
Hajun mengenakan seragam Sekolahnya kemudian bersiap untuk pergi ke Akademi Javen, karena yang menjadi tuan rumah dari Turnamen antar sekolah ini adalah Akademi Javen.
Hari ini semua Sekolah diliburkan karena mereka semua ingin pergi menonton Turnamen yang telah ditunggu-tunggu oleh banyak Orang.
"Halo ... Hajun, maaf ya mama ada urusan di Amerika, jadi Mama gak bisa ikut nonton Turnamen."
tut... tut... tut...
Hajun menghela nafasnya. "memangnya kalian pernah peduli padaku..." gumam Hajun.
Hajun mengamati sekeliling ruangan di rumahnya, "bahkan dengan Rumah minimalis seperti ini ... kalian tidak berkunjung. padahal kuharap Mama bisa menjadi temanku bercerita." gumam Hajun sambil menundukkan kepalanya dan tangan mengepal kuat.
Tak lama kemudian Hajun pun pergi keluar Rumah nya, dan dengan mengendarai sepeda ia pergi ke Akademi Javen.
disana ia bertemu dengan wali kelasnya dan melakukan registrasi ulang untuk peserta Turnamen.
"Nama : Hajun Edgard
Asal Sekolah : Wendeth School.
apakah data ini sudah benar Tuan?" tanya panitia tersebut.
"benar. datanya sudah benar."
"baik, sebentar."
Panitia itu mengecek kelengkapan surat-surat pendaftaran milik Hajun dan ketika dinyatakan sudah lengkap, Hajun secara resmi sudah menjadi peserta Turnamen.
Wali kelas Hajun yang bernama Pak Guru Arvin menatap Hajun seraya berkata "nak ... kamu tidak perlu menang, jika kami meminta itu darimu maka itu adalah tindakan yang tak tahu diri.
Setidaknya, tolong buat Sekolah kita tidak langsung kalah di Ronde pertama. Bapak percaya padamu, kami semua percaya padamu."
Hajun masuk kedalam Ruangan khusus para peserta, para peserta lainnya berasal dari Sekolah Gundang, Akademi Hungjo, Akademi Torve, Akademi Javen.
Dari masing-masing Sekolah tersebut, mereka membawa 3-4 orang perwakilan. hanya Sekolah Wendeth saja lah yang di wakili 1 Orang.
Hajun mengamati sekitaran ruang tunggu tersebut.
'mereka semua orang-orang yang kuat.'
"TURNAMEN RONDE PERTAMA !!
Sekolah Wendeth vs Akademi Torve. untuk perwakilan di mohon untuk datang keatas ring pertarungan!"
Hajun berjalan pergi ke Ring tanding. disana terlihat para penonton memenuhi kursi penonton hanya untuk melihat Turnamen ini.
Banyak juga media-media yang meliput tentang Turnamen ini supaya orang-orang yang tidak bisa datang menonton langsung, bisa menontonnya lewat televisi.
"yang mewakili Akademi Torve kali ini adalah Tanon! .
sementara itu ... Sekolah Wendeth akan diwakili oleh Hajun!."
...----------------...
'jangan mati dulu Jayden ... akan kubunuh dirimu nanti..' , batin Hajun.
Kini Hajun dan Tanon saling berhadapan, Panitia Keamanan langsung memasang Dimensi pemisah agar para penonton tidak terkena dampak pertarungan.
Dalam Panitia Keamanan Gita juga termasuk di dalamnya 'Hajun... menanglah.' , ucap Gita dalam hati berharap adiknya mampu mengalahkan lawannya.
Ada beberapa penonton yang berbisik-bisik dan menertawakan Hajun. "palingan Sekolah Wendeth di pulangkan lagi." , mereka meremehkan Hajun.
"MULAI!"
BATS !!
Hajun langsung melesat menyerang dengan tendangannya.
DUASH !
namun tak mengenai apapun.
Tanon menyembunyikan dirinya dengan cara menghilang. "dia tipe Mage ya..." Ring pertandingan berubah latarnya menjadi hutan belantara.
Itu adalah berbuatan Tanon, ia memiliki strategi untuk membunuh Hajun dengan cara menyiksanya karena menganggap Sekolah Wendeth adalah Sekolah lemah.
Namun ini adalah strategi yang salah, bahkan fatal. karena, saat ini Tanon sedang berhadapan dengan seorang pemburu yang sangat berbahaya.
Hajun mengeluarkan kedua bilah daggernya.
BATSS !!
Dengan cepat Hajun melesat mencari Tanon yang bersembunyi. menyadari dirinya di buru Tanon bergerak menghindar sambil memasang banyak jebakan.
Namun Hajun secara tiba-tiba berada tepat disampingnya. dan dengan Dagger yang terhunus Hajun menyerang kearah mata Tanon.
"?!"
ctang !!
Tanon menangkis serangan Hajun dengan tongkatnya. Tanon melompat kebelakang sembari merapal sihirnya.
"AO Skill Bubble Gun."
Hajun menebaskan Daggernya menangkis gelembung-gelembung yang mengarah cepat kearahnya.
Akan tetapi gelembung yang ia tebas meledak dan membuat Hajun terluka.
DUAR !!
DUAR !!
DUAR !!
DUAR!!
"pih, bangsat."
Tanon tersenyum puas melihat Hajun yang menahan rasa sakitnya. "Fufufu... rasakan itu."
*SLASH !!
"urghh*..."
"Rasakan apanya bajingan?" ucap Hajun dingin.
Tebasan Dagger Hajun berhasil mengenai perut bagian kiri Tanon.
"tidak dalam ya..."
Bats !!
Hajun kembali melesat menyerang Tanon.
"?!"
Slash !!
"Aghh !!"
sebuah tebasan kembali mengenai perut kiri Tanon. Tanon tak bisa apa-apa kali ini.
Tanon tak memiliki waktu untuk merapal sihir-sihirnya karena Hajun mendesaknya terus menerus.
SWASH !!
"ARGGHH !!" rintih Tanon kesakitan.
"AKU TAK AKAN KALAH DISINI !!" (Tanon)
[ULTIMATE AO SKILL ATOMIC BUBBLE !]
Dari atas langit-langit sebuah Gerbang sihir muncul, dari dalam sana sebuah gelembung melesat keluar dan terjadi ledakan besar.
"Siapa pemenangnya??!"
"ASAP NYA SANGAT TEBAL, LEDAKANNYA JUGA SANGAT KERAS!"
"EVAKUASI, TAKUTNYA ADA YANG MATI!"
Para penonton ricuh karena takut jika Turnamen sekelas Sekolahan memakan korban jiwa.
Namun perlahan ketika asapnya mulai menghilang terlihat jelas Hajun masih berdiri, pemenangnya sudah terlihat sangat jelas.
Melihat Hajun masih bertahan dan Tanon yang terluka parah, para Murid dari Wendeth School langsung heboh.
"WOWWW !!"
"BAJINGAN !!! KEREN BANGET BANGSAT!!"
"KYAAA !! HAJUN GANTENG BANGET ! "
Tepuk tangan meriah memenuhi bangku penonton, tidak hanya penonton dari Wendeth School saja yang bertepuk tangan, tetapi seluruh penonton bertepuk tangan dan mengucapkan selamat atas kemenangan pertama Wendeth School.
"Murid Wendeth School bernama Hajun itu adalah orang yang kuat."
"ya... tetapi Akademi Javen akan melibas semua yang terkuat dan menjadi puncak."
Hajun pun turun dari Ring dan pergi menghampiri wali kelasnya.
Pak Guru Arvin menepuk pundak Hajun "Terimakasih ... kemenangan ini adalah kebanggaan bagi sekolah kita. saat ini kita memiliki 2 Points.
setiap peserta memenangkan pertandingan maka ia akan mendapatkan 2 Points dan jika kalah maka akan dikurangi 4 Points, pertandingan dengan peserta yang sama bisa terjadi apabila dalam team tersebut memiliki Point yang cukup.
apabila Point nya tak cukup, otomatis peserta akan gugur saat dikalahkan." ujar Pak Guru Arvin menjelaskan rules dari turnamen.
Hajun mengangguk mengerti dan berterimakasih pada Pak Guru Arvin atas informasinya.
sementara itu dari kejauhan Gita tersenyum melihat adiknya menang dalam turnamen itu.
"Hebat."
^^^Bersambung....^^^