
Trexiz berjalan menghampiri Vhersa yang sudah mati, "aku tau... pergilah dengan tenang."
kemudian ketika Trexiz ingin beranjak pergi medan area disekitarnya langsung di blokir dengan sihir ruang.
35 Pasukan Elite Bumi Sarvest mengelilinginya, "jadi ini musuhnya?"
"Laksamana Vhersa sampai mati begitu..."
masing masing dari mereka mengeluarkan AO Weaponnya, Trexiz berdiri dengan santai meskipun disekelilingnya ada banyak yang mengepung dirinya.
"kalian tau kan, tujuanku datang kesini?"
"ya." jawab salah satu dari mereka, Pasukan Elite Bumi Sarvest bukanlah seorang figuran belaka. mereka hanya satu tingkat dibawah Laksamana Vhersa dan saat ini ada 35 Orang yang mengepung Trexiz.
"wah... aku bisa mati nih." ledek Trexiz.
Paukan Elite itu langsung menyerbu Trexiz secara bersamaan, tebasan pedang dan serangan senjata mereka banyak ditepis dan dihindari oleh Trexiz.
DUAR! DUAR!!
"serangan bawah." Slash...
Trexiz dipojokkan, akan tetapi dengan AO Skillnya ia berhasil memperlambat serangan yang datang padanya. "ini tidak bagus.. dia punya skill untuk memanipulasi waktu."
Deo salah satu dari Pasukan Elite itu berlari dan melakukan tendangan dari bawah kearah perut Trexiz. dugh! Trexiz langsung menahannya menggunakan tangan kirinya.
Mata Trexiz melihat kesana kemari untuk menghindari serangan-serangan yang datang menuju dirinya, AO SKILL ULTIMATE BOOM!
DUAAARRRR !! ledakan dahsyat terjadi hingga menghancurkan area sekitarnya, namun Para Pasukan khusus itu masih bertahan.
mereka kemudian berkumpul kembali, "apakah dia sudah mati?"
salah satu dari mereka melihat Trexiz masih hidup kemudian berkata "tidak. dia masih hidup."
"begitu ya... nampaknya lawan kita kali ini bukanlah Makhluk biasa."
Trexiz muncul dari kerusakan, "kalian benar-benar sesuatu."
Bats... salah satu Pasukan Khusus itu langsung kembali menyerang Trexiz dengan sangat cepat. "itu benar. kami memang sesuatu jadi cepatlah mati."
ctang! cting! ctang! cting!
Trexiz dan ke 35 Orang pasukan Khusus itu bertarung dengan sengit, DUARR! DUAR!! DUAR!! "SERANG DENGAN ULTIMATE AO SKILL!!"
luka di lengan, luka di dada, luka di wajah. bahkan dari Pasukan Khusus sudah ada 2 yang tewas tetapi pertarungan belum berakhir.
[]
kemudian muncul sebuah Barrier yang menutupi seluruh bagian tubuh Trexiz.
"Barrier?"
kemudian salah satu dari Pasukan Khusus itu melemparkan sebuah batu kearah Trexiz, namun ketika batu itu mengenai Barriernya batu tersebut langsung lenyap.
mata mereka terbelalak semua terbelalak saking terkejutnya, "sebuah kekuatan penghapus eksistensi?"
"sepertinya bukan. nampaknya itu hanya bentuk menghancurkan."
Trexiz tertawa "hahaha.... kalian benar-benar Genius... pantas saja Bumi Sarvest sangat luar biasa sulit dikalahkan, kalian bahkan mengetes fungsi Barrier ku padahal jika salah satu dari kalian langsung menyerang diriku sudah jatuh 3 Korban."
"begitulah..." jawab salah satu pasukan Elite itu dengan santai.
...----------------...
"hey. kurasa, Trexiz terlalu banyak berbicara... bukannya dengan kekuatannya yang dapat memanipulasi waktu dia dapat dengan mudah WUZZHHH, menang dan langsung menghabisi para Pasukan Elite Sarvest?" ucap Rayk heran.
Lord Borezo menyeringai, "heh... apa kamu pikir manusia dulu itu lemah? 2 orang dari mereka setidaknya satu tingkat diatas Laksamana Vhersa. dan jika ada 35 Orang?
"eeeeh... begitu ya. jadi mereka dipanggil nomer 1 atau nomer 2 begitu?" tanya Rayk.
"ya. mirip seperti itu mereka dipanggil Alpha 1 sampai Alpha 34 karena ada 1 orang dari mereka yang memiliki nama. dan dia adalah pemimpin squad Pasukan Khusus itu."
...----------------...
"Pertarungan yang menengangkan. tidak kusangka kalian mampu mengimbangi diriku sedemikian rupa, namun... 34 Orang sudah mati. kira-kira apa yang mampu kamu lakukan untuk melawanku?"
ke 34 Pasukan Khusus telah terbunuh oleh Trexiz. kerusakan pertarungan mereka bahkan setara dengan separuh Bumi.
namun kini yang tersisa hanyalah Deo yang sedikit terluka. "kau tahu kenapa disini tak ada warga sipil sama sekali?" ucap Deo santai.
Trexiz menenglengkan kepalanya, "Hah? masalah itu aku sudah tau... kalian menggunakan sihir ruang untuk mengurungku kemudian melapisinya dengan sihir ilusi bukan? tapi sayang sekali aku tak mempan dengan sihir ilusi." ucap Trexiz menyombongkan dirinya.
Deo menundukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Kekekekeke... kau bodoh juga rupanya... kau itu Dewa waktu kan, dan bukannya kau kesini bersama dengan kawan Dewamu juga?"
wajah Trexiz kembali serius. "apa maksudmu?"
"jawabannya singkat. jika kau dikurung oleh kami dalam sihir ruang bukannya temanmu akan menyadarinya?"
"!?" Trexiz terkejut bukan main setelah mendengar hal itu. "apa yang terjadi sebenarnya?!"
"kekekekek... benar-benar bodoh, kamu tak menyadarinya meskipun lingkaran sihir waktumu hilang?
ini bukanlah sihir ruang melainkan Clone Bumi, dan saat ini tentu saja temanmu sedang bertarung dengan Beliau."
"begitu ya... jadi kamu memisahkan kami sehingga-"
"ya. itu benar, sihir waktumu itu merepotkan."
kemudian Deo dan Trexiz saling bertarung kembali, Deo melancarkan pukulan-pukulan keras sementara Trexiz menahan setiap serangan itu.
setiap pukulan Deo begitu cepat, bahkan Trexiz sampai menggunakan AO Skillnya untuk memperlambat waktu Deo akan tetapi serangannya masih sama saja.
Trexiz memgeluarkan AO Weaponnya kemudian menusukkannya kearah Kepala Deo. akan tetapi Deo berhasil menghentikan serangan itu dengan tangannya, lalu Deo menarik pedang itu dengan maksud agar Trexiz berada dalam jangkauan pukulannya.
Deo kemudian meninju perut Trexiz hingga Barriernya hancur. "TIDAK BERGUNA!!" BUKKK! BUKKK!! BUK!!.
dan serangan penutup Deo membanting Trexiz ke tanah kemudian menginjak kepalanya BUM!! tanah tersebut retak krak!! krak!! krakkk!!
tiba-tiba Trexiz tertawa "hahahaha... hahahaha..."
Deo menyalakan rokoknya, "kau gila ya?" tanya Deo.
[]
Trexiz menggunakan Ultimate AO Skill nya yang membuat ruang disekitarnya teriset menjadi kekosongan.
kekosongan tersebut berkumpul di tangan Trexiz, "VOID SWORD..."
Deo melihat kesana kemari tapi tak melihat apapun selain kekosongan, "jadi inikah senjata terakhir dari Dewa Waktu?
kalau begitu biar kuberitahu dirimu juga... senjata yang menghancurkan 100 Bumi dengan sekali tebasan.
muncul lah pedang penghancur Astranz."
Deo dan Trexiz kemudian sama-sama menebaskan pedangnya, mereka saling bunuh di dalam kekosongan itu hingga akhirnya Trexiz keluar sebagai pemenang sementara Deo mati.
meskipun Trexiz keluar sebagai pemenang ia harus kehilangan mata kanan dan kirinya akibat pertarungannya dengan Deo "apakah regenerasi juga tak dapat mengembalikan mataku? waktu juga sudah kuundur ulang tapi mataku masih tak dapat kembali seperti sedia kala..."
/Manusia terlampau jenius, mereka akan terus membuat hal-hal yang awalnya dikira tak mungkin menjadi mungkin, dan pada akhirnya hal yang tak mungkin itu akan segera menjadi mungkin dan mereka akan mati karena kemungkinan tersebut./
^^^Bersambung....^^^