Rayk: Not a Hero

Rayk: Not a Hero
Chapter 52: Kehilangan (2)



Pertarungan sengit hampir berakhir, Hajun kehilangan banyak darah dari lukanya yang tak dapat di regenerasi.


Edra menyeringai. "Itulah, manusia begitu lemah, kemampuan kalian jauh berada di bawah kami."


Hajun mencoba untuk terus mengatur tempo nafasnya sambil mencari cara untuk bisa mengalahkan Edra.


"Berhentilah berfikir yang tidak-tidak, kau tak mungkin bisa lari dari sini."


Waktu terus berjalan, juga dengan darah yang mengalir keluar dari tangan Hajun.


Tunggu, apakah kalian tak bingung dengan mengapa Hajun yang sudah mendapat kekuatan dari seorang Guardian masih tak dapat menang menghadapi Edra?


Guardian yang menghampiri alam bawah sadar Hajun sudah tak memiliki bentuk fisik, bahkan jiwa.


Lantas, siapakah cahaya yang menghampiri Hajun? meskipun tak memiliki bentuk fisik bukankah itu adalah sebuah jiwa?


Apakah benar jawabannya seperti itu? tentu saja salah, Sang cahaya yang mendatangi Hajun bukanlah jiwa sang guardian, melainkan sebuah kesadaran mutlak.


Yang dimana Kesadaran ini adalah bukti bahwa eksistensinya pernah ada dan tak dapat hilang. -Tertulis dalam Kitab Alam Semesta.


...----------------...


Sementara itu saat ini Gita sudah berhasil membantai pasukan monster milik Edra bersama dengan Pasukan Khusus lainnya.


"Darimana monster sebanyak ini datang?" gumam Gita, namun tiba-tiba seseorang menghampirinya.


"Gita! Monster-Monster ini datang dari Rumah Sakit Poture K2! , bukankah Hajun sekarang berada disana?!"


Mata Gita seketika membulat, terkejut mendengar kabar itu. hatinya menjadi tak karuan, ia melesat dengan kencang menuju Rumah Sakit.


'Tidak! tidak!'


...----------------...


"Pertarungan ini makin lama maki membosankan, kau pasti setuju bukan?" tanya Edra.


Kemenangan sudah dipastikan berada di pihak siapa.


Namun, Hajun mengaktifkan Ultimate AO Skill nya.


[Ultimate AO Skill, Lord Of Ed.]


Cahaya putih menyilaukan menyinari mata Edra. "Trik kotor macam apa ini?!" tukasnya marah.


Dengan Dagger yang hanya ada di satu sisi tangannya Hajun melayangkan serangannya.


crats! crats! crats!


Mata Hajun melihat sebuah gelombang yang mengarah pada suatu titik, dengan mengikuti titik tersebut serangan dagger miliknya menjadi sungguh mematikan.


Namun Gargan Sword mengaktifkan sebuah skill pasif miliknya, Jiwa Hajun yang tadi di tarik ke Gargan Sword menjadi malapetaka baginya.


Sebuah kemampuan penghapusan seluruh kekuatan sihir milik Hajun.


Edra tersenyum puas ketika melihat Hajun seperti mulai kehilangan tenaga.


Namun Hajun yang berhasil menyudutkan Edra, dengan sebilah Daggernya ia langsung menusuk mulut Edra dan mengancurkan giginya kemudian merobeknya.


"ARRRRGGHHH !!!"


Rintihan rasa sakit yang luar biasa, Edra seakan mengerang kesakitan dengan kondisi mulutnya yang hancur "emmhkkhh !"


Kemudian Edra secara brutal menebas tubuh Hajun secara menyilang dengan cepat.


CRATS


Mata Hajun terbelalak "!!" tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, luka berbentuk tanda x terbentuk di tubuhnya.


Darah keluar dari luka yang didapati Hajun, tak butuh waktu lama Hajun sudah ambruk.


'mataku ... buram, apakah ... ini akhir untukku?'


'Tidakk! ini bukan seperti diriku, bangkit ! bangkit! bangkit!'


Hajun kembali bangkit dengan Dagger di tangan kiri nya, Edra yang baru bisa bernafas lega sedikit terkejut melihat Hajun kembali bangkit.


"Apa? kau belum mati?!" tanya Edra dengan ekspresi sedikit takjub.


Dengan kaki yang sulit menopang tubuhnya, Hajun kembali berdiri, Hajun merobek pakaiannya kemudian melilitkan kain tersebut di Daggernya menggunakan mulutnya.


"Aku akan bertarung sampai akhir!"


Mata Hajun melihatnya, gelombang putih yang mengarahkan serangannya.


Hajun melesat dengan cepat menyerang kearah titik gelombang tersebut.


Edra berusaha menghentikannya namun serangannya tak ada yang berhasil nengenai Hajun yang bergerak sangat cepat.


"?! Mustahil manusia bisa menghindari ini!"


craatss


Hajun berhasil menebaskan Daggernya di titik gelombang yang berada di mata kiri Edra.


Edra menahan rasa sakit yang luar biasa itu kemudian dengan sekuat tenaga berbalik menusuk perut Hajun dengan Gargan Sword.


Stab!


Tubuh Hajun goyah, Edra menendang perut Hajun dengan keras hingga membuatnya terpental jatuh.


Brak!


"Kuh! dasar manusia brengsek," maki Edra kesal, ia kemudian meraih Dagger yang masih menancap di matanya.


"Benar-benar, kau Lawan yang tangguh." Edra meletakkan Gargan Sword di pundaknya sembari berjalan menghampiri Hajun.


Tak lama kemudian seseorang muncul dari belakang Edra.


"Ah..."


Iblis yang mirip seperti Edra dengan tombak dan pedang yang ditaruh di tempat yang siap untuk tempur.


"Wah ... Kakak Edra, kau terlihat tak baik-baik saja, bertarung dengan siapakah kau?"


Seseorang yang merepotkan muncul, ia adalah Pangeran ke 4 Qyuzeq Realm yang bernama Alfo, penampilannya terlihat periang dengan Pedang besar di balik jubahnya


Edra menoleh kesamping kirinya, Alfo datang bersama dengan Pangeran ke 7 yang bernama Zuha.


"hmmm ... kalian di teleport kesini juga?" tanya Edra.


Zuha mengangguk, Alfo yang hiperaktif berjalan dengan santai dan ekspresi ceria ke hadapan Hajun.


"Hei ... hei... apa kamu mati?" kata-kata yang tak layak dan semengerikan itu terlontar dengan mudahnya.


Dapat dipastikan Monster ini tidak memiliki hati nurani sedikitpun, Alfo menendang-nendang kaki Hajun pelan.


"Tunggu, dimana pasukanmu Kak?" tanya Zuha.


Alfo berhenti mengganggu Hajun kemudian berbalik menatap Edra. "Eh? kau benar, Kak dimana pasukanmu?"


"Mati, tak jauh dari sini aku merasakannya. Pasukan ku dibabat habis dengan begitu cepat," ekpresi Edra nampak begitu serius mengatakan hal tersebut.


Mendengar jawaban tersebut Alfo langsung peka dengan apa yang dimaksud Edra. "Baiklah, kalau begitu kita harus tarik mundur dulu penyerangan di Bumi ini. Lagipula kita sudah menguasai 280 Bumi lain," ucap Alfo dengan wajah tersenyum.


Zuha membentangkan jubahnya menutupi mereka bertiga.


Dan whussh, seperti sulap mereka bertiga menghilang begitu saja, bahkan tanpa jejak sedikitpun.


...----------------...


Sementara itu diluar rumah sakit Gita melihat rupa rumah sakit yang telah hancur akibat sebuah pertarungan.


"Ru-rumah sakitnya ... hampir rubuh dan terlihat begitu sepi."


Ke enam Orang pasukan khusus melesat masuk kedalam rumah sakit. Mereka semua tak percaya ketika melihat banyak mayat bergelimpangan di dalam sana.


Jantung Gita berdegup sangat kencang, rasa takut kembali menyelimuti dirinya.


Gita memerintahkan bawahannya untuk memanggil team medis dari rumah sakit lain untuk datang kesini karena korban disini sangatlah banyak.


Mereka menyusuri tiap lantai, dan hanya menemukan jejak pertarungan yang sengit.


Sampai akhirnya ketika Gita sampai di lantai 3 disana ia melihat retakan tembok yang sangat besar, dan mendapati Hajun yang sedang dalam kondisi yang sangat sekarat.


Gita dengan panik langsung berlari menghampirinya, "Hajun bangun! , Dimana team medis!" teriak Gita.


"M-mereka sedang bergerak kesini."


Merasakan tubuh Hajun yang semakin dingin Gita menjadi semakin panik. "Kumohon jangan pergi ..." air mata Gita mengalir membasahi pipinya.


"Kapten, saya bisa memberikan pertolongan untuk paling tidak menghambat pendarahannya."


Gita menoleh kemudian mengangguk mempersilahkan.


Heal dilakukan dengan baik, 'Kumohon bertahanlah sebentar saja ... aku tak mau lagi kehilangan adikku lagi,'


^^^Bersambung....^^^