
pikiran Hajun dipenuhi oleh hasrat ingin cepat-cepat menguasai teknik pertarungan yang diajarkan oleh Gita. ia bahkan latihan dikamarnya sendiri untuk memantapkan setiap gerakannya.
cara bertahan, cara menyerang, menghindar. 3 dasar pertarungan diajarkan pada Hajun dengan benar. Gita tak keras pada Hajun karena ia berpikir untuk anak seseorang yang seusia Hajun gerakan yang ia tampilkan adalah gerakan terbaik, meskipun jika dilihat secara biasa gerakan itu salah.
namun penilainya adalah Gita, yang jika terkait dengan latihan pasti akan mendasarinya dengan data-data yang akurat tentunya.
Gita mengamati data di papannya sambil melihat postur Hajun 'postur tangan Hajun di bagian tangan kirinya terlihat tidak bagus meskipun terlihat menekuk secara sempurna.'
Gita kemudian mencondongkannya tangan kiri Hajun 20 derajat bergeser ke kanan. "hmmm.... bagus."
Hajun heran dengan postur yang diarahkan oleh Gita dan membuatnya bertanya, "Kak? bukannya ini malah tidak lurus dan jauh berbeda dengan gerakan yang kakak tunjukan tadi?"
"sudah ikuti saja dengan benar." ucap Gita tak mau berdebat.
"baiklah." balas Hajun menurut.
hari demi hari, bulan demi bulan Hajun terus menerus mengasah tekniknya.
Hajun memutar-mutar pisau ditangannya kemudian bergerak secara tiba-tiba dengan cepat menyerang Gita dengan pisau terhunus.
bats!
swusshhh!
melihat serangan datang ke arahnya Gita menunduk batsss!! , kemudian dengan tangan kiri yang ditekuk Gita melakukan counter attack menyerang ulu hati Hajun dengan sikunya.
serangan yang cepat datang hampir di titik buta Hajun, tap! namun dengan tangan kirinya Hajun menahan serangan siku Gita dengan tangan kirinya.
namun Gita tanpa ampun. ia menggunakan AO Energy untuk membuat sebuah hempasan yang membuat Hajun jatuh terpental FWOSSHHH! "ARRGH." ringis Hajun.
Gita tertawa melihat adiknya yang jatuh "sudah, sana pergi tidur. istirahatlah dengan baik."
namun dengan wajah cemberut Hajun menggelengkan kepalanya "gak mau! berikan dulu hadiahnya." Gita tersenyum kemudian menghampiri Hajun kemudian mengelus kepalanya. "nanti pas Pulang sekolah Kakak kasih hadiahnya oke," ucap Gita dengan lembut.
Hajun mengangguk. "baiklah, kakak harus janji." Hajun pun langsung pergi ke Kamar tidurnya untuk beristirahat.
jantung Hajun berdegup kencang, ia tidak sabar menunggu esok hari setelah pulang sekolah. 'hihihi... selama 3 Bulan ini aku tak pernah membuat masalah sehingga kakak akhirnya memberikan hadiahnya.'
ketika Pagi hari tiba Hajun pun bersiap-siap untuk berangkat Sekolah, "Kakak aku pergi Sekolah." teriak Hajun dari luar rumah. Gita menyahutinya "IYA HATI-HATI!"
Hajun berlari dengan kencang menuju ke sekolahnya. ketika tiba disana Hajun diajak oleh teman sekelasnya untuk ke belakang sekolah. "Hajun ikut kami sebentar." Hajun yang terheran-heran pun mengikuti ajakan orang itu.
ketika mereka berdua sudah di belakang Sekolah, orang itu mengutarakan niatnya untuk memberitahukan Hajun sesuatu. "H-Hajun... anak Sekolah kita kembali dipalaki oleh Sekolah Gundang. mereka membawa Anak-Anak SMA yang membuat kami ketakutan, bantu kami Hajun kumohon."
Hajun nampak enggan, ketika Hajun menolong mereka dan bertengkar dengan Sekolah Gundang yang di tarik ke ruang konserling hanya Hajun, membuatnya menjadi terlihat konyol.
Bahkan ketika Hajun melakukan pembelaan dengan menunjukkan saksi yaitu anak-anak kelasnya tak ada satupun yang mau maju melindunginya.
"maaf... aku tak bisa lagi membantu kalian, Kakak ku bisa marah jika aku kembali bertengkar dengan orang."
Mendengar jawaban penolakan dari Hajun membuatnya terguncang. "l-lalu bagaimana uang kami?" Hajun membalikkan badannya dan pergi dari sana dan berkata "maafkan aku."
Setelah semua murid masuk kedalam kelas pelajaran pun dimulai, suasana kelas benar-benar canggung dengan Hajun. namun Hajun tak peduli karena yang harus ia dapatkan itu adalah hadiah dari Kakaknya. apalagi nanti Castro dan Lilith akan kembali ke rumah, jadi Hajun harus jadi anak yang baik.
Sio mengajak bicara Hajun. Sio kemudian membisikkan sesuatu. "Hajun apa kau sudah mendapatkan hadiah yang dijanjikan oleh Kakakmu?"
Hajun menggelengkan kepalanya. "belum, Kakak ku bilang akan diberikan saat sudah pulang sekolah, jadi hari ini pun aku harus jadi anak baik."
"wahhhhh... aku juga sudah minta Pedang yang bagus pada Ayahku."
"Benarkah?"
"hemm..."
"KALIAN ANAK-ANAK JANGAN MENGOBROL SENDIRI DIBELAKANG!" teriak Pak Guru.
mendengar omelan Pak Guru sontak membuat Hajun dan Sio terkejut dan kembali diam dan memperhatikan pembelajaran,
Pak Guru menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.
...----------------...
Namun siang hari ini begitu panas. terik matahari begitu bersinar, keringat mulai mengucur dari tubuh Hajun.
"Sio, hari ini panas sekali," oceh Hajun sambil mengebas-ngebaskan kerah bajunya. "kau benar... aku butuh air minum..." balas Sio dengan nada lemas karena haus.
"kalau begitu ayo kita pergi ke supermarket untuk membeli minum." ajak Hajun, kemudian Sio mengikutinya.
Ketika sampai di Supermarket Hajun merasakan seperti ada yang mengikutinya, pelatihan yang ia alami, membuat indranya terasa lebih tajam. 'seseorang mengikuti kami? siapa?' batin Hajun waspada.
Dazel melirik kearah mereka berdua 'Anak bernama Hajun itu bisa merasakan kehadiran diriku?' batinnya sambil bersembunyi.
"Hajun ayo kita beli es krim disana, panas-panas seperti ini sepertinya enak makan es krim."
namun Hajun langsung menarik tangan Sio kemudian membisikkan sesuatu, "kita harus cepat-cepat pergi Sio. ada yang tak beres disini."
Mereka berdua kemudian lari mencari jalan keluar dari Supermarket itu "ada apa sebenarnya Hajun?"
Hajun hanya diam, dan terus lari mencari jalan keluar. namun sebuah Kapak besar menyerang dari belakang mereka berdua SYUUU!
Hajun melirik cepat 'sial apa itu?' kemudian mereka berdua langsung menghindarinya dengan cepat. BRAKKK! Kapak itu menancap di Lantai dan membuatnya retak. "siapa kau?!" tanya Sio dengan sorot mata tajam.
kemudian munculah Dazel dan juga Jayden dari belakang Monster besar itu, suara tawa yang familiar di telinga Hajun terdengar.
"Hahahaha! kali ini kamu bakalan benar-benar mati Hajun! Kak Rafale bajingan itu tidak akan membantumu lagi."
Monster 1 Serang dia ucap Jayden menunjuk kearah Sio dan Hajun, Monster itu mengambil Kapak besar yang tertancap kemudian mengangkat Kapaknya.
Hajun dan Sio bersiap bertarung namun Sio menghentikan Hajun seraya berkata "Hajun kau tidak perlu bertarung kalau kau bertarung nanti Hadiah dari Kakakmu bisa tidak dikasih."
Jayden tertawa "HAHAHAH HADIAH? PANTAS SAJA KEMARIN KAU TIDAK MENYERANGKU... TERNYATA KARENA JANJI DENGAN KAKAK PEREMPUAN MU ITU."
Monster besar itu mengayunkan Kapaknya ke samping seperti memotong rumput, namun Sio menghentikan Kapak besar yang berayun kearahnya dengan tangan kanannya. DANG!!
"mustahil dia bisa menghentikan ayunan kuat dari Monster besar itu!" gumam Jayden panik dengan mata terbelalak.
Sama halnya dengan Jayden, Hajun juga terkejut mengetahui Sio yang rupanya sangat kuat. 'kau... ternyata kau hebat Sio...' batin Hajun kagum.
Kapak besar yang digenggam dengan tangan kanan Sio tiba-tiba retak KRAKK !! , Sio menekan Kapak besar itu dengan AO energy yang ia pusatkan ke tangan kanannya.
Melihat pengendalian AO energy yang hebat itu Dazel cukup kagum 'padahal ia seumuran dengan adikku tapi pengendalian AO nya betul-betul luar biasa.'
Dengan sorot mata tajam, Sio berkata, "jadi... siapa yang mengirim kalian kemari? apakah kalian sanggup menanggung konsekuensinya?"
Dazel melepas jaket yang ia kenakan kemudian meletakkannya dilantai. dan secara tiba-tiba dan cepat Dazel menyerang kearah Hajun yang sedang tidak dalam keadaan waspada.
'dia hilang?' batin Hajun terkejut, dan secara tiba-tiba Dazel sudah ada di hadapannya dengan Sabit panjang yang siap menebasnya.
Melihat Hajun diserang dengan spontan Sio langsung menghempaskan Monster besar tersebut, dan dengan cepat bergerak menuju Hajun yang ditargetkan oleh Dazel. "KAU BAJINGAN! HENTIKAN!"
[AO SKILL BLUE ROSE]
Sio menggunakan AO Skillnya yang membuatnya bergerak lebih cepat, dan ketika Sabit itu hampir mengenai Hajun. Sio langsung menangkisnya dengan pedangnya.
cting!
Sio menebaskan Pedangnya dengan cepat dan terus mendesak Dazel. 'apa-apaan ini? aku didesak oleh seorang anak kecil?!' batin Dazel tak terima.
Namun Dazel menggunakan kakinya, menendang Sio agar menjauh bukk! mendapati perlawanan itu Sio langsung dapat menahan tendangan Dazel dengan pedangnya.
"Hajun... pergilah biar aku yang urus disini, kamu berubah karena menjadi lebih baik karena hadiah itu kan? usahamu tak boleh berhenti diakhir jalan seperti ini," ucap Sio bijaksana.
Namun Hajun memegang pundak Sio, lalu mensejajarkan dirinya disamping Sio. "aku selalu berterimakasih padamu karena kau mau menjadi temanku. Hadiah? aku bisa berubah menjadi apapun demi Hadiah, namun aku adalah aku jika bersama dengan sahabat ku."
Sio tersenyum tipis dan menjawab dengan kalem "hmm.... ya."
...[ULTIMATE AO SKILL. GRIM REAPER]...
^^^Bersambung....^^^