Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 37: Gerbang Kehancuran (1)



seorang anak laki-laki sedang duduk diatas sofa dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


"turnamen sudah dekat. ini adalah hasil jerih payahmu selama ini, jujur saja Ayah cukup puas dengan hasil seperti ini."


sorot mata itu sangat tajam, ia adalah Hajun. setelah melewati latihan bagai neraka ia kini telah menjadi seorang yang sangat kuat.


Hajun memang sudah melewati latihan yang sangat keras namun lawan-lawannya adalah orang-orang paling berbakat, apalagi mereka juga melakukan latihan keras untuk mempersiapkan diri dalam Turnamen tersebut.


mereka semua mengincar Juara Pertama, namun tidak dengan Hajun. semua latihan yang ia lakukan selama ini tidak untuk menjadi pemenang. tetapi itu semua ia lakukan hanya untuk Kepala Jayden.


"tak akan kulepaskan kali ini!" gumam Hajun dengan sorot mata dingin.


Hajun kemudian bersiap untuk pergi kembali ke Sekolahnya. dengan wajah dan aura yang berbeda dengan cepat ia menjadi pusat perhatian di sekolahnya.


perubahannya memiliki daya tarik tersendiri.


"wah ... Hajun menjadi lebih tampan."


berbagai macam pujian diucapkan oleh teman-temannya di Sekolah. baik itu perempuan maupun laki-laki.


"Gila! Hajun jadi keren abis!"


"Haha! itu benar, mungkin itu persiapan untuk Turnamen. semoga saja Sekolah kita bisa menang dan langsung jadi Juara."


suasana kelas Hajun cukup ramai, mereka semua membicarakan Hajun yang terlihat sangat siap untuk mengikuti Turnamen anatar Sekolah.


namun saat ini Hajun sedang duduk sendirian di dekat taman Sekolah. suasana yang cukup tenang yang dicari oleh Hajun.


"mereka sangat berisik." gumamnya.


seseorang kemudian menghampiri Hajun yang sedang duduk di Bangku taman Sekolah. ia adalah Rayya, seorang anak perempuan dari salah satu keluarga yang cukup berada.


Ayah Rayya bekerja sebagai seorang Bos di perusahaan rintisannya sendiri, sedangkan Ibunya adalah seorang Guru di Akademi Javen.


"Haloo Hajun." sapa Rayya dengan nada ramah.


Hajun melirik kearah Rayya dengan ekspresi malas "haloo.." balas Hajun sedikit enggan.


Rayya kemudian bertanya pada Hajun apakah ia boleh duduk disampingnya, Hajun menjawab "Terserah."


gadis cantik dengan bola mata cerah itu memperhatikan Hajun yang terlihat dingin. "Hajun, kenapa wajahmu selalu ditekuk?" tanya Rayya.


Hajun diam sejenak kemudian berkata "apakah terlihat begitu?" tanya Hajun. Rayya mengangguk polos kemudian ia bertanya kembali pada Hajun "Hajun, apakah kamu membenci kami? teman sekelas?"


Hajun menggelengkan kepalanya, ia tak tahu mau menjawab apa. namun Hajun sendiri kemudian berkata "aku tidak tahu, tapi ... entah mengapa aku merasa kurang nyaman bersama kalian. aku juga tidak pandai bergaul."


Rayya memperhatikan dengan baik ucapan Hajun, setelah Hajun selesai berbicara Rayya kemudian berkata "aku tau Hajun, kami terlihat memanfaatkan dirimu. namun percayalah kami tidak pernah membencimu, mungkin ini permintaan yang egois ... namun bisakah kamu membawakan kemenangan untuk Sekolah?"


Hajun mengacak-acak rambutnya. "itu hal yang sulit mungkin." Rayya tersenyum mendengar jawaban dari Hajun.


ia kemudian berdiri dari bangku "humm ... kalau begitu cobalah untuk tersenyum Hajun. cobalah untuk berteman dan jangan menekuk wajahmu terus, mungkin teman-teman menghindar karena kamu sendiri yang membatasi diri. dalam keadaan sulit ataupun kamu sedang bosan cobalah untuk tersenyum." ujar Rayya dengan senyum yang berbinar-binar.


Hajun mengangguk-angguk saja, kemudian Rayya pun pergi kembali kedalam kelas.


'tersenyum, ya? kira-kira sudah berapa lama aku tidak tersenyum? rasanya pipiku kaku.'


sedikit saran dari Rayya sedikit mengubah Hajun. namun Hajun langsung menepis saran itu jauh-jauh.


Hajun kembali kedalam kelas, namun kali ini dengan aura yang lebih mengancam seolah berkata jika mendekat maka akan mati. rasanya Aura Hajun benar-benar makin gelap.


semua orang di dalam kelas merasakan rasa takut yang luar biasa, mereka begitu was-was dengan aura yang berasal dari Hajun.


Rayya pun sampai ketakutan begitu melihat Hajun 'apa yang terjadi? Hajun memang terlihat berbahaya, namun sebelumnya aku bisa tahu ... dari cara berbicaranya ia orang yang hangat. mengapa ia menjadi lebih parah?!' Rayya nampak terkejut dengan Hajun.


...----------------...


Sementara itu saat ini Rayk dan Miracle sedang melakukan pengamatan pada target misi mereka.


"orang ini ... dia yang menjaga Portal Antar Dimensi."


Miracle mengangguk sambil berkata "memang benar, kita bisa menyerang dia namun, untuk pergi ke Luginous Realm atau Alam Dewa kita tak mungkin bisa menggunakan Portal antar Dimensi seperti itu.


alasannya sederhana, kita yang dari dimensi lebih rendah tidak mungkin bisa menghampiri Alam Dewa."


Rayk sedikit bingung "lalu? tidak mungkin tak ada cara bukan? bagaimana cara kita menggapai Luginous Realm?"


Miracle kemudian menjawab "kita perlu membuat keributan. kita akan memulai peperangan lagi dengan para Dewa di Alam Rafkel ini, kita akan bertarung di Universe Blaster.


sampai seorang Dewa turun ke Bumi ini maka Portal Dimensi Luginous Realm yang terhubung ke Rafkel Realm akan terbuka. maka disaat itulah kita akan bergerak menyusup kedalam Portal Dimensi itu."


"kalau begitu ayo bergerak untuk menghajar para Guardian brengsek itu!" ucap Rayk bersemangat.


Rayk dan Miracle pergi kearah Kavalen dan Aeden yang sedang berada di Kediaman Edgard.


ketika mereka berdua sudah menemukan Kavalen dan Aeden. Miracle memilih untuk menahan sebentar untuk memantau daerah sekitar sebelum memasang Dimensi Pemisah.


Kavalen dan Aeden menyadari kalau ada yang sedang memperhatikan mereka, Kavalen kemudian membisikkan sesuatu pada Aeden.


"ada yang mengawasi kita, apakah mereka adalah Monster yang kita cari?"


"tetap waspada Kav, kita tak tau kapan mereka akan mulai menyerang."


Kavalen dan Aeden berpura-pura masih mencari informasi seolah tidak menyadari Miracle dan Rayk.


namun tanpa sepengatahuan Miracle tiba-tiba Rayk sudah datang menghampiri Kavalen dan Aeden.


dengan senyum di wajahnya Rayk berbicara sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jas nya.


"Halo sialan."


menyadari Rayk yang tiba-tiba muncul tanpa disadari oleh Kavalen dan Aeden membuat mereka berdua terkejut bukan main .


"!?"


'aku bahkan tak menyadari kemunculannya?!'


Aeden sama terkejutnya namun ia langsung bergerak cepat menyerang Rayk.


sebuah tendangan keras dilayangkan kearah Rayk, DUASH! namun, tendangan itu berhasil ditangkis oleh Rayk dengan tangan kirinya.


Rayk menyeringai dengan mengerikan, sambil terus menggenggam kaki Aeden Rayk terkekeh dan berkata "Keke ... kalian tau ini hari apa? ini hari kalian akan mampus!" ucap Rayk dengan sorot mata yang mengerikan.


^^^Bersambung....^^^