
Pangeran Kedua berjalan keluar dari pintu rumah sakit, kemudian menghampiri tepi jurang dan melirik kebawah.
"Oh... sepertinya ini sudah siap," ucapnya sambil tersenyum.
Pangeran Kedua menjentikkan jarinya lalu berkata dengan lantang, "Ayo semuanya bersiap!"
Sontak, para monster yang ada di bawah mengadahkan kepalanya keatas dan melihat pemimpin mereka sudah datang.
Seakan bersorak-sorak, mereka semua beramai-ramai terbang ataupun melompat, dan memanjat ke atas.
"Alam Manusia akan berakhir disini! Hahahaha!"
Akan tetapi Hajun melompat dari atas jendela di lantai 3 kemudian langsung menyerang pangeran kedua.
Hajun dengan ekpresi geram berkata, "Iblis sepertimu, akan kubunuh!"
ctang!
Seketika dagger Hajun yang mengarah pada pangeran kedua ditangkis oleh seorang monster. "Beraninya kamu mengarahkan senjatamu pada pangeran kedua!" tegasnya marah.
Hajun langsung mundur dan mengambil jarak untuk bersiap menyerang kembali.
Akan tetapi pangeran kedua tiba-tiba tertawa keras, kemudian bertanya pada Hajun, "Hahahaha ... astaga, hei manusia siapa nama mu?"
Hajun menatap dengan tatapan waspada. "Namaku Hajun," ucap Hajun dengan nada dingin.
"Hem ... baiklah kalau begitu, perkenalkan namaku adalah Edra, aku merupakan seorang Pangeran kedua dari Kerajaan Vatheros dari Alam Semesta Qyuzeq," ujar Edra sang Pangeran kedua memperkenalkan dirinya.
Mendengar hal yang dikatakan oleh Edra, sontak membuat Hajun menjadi kebingungan. 'a-apa maksudnya Alam Semesta Qyuzeq? apa yang ia maksud itu Alam semesta lain dan bukan Alam semesta dimana manusia berada?' Hajun menjadi bingung, akan tetapi Kapten Pablo datang kemudian langsung melancarkan serangannya dan menarik Hajun.
Duarr ! Ledakan hebat terjadi, dan membuat guncangan kembali yang membuat Rumah Sakit tempat mereka berdiri jadi semakin hampir ambruk.
Setelah berhasil mundur dari ledakan, Edra melirik kearah belakang, disana adalah jalan menuju Kota para manusia berada.
Tanpa berlama-lama Edra langsung memerintahkan pasukannya untuk pergi menyebrang kesana.
"Kalian, menyebranglah kesana! kalian akan menemukan Kota dimana manusia berada," ucap Edra.
Edra kemudian melirik kearah Rumah sakit, seraya berkata, "Aku akan membunuh manusia kuat yang ada disini, feelingku mengatakan aku akan mendapat sebuah kepuasan yang sungguh luar biasa ketika aku membunuh mereka."
Kesungguhan, dan rasa percaya diri memenuhi hasrat Edra.
Dengan penuh rasa angkuh, berjalan mendekati Hajun dan Kapten Pablo.
Rasa kematian betul-betul tercium, terasa begitu mencekik begitu Edra mengumbarkan aura nya.
Tak berkedip sedikitpun. serangan cepat dan mematikan langsung mengenai target.
Senyum mematikan, menginjak-injak musuh yang terjatuh.
Hajun terguling jatuh, tendangan yang sangat keras layaknya menusuk membuat Hajun memuntahkan darah.
"ugghhh ..." Manusia hanya bisa meronta begitu menemui lawan yang kuat.
Kapten Pablo mencoba keberuntungannya, ia melayangkan pukulannya namun langsung ditangkis dengan mudah.
Akan tetapi, tidak mungkin menyerah sebelum menemui hasil.
Senyum terukir di wajah Edra, selayaknya kilat ia tiba-tiba bergerak maju dengan tangan kanan yang sudah menyerang ulu hati lawan.
Tawanya begitu asik "Kehahahaha!" Edra seakan-akan sudah menguasai pertarungan. akan tetapi, harapan masih ada.
Kapten Pablo yang terguling dengan luka yang parah kembali bangkit.
Dengan kaki gemetar karena terluka hebat, Hajun mencoba untuk berdiri. "Rasanya sangat sakit, dasar brengsek! dari tadi tertawa enak banget ya bangsat! sini kutarik lidahmu!" Hajun menegaskan sambil mengacungkan jari tengahnya.
Tertawa dengan kejadian yang dihadapkannya, Edra tertawa terbahak-bahak "Gyahahahahaha! Bagus, pertarungan seharusnya tidak boleh selesai dengan mudah."
Edra melesat meninju wajah Hajun, namun dengan kuat Hajun menghindarinya dengan menurunkan tubuhnya ke bawah.
Melihat celah di bawah kaki Edra, Hajun langsung mendorongnya dan membuat Edra jatuh ke bawah.
Namun shockwave yang tak disangka-sangka berhasil menerbangkan Hajun keatas dan mengoyak dirinya sendiri.
"Ghuakhh!"
Brukk !
Mata Hajun berkunang-kunang, darah membanjiri kepalanya tak terkontrol.
Mata sebelah kiri miliknya tak dapat dibuka, rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat Hajun kehilangan harapan.
Bangun, Bangun, Bangun, Bangun dan bangun. hanya kesempatan itu yang bisa digumamkan otaknya.
Hajun diseret ke lantai 3 bersama dengan tubuh Kapten Pablo yang sudah kehilangan jiwa, ia gugur dalam pertempuran.
Diatas lantai 3 Hajun dilemparkan ke dalam persembunyian para orang-orang yang sedang bersembunyi.
Tawa jahat begitu terdengar menggema, obsesi teriakan begitu jelas muncul di wajah Edra.
Wajah ketakutan orang-orang melihat mayat Hajun serta Kapten Pablo membuat mereka kehilangan harapan.
Rasa takut, bahkan memohon selain kepada dewa telah mereka lakukan demi hanya menyelamatkan nyawa sendiri.
"Huk-huk ... t-tolong ampuni aku ..."
Tangisan para orang-orang menjijikan, Edra membunuh mereka semua dengan cara yang sadis.
Setelah mereka semua mati, Edra sebenarnya ingin langsung pergi untuk menyusul pasukannya, namun tanpa sengaja terdengar
suara gebrakan pintu.
Brak ! Brak ! Brak !
Edra tersenyum dan mendesah pelan. "hooh ... masih ada yang hidup disini." Perlahan-lahan Edra berjalan mendekati sumber suara.
Ketika sampai di ruangan sumber suara, Edra mengarahkan tangannya ke gagang pintu kamar tersebut.
Akan tetapi, sesuatu yang sangat cepat. layaknya kilat berlari bahkan tangan yang terpotong pun tak terasa.
Slassh...
Pergelangan tangan Edra terguling di lantai, siapa penyebabnya?
Hal yang tak bisa dipercaya oleh akal sehat, ini adalah hal yang gila. tapi Edra adalah orang yang sama gilanya.
Tak ada rasa, hanya tersenyum. Edra melirik ke kiri, seseorang yang sedang tertunduk dengan sebilah pisau pendek miliknya.
"Wah, dia sudah bangkit." Edra dengan penuh mengerikan.
[Kebangkitan (3)]
^^^Bersambung....^^^