Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 59: Masa lalu (1)



Perkumpulan para Reinkarnator dari berbagai bumi, mereka semua membicarakan soal Yuto yang mengincar mereka.


Suasana pembicaraan yang menegangkan, tidak dapat dipungkiri. rencana tersembunyi mereka telah ada yang mengendus nya.


"Ini terlalu tidak masuk akal! apakah mungkin jika si Rafale ini berkhianat?" [Barka, Lord Of Tyan Earth]


Seseorang menggelengkan kepalanya kemudian mulai mengutarakan pernyataan nya. "Itu tak mungkin, Rafale sendiri adalah orang yang pertama kali tau kalau kita adalah reinkarnator, selain itu ia juga tahu kalau kita adalah manusia bumi.


dan tujuan Utamanya sama dengan kita, yaitu menghabisi Bumi Sarvest." [Paste, Kanyah Earth]


Namun Whon tak sependapat dengan analogi yang diutarakan tadi. "Cuih! analogi yang penuh kecacatan! justru karna itulah Rafale berkemungkinan menjadi si pengkhianat, bagaimana ia bisa tahu coba tentang 7 Miliar manusia yang belum tentu kenal dengannya?" [Whon, The Great Demon King. Gama Earth]


Perdebatan yang makin memanas ini dihentikan oleh Suzaku yang dimana ia adalah seorang Raja Iblis.


"Hentikan dulu perdebatan yang menyalahkan Rafale. siapa nama orang itu? orang yang membunuh sekutu kita?" tanya Suzaku dengan wajah yang sangat serius.


Seseorang kemudian menyodorkan sebuah rekaman suara dari Nayon. "diam semuanya, akan kuputar nama pelaku yang terekam disini."


Ruangan seketika hening dan fokus pada rekaman tersebut.


"Hosh ... hoshhh ... i-ini Nayon, pelaku pembantaian yang dirumorkan hanya ada 2 orang, ini pesan terakhirku ... mereka sangat kuat, Yuto. ingatlah namanya." dalam rekaman suara, terdengar suara Nayon yang begitu lemah.


Dan akhirnya ketika semua orang tahu nama Yuto, mereka pun siap untuk memburu dirinya.


"Bagus, kita sudah mengetahui nama pelakunya. sudah saatnya kita kembali, dan mempersiapkan untuk menghadapi orang itu,"


tukas Whon yang sudah kesal. bahkan ia tak henti-hentinya membiarkan aura menakutkannya meluap-luap.


Suhu ruangan yang tadinya terasa sangat sengit kini sedikit lebih baik. namun terlihat di wajah Suzaku kalau ia terkejut bukan main ketika mendengar nama Yuto.


'Apa benar itu ... dia?'


Suzaku menggelengkan kepalanya. 'ah, mungkin hanya namanya saja yang sama,' batinnya di dalam hati.


[Evans, Hero Of Salvation. Porte Earth] "Dengar semuanya, ambil ini! ini adalah sebuah alarm yang ketika kalian tekan maka seluruh dewan pilar, akan terteleport otomatis ke Bumi kalian.


Gunakanlah ketika orang bernama Yuto ini datang menyerang, dan satu lagi. jangan sampai menekannya jika kalian tak dalam keadaan bahaya. atau kalian akan menanggung akibatnya."


Semuanya paham dengan hal ini, lalu mereka langsung pulang ke tempat mereka masing-masing.


Ruangan menjadi sepi dan hanya tersisa Evans dan juga Suzaku. Evans melirik kearah Suzaku yang terlihat tidak tenang.


"Ada apa? kau nampaknya terganggu dengan sesuatu," tanya Evans dengan nada datar kemudian menyeruput secangkir teh.


Suzaku tak menyadari kalau rapat sudah selesai beberapa saat sebelumnya karena terlelap dalam lamunan nya sendiri.


"ah, maaf aku hanya mengingat beberapa kenangan buruk ketika mendengar nama Yuto."


"Hmm? kenangan buruk, kau pernah mengenalnya?"


Suzaku menelan ludahnya sebisa mungkin kemudian berkata, "Aku akan menghentikannya sendirian! Target selanjutnya sudah pasti Bumi Azwen."


Evans tetap duduk dengan tenang melihat Suzaku yang terkesan menjadi belepotan, tidak seperti pembawaannya yang biasa.


"Kau nampak berbeda dari sebelum nya Suzaku. tidak biasanya kau menjadi gegabah seperti ini," ucap Evans dengan tatapan menyelidiki.


Meski begitu Evans langsung kembali tenang dan menyeruput teh nya dengan santai. "Aku tak tahu kenangan buruk apa yang kau lalui dengan orang bernama Yuto itu, hanya saja jangan gegabah ingin menangkapnya sendirian.


kita akan melakukan penyergapan, dan juga ... bukankah kebangkitan Dewi Elin, Dewi yang diramalkan itu akan segera dimulai?"


Suzaku sedikit tenang setelah mendengar beberapa nasihat dari Evans. ia pun ikut menyeruput teh nya yang belum habis.


sluurpp


...----------------...


"Argghh!"


Duash sebuah tendangan dengan telak mengenai wajah.


Dia menghajarku!


"Lari! basis Wendeth school nyerang woyy!"


Pertarungan yang sengit, namun ... apa-apaan wajahnya itu! bagaimana bisa ia bertarung sambil tersenyum!


Tanpa kusadari pertarungan kami berakhir. dan aku sudah tergeletak ditanah, belum lagi seluruh tubuhku terasa sakit semua.


"Hahaha ... liat nih, sekolah akademi begini doang, Yuto kau gila ya bisa membuat mereka lari tunggang langgang sendirian, Hahahaha!"


mereka menertawakan kami.


"Hei, hentikan itu ... tidak semua dari mereka itu pecundang, lihat ini."


Oh ... orang itu menunjuk ke arahku.


"Bajingan ini tidak sepenuhnya pengecut, dia bisa bermain seni beladiri ternyata. hahaha!"


"Ohhh... yang benar kau Yuto, dasar gila, apa dia tolol mau bertarung denganmu? paling tidak kalau mau membunuh mu ya menggunakan pistol lah. Hahaha!"


Mereka semua tertawa begitu kencang, namun, aku merasa sangat di hinakan. aku tak pernah lupa akan kejadian itu, dan tak berselang lama Wendeth School memiliki kekuasaan yang semakin meluas.


"Hei! Hei Suzaku, bangun!"


Evans mengguncang tubuh Suzaku agar dia terbangun dari tidurnya, sebab kekuatan sihir nya mulai tak terkendali dan hampir merusak ruangan.


Mata Suzaku terbelalak lebar dengan wajah yang penuh keringat dan pucat.


"Kau mimpi buruk? astaga, apa sebenarnya yang dilakukan Yuto padamu?"


"Ah ... maaf, aku akan segera pulang. terimakasih Evans."


Evans memandang Suzaku dengan penuh selidik. kelakuan Suzaku saat ini seperti orang bodoh, begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Evans.


...----------------...


"Hacchoo !! sial, siapa yang membicarakan diriku?"


Yuto mendengus. "brrr ... udara disini dingin banget, kau gak kedinginan nona rubah?"


goda Yuto modus.


Yurumi tak menghiraukan modus yang Yuto lakukan, ia pun kemudian berkata, "inikah pilihanmu?"


Yuto tersenyum sedikit kemudian mengangguk. "ya, paling tidak aku harus membiarkan mereka bermain dengan keluarganya terlebih dahulu," tukas Yuto.


Yurumi nampak tak mempersalahkan hal tersebut, hanya saja hal yang dilakukan Yuto benar-benar beresiko.


"Jangan khawatir seperti itu nona rubah ... lagipula, aku lebih kuat dari mereka semua."


Di puncak gunung es itu, Yuto memperhatikan sebuah kota besar yang terlihat sangat hangat. Namun ia tak ingin pergi ke sana untuk mencari reinkarnatornya.


"Ini merepotkan Yuto, kita masih harus menghabisi banyak reinkarnator lagi," ucap Yurumi agar Yuto bertindak cepat.


"Baiklah-baiklah! cih ... entah mengingatkanku pada siapa kau ini, sulit sekali menolak keinginannya."


Yuto berdiri kemudian menjulurkan telunjuknya kearah Kota besar tersebut. "Meteor." kala itu sebuah Meteor seukuran gunung datang dari lapisan-lapisan awan yang begitu tebal menuju kota.


"Reinkarnator itu pasti bergerak begitu menyadari getaran AO yang begitu besar dari atas langit."


Dan benar saja, apa yang dikatakan oleh Yuto, begitu merasakan getaran besar dari langit ia langsung melompat untuk menghancurkan Meteor besar tersebut dan melindungi Kota dengan sihir pelindung.


DUARRR!


Namun sayangnya ia tak berhasil menghancurkan meteor tersebut, dan hanya meminimalisir ledakannya.


Yuto terlihat tak antusias begitu mengetahui kalau reinkarnator ini tak dapat melakukan hal yang membuatnya kagum.


Sebuah kawah besar pun tercipta di samping kota, ledakan besar itu pula mengejutkan seluruh orang-orang, bahkan Kekaisaran yang melihat asap tebal dan merasakan getaran dahsyat dari kejauhan.


"Baiklah, ini akan selesai dengan cepat, jadi jangan cemberut gitu lah, nona rubah." Yuto tersenyum sambil melambaikan tangannya kemudian melompat turun dari atas gunung.


^^^Bersambung....^^^