kami menjadi Hunternya? bukankah ini terlalu mudah? langsung saja keroyok rajanya" saat itu aku tak tahu apapun.
Ketika aku percaya diri kalau setidaknya rajanya langsung mati, perkiraanku salah.
Jendral Kabura membuat sebuah Dimensi pemisah yang membentuk sebuah Hutan yang luas, dan kami semua dipencar kecuali rekan satu team.
Gita melihat kesana kemari dengan seksama, ia benar-benar tak memperdulikanku.
"Rayk." (Gita)
Sontak aku menoleh kearah Gita kemudian bertanya "ada apa kak?"
"pergilah dan lambaikan tangan kearah pohon disana. maka kamu akan dijemput dan aman, Pemilihan ini terlalu sulit dan sembrono, bisa saja kamu mati disini"
Yah... aku tahu maksud dari perkataannya, ia hanya mau bilang kalau aku disini hanya akan membebaninya bukan.
"ah... baiklah kak" dan tepat ketika aku mau pergi kearah pohon yang ingin kutuju, seseorang menyerang diriku.
akan tetapi Gita menyadari itu dengan cepat "!!"
bats.. dengan cepat pula Gita menggendongku menjauh dari serangan tadi.
"FIUH... Gita Edgard memang luar biasa, tapi kamu akan mati disini." (Ian) dengan nada sombong.
"sejak awal aku sudah menduga kalau ada sesuatu yang tak beres dalam pemilihan ini. tidak hanya 1 dua alasan yang mencurigakan akan tetapi ada banyak yang mencurigakan disini.
sejak awal pemilihan tak mungkin semudah membunuh Rajanya kemudian menjadi wajah baru, apalagi ada 4 Hunter yang memburu Rajanya." (Gita)
Ian menyeringai, "analisa yang bagus, akan tetapi meskipun kamu sudah mengetahuinya apa yang bisa kamu lakukan memangnya?"
kemudian 3 Team lain muncul, rupanya mereka semua sudah bersekongkol untuk menghancurkan Gita terlebih dahulu.
Dazel yang menjadi Rajanya kemudian muncul, "Halo... Gita, bagaimana pendapatmu tentang hal ini? kami ber 8 sudah siap untuk membunuhmu." (Dazel)
'jadi inilah alasan Gita menyuruhku untuk keluar Arena, apakah Gita berencana akan melawan 8 Orang sendirian?
pantas saja dari tadi ada yang menggangguku rupanya hal ini, karena tak ada aturan untuk melarang untuk melakukan teaming, pada akhirnya mereka kemudian memanfaatkan hal ini.
akan tetapi, bukankah hal ini akan merugikan pihak Hunter dan malah menguntungkan Rajanya?
yah... lagipula si Bangsat Kabura itu memang licik, dia tak memberitahukan limit waktu pertarungan ini, Teaming, artinya sudah jelas segala hal sudah di setting.' batinku dalam hati dengan segala dugaanku.
^^^Bersambung....^^^