
tatapan yang sangat Hajun benci setiap ia berada di sekolah selalu mengikutinya, "lihat itu si Hajun ... padahal Kakaknya Gita adalah Alumni sekolah yang paling disegani karena juga termasuk Ketua Osis."
Hajun yang dicemooh teman-temannya di Sekolah Dasar hanya jalan sambil menunduk, padahal Hajun berkelahi dengan Sekolah Gundang itu karena teman-temannya sering dipalaki dan dipukuli oleh anak-anak nakal dari Sekolah Gundang. namun mereka tidak tau kalau Hajun lah yang membuat mereka tidak dipukuli dan dipalaki oleh Sekolah Gundang.
Hajun berjalan sambil berkata dalam hati 'tidak boleh marah, tidak boleh marah, tidak boleh marah.' Hajun juga tidak tidur dikelas dan memperhatikan pelajaran yang diberikan gurunya dengan baik.
'ooohhh... ternyata mudah jika aku memperhatikan dengan benar.' ekspresi Hajun berseri-seri karena ia rupanya mampu menyelesaikan tugasnya, keturunan Edgard memang tak ada yang bodoh. mereka semua adalah orang jenius.
Hajun yang hari ini begitu bersemangat dan tak membuat masalah membuat Guru dan teman-teman lainnya keheranan 'eh... tumben Hajun tak melakukan hal konyol.' batin mereka semua dalam hati.
...----------------...
tak terasa waktu sekolah sudah habis. kini anak-anak sekolah sudah pergi pulang ke rumah masing-masing, "Hey Hajun!" seseorang meneriaki Hajun dari belakangnya, ia mengejar Hajun sambil lari-lari kecil. "ayu pulang bareng." ajaknya dengan nafas terengah-engah.
Pria dengan tinggi dan seragam sekolah yang sama dengan Hajun itu adalah teman Hajun bernama Sio, Sio adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Hajun karena menurut Sio Hajun itu anak yang baik meskipun dikucilkan oleh teman-teman lainnya, latar belakang Sio juga bukanlah orang sembarangan karena ia adalah kerabat jauh dari Keluarga Kerajaan.
"oh hei Sio ..." balas Hajun sambil tersenyum sedikit. Sio pun mengobrol dengan Hajun sambil berjalan "Kamu ternyata jenius Hajun. kamu bisa perkalian dan pengurangan untuk angka besar, namun mengapa kamu selama ini tidak pernah menunjukkan kepintaranmu Hajun?" tanya Sio keheranan.
Hajun hanya tertawa "hahaha-" namun Sio langsung memotong pembicaraan dan mengatakan "apakah kamu baik-baik saja Hajun?"
Hajun menghela nafasnya dan menggoncang tasnya keatas, "tenanglah... aku tak ada masalah hanya saja jika aku jadi anak penurut Kakak Gita akan memberiku hadiah." ucap Hajun tersenyum. "oooowh begitu rupanya..." ucap Sio mengangguk-angguk mengerti.
"yasudah ya kita berpisah disini rumah ku belok ke kanan soalnya. bye-bye Hajun." sambil melambaikan tangan.
Hajun melambaikan tangannya juga, kemudian Hajun tak langsung pulang kerumah tapi pergi ke supermarket untuk membeli air dingin terlebih dahulu karena haus dan rumahnya masih agak jauh.
setelah membeli minuman Hajun duduk di bangku rest area yang disediakan oleh Supermarket, "hah... panasnya..." sambil membuka botol minuman itu Hajun meletakkan tasnya dibawah meja,
lalu membuka Handphone genggam miliknya.
tak berselang beberapa lama seseorang datang menghampiri Hajun yang sedang duduk sambil asyik bermain dengan Handphonenya.
pria itu memanggil Hajun "Hey, bolehkah aku duduk disini?" tanya laki-laki itu lembut.
Hajun menatap orang itu, Pria itu berambut Hitam dengan paras yang tampan dengan kemeja berwarna putih serta celana panjang. Rayk mengangguk dan mempersilahkan orang itu duduk, Hajun mengamati Pria itu. menurut Rayk pria itu seumuran dengan Kakaknya Gita namun dimana kedua tangan miliknya pikir Hajun.
"Kak? sepertinya aku pernah bertemu denganmu.." ucap Hajun pelan karena ragu-ragu.
Pria itu menoleh kearah Hajun "hmm... sepertinya iya, kamu adiknya Gita bukan?" tanya pria itu balik.
"wah... kok Kakak tau? tapi nama kakak siapa?"
"namaku Rafale."
Hajun langsung teringat dengan seorang Pahlawan yang bernama Rafale "KAKAK ITU RAFALE YANG PAHLAWAN DI BUKU ITU YA?!" tanya Hajun dengan semangat, "a-ahahah...." Rafale hanya tertawa pelan sambil terheran-heran dengan semangat Hajun.
Hajun kembali duduk dan meminum air dari botolnya "apa yang Kakak lakukan disini?" tanya Hajun pada Rafale "aku sedang menunggu seseorang." jawab Rafale.
Rafale hanya tersenyum kemudian membatin dalam hati 'apakah anak itu yang setiap hari bertengkar dengan sekolah Gundang, ia nampak seperti anak baik.'
seseorang datang dari belakang Rafale kemudian bertanya "itukah anak yang sering bertengkar dengan anak Sekolah Gundang?"
Rafale mengangguk. "bukankah sudah cukup. apa yang mau kamu lakukan padanya memang? lagipula yang menghajar dirimu itu kan bukan dia melainkan Gita. jangan mencari alasan untuk kelemahan mu sendiri ... Dazel."
Dazel menggertakkan giginya dan menggenggam kepalan tangannya kuat-kuat "Rafale kau bajingan jangan memerintah diriku!"
Rafale melirik tajam kearah Dazel "memangnya kenapa kalau aku memerintah dirimu?" ucap Rafale dingin, "jangan karena dendam pada Gita kau melupakan kebaikan dari Kakaknya yang satu lagi."
Dazel mengernyitkan dahinya "apa maksudmu Rafale?!" tanyanya sinis. "apakah kamu masih ingat kejadian fatal 9 Tahun yang lalu, perebutan wajah baru? ... yang membuat diriku kehilangan kedua tanganku bukanlah Gita melainkan penyusup dari Bumi Peako.
kala itu kau tidak sadarkan diri karena kamu kalah melawan Gita, namun aku hampir membunuhnya dengan Ultimate AO Skill milikku. namun suatu hal yang diluar kendali kita, ada penyusup dari Bumi Peako yang menyerang dan akhirnya aku bertarung dengan mereka dan kehilangan tangan kanan dan kiriku."
mendengar hal tersebut dari Rafale terasa seperti karangan bagi Dazel "Itu mustahil! bagaimana bisa kamu mengarang sejauh itu Rafale?!" Dazel bersikeras menolak hal itu meskipun tak tahu hal yang sebenarnya terjadi.
"aku mengatakan kebenaran Dazel." ucap Rafale singkat.
"L-Lalu bagaimana kamu bisa menjelaskan kita semua bisa selamat? Jendral Guhi berkhianat bukan? seharusnya ia menahan para Jendral lainnya untuk menyelamatkan kita."
Rafale menghela nafas panjang "hah.... Rayk. dia yang menyelamatkan diriku dari kematian."
mendengar hal tak masuk akal lagi membuat Dazel tambah terkejut "Tak masuk akal... anak yang tak punya kekuatan dan menjadi beban Gita itu yang menyelamatkan mu? apalagi itu penyusup Bumi Peako yang lebih kuat darimu?!"
Rafale berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Dazel sambil berkata "terserah kau mau percaya atau tidak, tapi satu-satunya saksi mata pada kejadian itu adalah diriku."
Dazel mengepalkan tangannya kuat-kuat karena kesal dengan Rafale 'sial! sial! sial! sial! sial! kenapa Keluarga Kami selalu dipermalukan oleh Edgard bajingan itu!!' marah Dazel di dalam hatinya.
akhirnya Dazel pun pergi juga dari sana.
...----------------...
[Kediaman Edgard]
Ruang Latihan Pribadi Gita.
Hajun masuk kedalam sana untuk latihan, namun Gita tak ada disana. "eh? Kak Gita belum pulang ... apakah ia masih Kuliah ya?" gumam Hajun.
ia pun latihan sendiri, pertama Hajun melakukan pemanasan setelah itu melakukan lari bolak balik jarak dekat. setelah itu Hajun melatih AO Corenya.
"fuh.... fuh..." Hajun melakukan meditasi pembentukan AO Corenya yang memakan waktu 48 Menit. setelah selesai Hajun berdiri dan langsung keluar dari ruang latihan dan pergi ke kamar mandi untuk mandi "ah... sampai sekarang Kak Gita belum pulang juga."
^^^Bersambung....^^^