Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Vol 3. Chapter 22



udara yang dingin membuat sore hari makin menyebalkan. seperti itulah yang dipikirkan oleh seorang anak laki-laki berumur 9 Tahun ini. ia bernama Hajun Alz Edgard anak ketiga dari Castro dan Lilith.


Hajun duduk dibangku taman menyendiri sambil memegang botol air putih, ia mengenakan seragam sekolah sambil meletakkan tasnya di sampingnya, Hajun memandangi daerah damai ini.


luka di pipinya menunjukkan Hajun habis berkelahi entah dengan siapa, "aku sangat lelah dengan Keluarga." gumam Hajun tertunduk sambil menutupi kepalanya dengan tangan.


Hajun mengingat bagaimana ekspresi kakaknya yaitu Gita memandanginya di ruang bimbingan konserling, pandangan merendahkan dan malu dari seorang Ketua Osis terhadap adiknya sendiri.


Hajun juga kembali mengingat bagaimana Kakak laki-lakinya yaitu Rayk yang hanya melihatinya berkelahi dengan murid-murid dari sekolah lain, meskipun jelas-jelas Rayk melihat adiknya dikeroyok.


dari 3 bersaudara Hajun lah yang paling tak diperhatikan oleh keluarga, tak diharapkan ada, hidup dibawah tekanan membuat Hajun menjadi seorang pendiam. ada begitu banyak masalah yang menimpa dirinya namun ia tak pernah bercerita kepada orang dirumah.


Lilith hanya memperdulikan Rayk dan Gita karena masa depan mereka sudah jelas tidak seperti Hajun yang pembangkang, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Lilith dan Castro.


...----------------...


9 Tahun lalu Rayk ditemukan oleh Castro di Portal penghubung Bumi, Bumi Peako mengembalikan Rayk guna menghindari perang dan mengatakan bahwa pasukan penyusup itu tak ada kaitannya dengan Kemiliteran Bumi Peako.


pihak Bumi Peako mengatakan bahwa itu adalah ulah ******* daru Bumi Peako yang berusaha mengadu domba kedua belah pihak, dan tanpa menaruh rasa curiga Castro mengambil Rayk yang sangat lemah itu untuk diberikan perawatan.


...----------------...


"ah... airnya habis." gumam Castro sambil mengangkat botolnya keatas. sore hari itu makin gelap namun Hajun tetap duduk diam sampai akhirnya seseorang menghampiri dirinya.


orang itu berjalan dengan sangat cepat kearah Hajun dan ketika tiba dihadapan Hajun ia langsung melayangkan tangannya menampar pipi Hajun. Plak!


itu adalah Gita, dengan ekspresi marah ia langsung menarik tangan Hajun dan membawanya pulang. disepanjang jalan Hajun dicaci maki oleh Gita, "apakah 1 hari saja kamu tak bisa tidak membuat onar? Hajun. keluarga kita itu keluarga terpandang, mengapa kamu selalu saja membuat keluarga kita malu?"


Hajun menarik tangannya dari genggaman Gita, "lepaskan sialan!" kemudian Hajun berhenti berjalan, dengan mata berkaca-kaca Hajun berbicara "kau tahu sialan .... aku tak pernah mencari masalah dengan sekolah lain, merekalah yang meneriaki diriku, apa kamu mau menerima alasan itu? aku lelah BRENGSEK! KELUARGA SIALAN, AKU TAK MINTA DILAHIRKAN DIKELUARGA YANG SEPERTI ITU!" teriak Hajun.


namun tamparan Gita langsung mendarat lagi di pipinya bahkan membuat Hajun jatuh tersungkur. Hajun hanya diam menundukkan kepalanya "Hajun dengarkan aku baik-baik, ikuti saja jejak Kakakmu Rayk yang jadi anak penurut. kamu tak dituntut jadi kuat mengapa kamu harus menonjolkan dirimu seperti itu.


tak ada orang yang akan segan dengan kelakuanmu yang konyol. Ayo pulang akan kuperlihatkan kekuatan sebenarnya jika itu yang kamu cari."


mereka berdua pun pulang ke kediaman Edgard, kemudian Gita mengajak Hajun ke ruang latihan pribadi miliknya. Gita berjalan kearah Hajun kemudian bertanya padanya "dengar Hajun aku tak pernah pelit soal kekuatan. katakan kekuatan seperti apa yang ingin kau miliki, maka akan kuajarkan padamu."


Hajun menatap wajah Gita yang terlihat serius. Hajun mengamati ruang latihan itu kemudian berjalan kearah bagian senjata "Kakak aku tertarik dengan 2 pisau ini."


Gita mengangguk kemudian bertanya pada Hajun alasannya memilih 2 pisau itu "mengapa kamu memilih 2 Pisau seperti itu?"


Gita tersenyum mendengar jawaban Hajun kemudian berbalik dan menyuruh Hajun mengikutinya "ikuti aku." Hajun pun mengintili Gita.


Gita menuju ke suatu ruangan yang menyimpan sebuah senjata khusus. Gita membuka sebuah lemari yang ada disana kemudian mengambil kotak yang ada di dalamnya "ambil ini." Gita menyodorkan kotak hitam itu pada Hajun.


"dengarkan aku. di dalamnya ada sebuah Dagger, aku pikir kamu tertarik dengan senjata yang jenisnya seperti itu."


Hajun mengangguk kemudian meletakkan kotak itu di lantai dan membuka kotak tersebut, dan seperti yang dikatakan oleh Gita di dalam kotak itu ada sebuah pisau Dagger yang ukurannya cukup besar.


"Keren..." ucap Hajun kagum sambil memandangi Dagger itu dengan tatapan kagumnya.


namun Gita langsung mengambil 2 bilah Dagger itu dari tangan Hajun, "sudah, sudah. jika kamu ingin ini maka kamu harus rajin berlatih, dan berjanjilah untuk tidak membuat masalah lagi dimanapun yang bisa menyebabkan nama Keluarga kita jadi jelek."


mendengar syarat yang dikatakan oleh Gita, Hajun pun setuju. "Baiklah." ucap Hajun sambil mengangguk paham. "jadi kapan aku akan berlatih?" tanya Hajun.


Gita melihat jadwalnya dan mengamatinya untuk mencari jadwal kosongnya "emm... hari sabtu adalah jadwalnya. aku berlatih Dagger hari itu, maka aku bisa melatihmu juga pada hari itu. dan jika kamu ingin datang kesini untuk berlatih sendiri juga tak masalah."


Hajun menyetujuinya juga dan latihan hari pertamanya dengan Gita dimulai. "ini hanya pengenalan dan kamu belum menguasai satupun senjata bukan?


maka aku akan mengajarimu dasarnya." ucap Gita bersemangat.


latihan dimulai dengan pengukuran Gita tentang stamina Hajun, setelah dapat hasilnya berikutnya pengukuran kecepatan Hajun dan seterusnya seperti daya tahan tubuh, kesadaran, keseimbangan.


semuanya Gita catat dengan runtut di buku yang ia buat Khusus untuk adik bungsunya Hajun, "Hajun. lihat ini kecepatanmu memenuhi kriteria namun keseimbangan dan daya tahan tubuhmu sangat rendah. mungkin untuk seorang assasin daya tahan yang besar memang tak diperlukan namun keseimbanganmu perlu memenuhi kriteria kalau kamu tidak mau hanya menyerang sebentar dan akhirnya seranganmu terus meleset." Gita berbicara dengan Hajun sambil mengamati Data-data yang ia tulis.


"Baiklah, latihan hari ini cukup sampai disini saja. karena waktu juga sudah malam, lebih baik kamu beristirahat karena besok juga sudah sekolah. dan juga jangan lupa persyaratannya."


Hajun mengangguk "iya kak, aku berjanji tak akan membuat onar lagi." kemudian Hajun pergi dari ruang latihan dan pergi menuju kamar tidurnya.


namun Hajun tak tidur melainkan berdiri di dekat jendelanya mengamati keadaan sunyi di malam hari. 'Ayah dan Ibu tak ada di Rumah ... mereka sibuk bekerja, aku tak akan membuat onar lagi, jika anak anak dari sekolah Gundang mencari masalah denganku aku tak akan menanggapi mereka.' ucap Hajun berjanji dalam hatinya.


...----------------...


namun ini semua adalah permulaan dari sebuah bencana yang akan merenggut banyak nyawa nantinya, bencana ini tak akan memilih-milih korbannya.


bencana yang tak bisa dihentikan oleh umat Manusia. "Pecahnya Dimensi, dan datangnya banyak Monster ke berbagai Bumi dan berbagai Alam Semesta, dan salah satu korbannya ialah Hajun Alz Edgard.


^^^Bersambung....^^^