Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 53: VOL 3 (END)



Sore hari yang begitu tenang diiringi rintik-rintik hujan yang membasahi daratan.


Terlihat sekumpulan orang mengenakan pakaian serba hitam berkumpul di suatu makam.


Seorang perempuan berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Jelas sekali terpampang di wajahnya depresi berat yang dialaminya.


Disana ada juga seorang pria berumur 40 tahun lebih berdiri dengan wajah tanpa ekspresi juga, dan disampingnya ada seorang istrinya yang juga berdiri tanpa ekspresi.


Makhluk fana seperti manusia pasti akan mati, hal yang tak dapat dihindari oleh setiap manusia.


Namun dalam pemakaman ini tak boleh ada filosofi kehidupan, mereka yang kehilangan tak akan merasa lebih baik dengan kata-kata filosofi.


Terdiam dalam tangisannya, Gita tak dapat melakukan apa-apa lagi. Benar, lagi-lagi ia kehilangan adiknya.


Lilith menatap makam anak bungsunya, kata maaf kali ini sudah terlambat, "maafkan mama kurang memperhatikan dirimu ..."


Apa yang mampu diperbuat? dari sana nampak Rayya yang tak bisa henti-hentinya mengeluarkan air mata.


Penyesalan akan ia yang lebih memilih lari daripada membantu Hajun, seandainya ia tahu akan tragedi ini, pasti ia akan lebih memilih bersama Hajun saat itu.


Castro terdiam menundukkan kepalanya, wajahnya tak dapat dilihat sedang dalam ekspresi apa.


Rintik hujan mulai berhenti, orang-orang mulai pergi setelah datang ke makam Hajun.


Castro, Lilith dan Gita pun pulang menuju rumah.


...----------------...


[Kediaman Edgard]


Castro dan Lilith duduk di ruang tamu dalam keheningan, sementara Gita pergi masuk menuju kamarnya.


Lilith perlahan mulai berbicara. "Hei, apa yang salah?" Dengan mata berkaca-kaca Lilith menatap Castro.


"hikss... hikss.... mengapa ia harus pergi...."


Castro tak dapat mengatakan apapun, melihat tangisan istrinya itu ia hanya bisa memeluknya dengan erat.


Mereka sama-sama kehilangan. "ini terlalu tiba-tiba ..."


Jauh di lubuk hati Castro yang paling dalam sebuah kebencian dan amarah begitu memuncak.


Pertempuran akan segera dimulai, rapat Jendral Besar sudah mencapai titik dimana Sarvest akan bangkit kembali.


Castro akan diutus bersama dengan Jendral Ralf ke dalam Invasi Bumi Fasen.


Jendral Ralf merupakan Jendral baru yang direkomendasikan oleh Jendral Kabura, sebenarnya ia sudah lama di perhatikan kinerjanya dan berkat kinerjanya yang baik akhirnya ia menjadi seorang Jendral Besar.


"Jangan menangis lagi Lilith, aku pasti akan mencari pelaku yang membuat Hajun tewas."


termpampang wajah datar Castro yang tak berubah sedikitpun, namun aura membunuh yang luar biasa sedang sangat ditahan saat ini.


...----------------...


Sementara itu, Gita saat ini menundukkan kepalanya dan duduk bersender di dinding kamarnya.


Hening dan dingin, suasana malam yang sepi menjadi semakin sepi. hal yang paling disesali oleh dirinya adalah karena tidak bergerak lebih cepat.


"hiks..."


Tak ada hal lain, ia hanya menangis sepanjang malam.


...----------------...


Sementara itu ditempat lain, seorang pria tanpa kedua tangan duduk diatas kursi dengan posisi menyilang-kan kakinya.


"satu, dua... Dua sudah hilang, Sarvest tak akan bertahan lama. hem..." nampak sebuah senyum tipis terukir di wajah pria itu.


Siapakah orang ini?


Pria itu duduk bersender pada kursinya, kemudian kembali menggumam-kan sesuatu.


"Satu-satunya alasan Sarvest dapat bertahan hanya karena Keluarga Edgard. namun kini 2 Orang sudah tak ada disini, permainan yang menarik akan dimulai pada panggung meriah ini."


Rafale, niat licik apa yang sedang ia mainkan.


benar, sang pria misterius itu adalah Rafale.


Tak pernah terbayangkan bahwa ia adalah seorang pengkhianat. meskipun begitu, Rafale tak ada sangkut pautnya dengan kematian Hajun.


"Peperangan akan dimulai sebentar lagi. Jendral Castro jelas akan pergi ke medan perang ... baiklah kalau begitu ia akan menjadi target," ucap Rafale dengan senyum penuh misteri.


Rafale kemudian keluar dari ruangannya lalu menghampiri seorang maid yang melayaninya.


"Ya Tuan, saya akan mengirimkan Bunga sebagai bentuk bela sungkawa dari kita."


Wajah Rafale sedikit cemberut. "ehh ... Meyden kenapa kau langsung memustuskan nya, hemm ... baiklah sekalian hubungkan aku dengan Gita."


Gita yang sedang dalam kesedihan kemudian mendapatkan telefon dari Rafale yang membuat Handphone nya seketika berdering.


Ringg !! Ring !!! Ring !!


Gita melirik kearah smartphone genggam nya, awalnya ia menghiraukannya namun telfon itu tak berhenti berdering.


Dengan geram Gita meraih telefon miliknya kemudian menjawab panggilan itu.


"Yo—" belum sempat Rafale selesai menyapa Gita membalasnya dengan nada dingin.


"Berikan Lokasimu, aku akan datang kemudian langsung Membunuhmu Bangsat!"


Rafale tertawa kecil. "Wah... menakutkan," ledek nya.


"Teruskan saja bakatmu itu, kalau kau tidak sedang ingin membicarakan hal penting kucabut kepalamu," ucap Gita dengan penuh kebencian.


Namun Rafale mengatakan sesuatu. "Kasus kematian Hajun. datanglah ke Rumahku malam ini juga."


"Jangan bercanda, apa maksudmu?" balas Gita dengan penuh curiga.


Namun Rafale langsung menutup telfonnya.


Ini membuat Gita tak memiliki pilihan lain karena rasa penasarannya, bagaimanapun Rafale seolah seperti maha tahu, banyak data-data termasuk dokumen rahasia yang entah bagaimana ia miliki begitu saja.


Gita menghapus air matanya kemudian bergegas pergi keluar dari kamarnya.


Ia pun langsung pergi ke Kediaman Rafale dengan mengendarai mobilnya.


Sesampainya di kediaman Rafale, Gita langsung disambut oleh Meyden sang pelayan Rafale.


"Silahkan masuk nona, Tuan Rafale telah menunggu anda," ungkapnya sambil membungkuk dan memberikan jalan.


Gita perlahan masuk kedalam yang kemudian disambut oleh Rafale. "Ah ... kau sudah sampai. hmm ... Meyden bisakah kamu menyalakan Remote nya?"


Meyden kemudian menurutinya. "Baik Tuan."


Rafale tersenyum kemudian menyuruh Gita duduk disampingnya dan menonton Televisi tersebut.


"Sumpah, kubu—"


"SSHHH... tonton lah terlebih dahulu," ucap Rafale dengan pandangan terfokus ke televisinya.


Gita sedikit terkejut setelah memperhatikan apa yang ada di rekaman itu. "Cctv Rumah sakit?" gumam Gita.


Rafale mengangguk. " Ya, ini didapatkan dari Cctv rumah sakit yang ada di Lantai 3. Lihat itu, Hajun sedang bersama seseorang sedang mengobrol."


Namun ketika bagian Edra yang datang dan tiba-tiba menyerang Hajun dan Kapten Pablo seketika langsung dimatikan oleh Meyden.


"Hah?! apa maksudmu Rafale, cepat nyalakan televisinya kembali!" bentak Gita.


Namun Rafale kemudian memerintahkan Meyden untuk keluar. "Terimakasih Meyden, tolong ya jaga di luar."


Meyden membungkuk kemudian berjalan keluar, Gita tidak mengerti apa yang ingin diperbuat oleh Rafale.


"Apa yang mau kau lakukan brengsek!" ucap Gita makin geram.


Seketika itu juga Rafale berdiri dari kursinya kemudian mengatakan. "Ikuti aku."


Rafale berjalan kearah kamarnya sembari berkata, "Semua hal tak ada yang gratis, informasi yang kuberikan ini tidak dalam konsep yang vague atau meragukan.


Karena di dalam rekaman tersebut, wajah dari sang pelaku terlihat begitu jelas. nah, aku akan memberikanmu rekaman tersebut dengan syarat."


Gita mengernyitkan dahinya. "Syarat apa?"


Rafale tersenyum kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam. "Tidurlah denganku satu malam."


Gita terkejut mendengar syarat yang dikatakan Rafale dengan begitu tiba-tiba.


"Kau!"


Namun Rafale langsung mendorong tubuh Gita ke pintu dan mulai menciumi lehernya, Gita hanya diam dan wajahnya mulai memerah.


"Dasar Pria bejat!"


"Fufu ... lagipula kau tak ada pilihan."


^^^Bersambung....^^^