
[Kediaman Edgard]
"Dimana Hajun?" tanya Castro pada Gita.
Gita menggelengkan kepalanya, "entahlah ayah, seharusnya ia sudah pulang dari 4 Jam yang lalu."
Castro menjadi marah "bagaimana mungkin!? anak itu tidak pernah berubah. ia selalu membuat masalah."
Gita kemudian menyahut, "tidak begitu Ayah... dia anak yang baik, nanti Ayah lihat perbedaannya dengan yang kemarin-kemarin."
Lilith tertawa kecil mendengar pembelaan Gita "hihihi... Gita ternyata sayang sama adik kecilnya."
Wajah Gita memerah "I-Ibu!! seorang Kakak kan harus menyayangi adiknya."
Lilith meletakkan telapak tangannya di mulutnya dan tertawa kecil. namun berbeda dengan Castro, ia tampak ragu dengan perubahan Hajun yang dikatakan oleh Gita. "hmmph... mana mungkin anak itu bisa berubah hanya dalam beberapa bulan."
Ketika Gita ingin pergi ke dapur tiba-tiba saja ponselnya berdering. 'telfon dari siapa? seharusnya bukan dari Dosen ku.' batin Gita.
ketika Gita melihat ponselnya yang menelfon dirinya adalah Rafale.
"Hah? Rafale?! dia kan tak memiliki...."
'Halo?'
'Gita! ini benar nomormu kan?' tanya Rafale dengan nada panik.
'emm... iya. ada apa?'
'Cepatlah datang ke Rumah Sakit! Adikmu dan temannya mengalami kecelakaan. lokasinya sudah kuberikan di ponselmu, cepat datang!' teriak Rafale panik.
Sambungan ponsel pun terputus. Gita kemudian buru-buru mengecek lokasi yang diberikan oleh Rafale melalui ponselnya.
Gita kemudian memberitahukan Info tersebut kepada Castro dan Lilith. mereka berdua terkejut dengan hal tersebut namun Castro terlihat naik pitam duluan "SUDAH KUDUGA! HAJUN MEMANG PEMBUAT ONAR!!"
"AYAH HENTIKAN! JANGAN MENGUTUK ANAK MU SEPERTI ITU!" ucap Gita geram, Castro pun diam dan memalingkan mukanya.
Mereka bertiga cepat-cepat kerumah sakit yang lokasinya sudah dikirim ke ponsel Gita. "mana ponselmu?" Gita kemudian menyerahkannya pada Castro kemudian dengan mengendarai mobil mereka bertiga pergi menuju Rumah Sakit.
Setibanya disana rupanya diluar Rumah Sakit sudah dipenuhi oleh wartawan dan juga berbagai macam stasiun televisi yang siap meliput berita.
Castro, Lilith dan Gita bahkan terheran-heran dengan apa yang terjadi. "Mustahil... apakah Hajun membuat masalah besar kali ini?" ucap Castro marah.
"berhenti menduga-duga Ayah!" bentak Gita.
kemudian seseorang menghampiri mobil keluarga Edgard. ia adalah Rafale, "Jendral Castro sebelah sini!" teriaknya. Castro, Lilith dan Gita keluar dari mobilnya dan pergi menghampiri Rafale.
"ikuti saya."
Castro, Lilith dan Gita mengikuti Rafale. Lilith kemudian bertanya pada Rafale "apakah Hajun anakku baik-baik saja?"
"..."
Rafale hanya diam tak bisa menjawab. Gita menjadi lebih emosional "Hey laki-laki brengsek! jawab pertanyaan Ibuku!" ucap Gita.
ketika sampai di Lorong lantai 4 Rafale baru membuka mulutnya "untuk selebihnya... anda bisa melihatnya sendiri."
mereka bertiga seketika terbelalak melihat Keluarga Kerajaan lengkap dengan Putri dan Pangeran Kerajaan bahkan Jendral Besar lainnya juga datang ketika mendengar kabar bahwa kerabat Keluarga Kerajaan mengalami kecelakaan.
namun perhatian Gita tidak memperdulikan mereka. Gita celingak-celinguk mencari keberadaan adiknya Hajun, Rafale kemudian mengarahkan Gita pada Hajun yang duduk membeku dengan wajah tanpa ekspresi dan mengenakan baju Seragam yang dipenuhi oleh darah dan luka.
Castro dan Lilith menghampiri Raja dan Ratu dan menanyakan apa yang terjadi namun mereka berdua juga menggelengkan kepalanya karena tak mengetahui apa yang terjadi. Raja menjelaskan kalau ia hanya mengetahui kalau Hajun dan Sio terlibat dalam suatu pertarungan.
"Sio? apakah anak saya yang mencelakainya yang mulia?" tanya Lilith dengan nada lirih dan gemetaran.
namun Ratu menenangkan Lilith "Nyonya... tenanglah, hal se fatal ini tidak mungkin dilakukan oleh anak seusia Hajun.."
sementara disisi lain Hajun kini didekap dalam pelukan Gita. terpampang jelas Hajun mengalami sebuah trauma yang sangat-sangatlah berat.
"Hajun... apakah kamu bisa menceritakan apa yang terjadi pada Kakak?" tanya Gita dengan mata berkaca-kaca melihat kondisi adiknya.
"..."
membuat Gita tak bisa menahan air matanya.
Gita makin erat mendekap Hajun dipelukannya "Hajun... jangan seperti ini."
Rafale ingin sekali memberitahu Gita tentang dugaannya yang mengetahui pelaku sebenarnya dalam kecelakaan ini. namun Rafale memilih untuk menahan dugaan itu, karena melihat kondisi Gita yang sedang dalam keadaan Emosional.
kemungkinan yang terjadi apabila Rafale membeberkan dugaan ini pada Gita sudah jelas ia akan menggila dan langsung melabrak pelaku dalam dugaan. dan buruknya Keluarga dari pelaku terduga, saat ini juga datang dan dalam rombongan Keluarga Kerajaan.
tak lama setelah itu Dokter keluar dari ruangan operasi dan langsung menunduk minta maaf pada Raja dan Ratu "Yang Mulia maafkan saya, kami semua tak mampu menyelamatkan nyawanya... luka separah itu membuat darahnya hilang terlalu banyak. apalagi AO corenya ikut hancur."
Raja menghela nafas panjang, namun Ratu tak percaya mendengar hal itu. semua orang yang mendengarnya juga sama terkejutnya.
Raja kemudian bertanya pada sang Dokter "apakah serangan yang membuatnya sampai meninggal itu? apakah itu adalah serangan yang bisa dilakukan oleh anak seusianya?"
sang Dokter menggelengkan kepalanya "tidak ada Yang Mulia... ini jelas adalah serangan dari Ultimate AO Skill. karena mampu menghancurkan sebuah AO core milik seseorang." jelas sang Dokter.
Keluarga dari Sio bersedih ketika mengetahui anaknya tak mampu lagi diselamatkan, mereka semua menangis.
namun Hajun secara tiba-tiba tertawa begitu keras. suaranya begitu nyaring hingga semua orang disekitarnya mendengar tawanya dan membuatnya menjadi pusat perhatian.
Gita terkejut ketika Hajun tertawa, namun Castro sudah emosi, ia langsung menghampiri Gita dan Hajun.
ia menarik Hajun dan menarik kerahnya dan membenturkan Hajun ke tembok Rumah Sakit dengan kencang BRAKK!!
"AYAH!"
"SAYANG HENTIKAN!"
"JENDRAL CASTRO!"
darah mengalir keluar dari mulut Hajun. "Apa yang kau tertawakan Hajun?!" ucap Jendral Castro dengan nada dingin.
Hajun mulai berbicara "tahukah Ayah, aku kini sudah berubah. aku tak membuat masalah dan bertengkar lagi."
"Apa yang kau lanturkan." ucap Castro makin geram.
Hajun seolah tak peduli dengan Castro yang marah, ia kembali berbicara ngelantur. "Kakak... aku menghindari masalah, sekarang sesuai janjimu, berikan aku hadiahnya kau berjanji memberikannya sepulang sekolah."
"KAMU!!" Castro berniat menghajar Hajun namun langsung ditahan oleh para Jendral.
Hajun yang tadinya seperti orang sinting tiba-tiba mulai meneteskan air matanya yang membuat Castro terbelalak.
"Haha... Ayah... Kakak... Ibu.... aku bukan anak nakal lagi... aku tak ikut bertarung saat itu. aku menepati janjiku pada Kakak untuk menjadi anak baik, aku menjadi anak baik dengan menghindar dari pertarungan.
aku menjadi anak yang penurut, aku berhasil menghindari pertarungan... Ayah, Ibu, Kakak..."
Suara Hajun mulai parau dan tubuhnya gemetaran karena menahan tangis. "Ayah, Ibu, Kakak... karena menjadi anak penurut bukankah seharusnya aku mendapatkan hadiah? namun mengapa malah aku kehilangan sahabatku satu-satunya.
Ibu... Kakak... Ayah ... mengapa ini semua terjadi ... hiks... hiks...."
Saat itulah air mata Hajun mengalir keluar dari matanya tak terkendali.
Rafale yang melihat hal itu menggertakkan giginya dan memalingkan wajahnya karena sudah tak mampu menahan air matanya ketika mendengar ucapan Hajun.
semua orang terdiam, membuat suasana menjadi sangat-sangat hening.
Castro bahkan sangat terkejut melihat ekspresi anak bungsunya itu, Lilith tak bisa berhenti menangis mendengar ucapan Hajun begitupun dengan Gita.
Ayah dari Sio berjalan menghampiri Castro. ia menepuk pundak Castro dan berkata dengan nada lirih. "Jendral Castro... saya kehilangan anak saya bukan karena anak anda, keluarga saya merasa sangat kehilangan... namun lihatlah baik-baik mata Putra anda, karena saat ini karena orang yang lebih kehilangan daripada siapapun yang ada disini, adalah dirinya."
"HUAAAA!! HIKSSS... Hiksss..."
^^^Bersambung....^^^