
Rafale duduk diatas kursi sofanya. dengan nyaman tubuhnya bersender.
Di sampingnya, seorang maid milik nya sedang berbicara dengannya soal hidangan makan malam.
"Tuan, hari ini anda ingin makan apa?" tanya maid tersebut dengan sopan.
Rafale kemudian menjawab. "Seperti menu biasanya saja," tukasnya tak mau ribet.
Tak lama kemudian hidangan untuknya sudah datang, dilayani oleh seorang maid tersebut Rafale makan dengan lahap.
"Maaf Tuan, bukannya lancang. apakah ada alasan tuan muda tak mau menggunakan tangan palsu?
Rencana anda, sangat berbahaya dan memerlukan pertumpahan darah. karena orang-orang Bumi Sarvest itu begitu kuat," tukas sang Maid sedikit heran, pasalnya sejak awal Rafale masuk rumah sakit dan kehilangan kedua tangannya dahulu. Jendral Kabura ingin membuatkan tangan palsu untuknya namun ditolak oleh Rafale.
"ah, aku hanya tak mau kenangan buruk terjadi lagi. oh iya, ini jam berapa?"
Meyden kemudian mengecek jam di saku nya. "Jam menunjukkan pukul 21.12, apa anda mau melakukan aktivitas?"
Rafale tersenyum dengan sedikit tawa kecilnya kemudian berkata. "Tidak, aku hanya mau melihat langit Sarvest yang tenang untuk terakhir kalinya."
...----------------...
[Bumi Tehon]
Ledakan-ledakan besar terjadi begitu dahsyat akibat pertarungan Yuto dan Raja Au.
Yuto melakukan tendangan rendah yang membuat Au terpental, karena kekuatan Yuto yang sangat gila.
Bagai kilat Yuto berlari beberapa langkah kemudian melompat keatas dengan sekuat tenaga.
BUMMMP !
Gelombang kejut bekas Yuto melompat terasa begitu kuat, bahkan membuat area Kota kerajaan di dekatnya menjadi luluh lantak.
"APA ALASANMU MENYERANG KERAJAAN KU!" Teriak Au dengan sebilah pedang di genggamannya.
Slash!
Au menebaskan pedangnya mengarah pada Yuto. namun Yuto tak dapat di serang satu goresan sekalipun.
Bagai burung yang bebas, Yuto hanya melompat kesana kemari dan membuat sedikit-sedikit kehancuran yang menyakitkan.
Au menggertakkan gigi nya kemudian mengambil posisi kuda-kuda untuk bersiap menyerang.
"Tujuh jurus, Gerakan pembuka, Badai Topan."
Gerakan yang begitu lebar dengan celah di seluruh sisi tubuhnya, ini begitu membuat siapapun tak yakin kalau ia adalah seseorang yang hebat.
Yuto tersenyum tipis. "nampaknya orang-orang di sisinya itu makhluk bodoh semua."
Sebuah tebasan angin mendatangi dirinya dengan 2 badai topan yang membuat area sekitar ikut porak-poranda.
"Kekeke, melawan makhluk rendahan sepertinya tidak memerlukan kekuatan yang besar kan?"
Yuto mengangkat kakinya, kemudian melayangkan tendangannya mengibaskan angin di hadapannya.
Swusshh...
Tak ada yang menyangka, ini adalah akhir dari kerajaan tersebut. satu tendangan membuat Kastil besar di hadapan Yuto rata menjadi tanah bahkan sepanjang 13 kilometer ke belakang kastil tersebut telah menjadi tanah.
Yuto mengeluarkan sebungkus rokok dari kantungnya lalu menyalakan sebuah korek api.
"Fuhhh... Uhuk-Uhuk! UHUKH UHUK!
Ah, sial sudah lama aku tak merokok," ungkap Yuto dengan nada yang terbatuk-batuk.
Yurumi kemudian muncul entah darimana kemudian memberikan tepuk tangan. "hebat, sangat hebat, namun orang ini belum mati."
Yurumi kemudian berjalan ke arah depan Yuto kemudian menarik Au yang sudah tak sadarkan diri.
"Yah ... mungkin dia memiliki kemampuan yang mumpuni kan?"
Yurumi menatap Yuto dengan wajah sinis kemudian menggumamkan sesuatu. "kamu tak berubah sedikitpun."
Yurumi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "uhhmmm ... bukan apa-apa."
Yuto kemudian menginjak kepala Au hingga hancur dan meninggalkan kehancuran yang sangat membuat siapapun bersimpati, dan tanpa di sadari Yuto, rupanya anak dari Au masih hidup dan melihat sang pembunuh ayah nya itu.
"Hikss... akan kubunuh dia."
Waktu demi waktu pun terus berlalu. baik itu di Bumi Sarvest, Qyuzeq Realm dimana Gita sedang berada saat ini, maupun Yuto yang mengarungi Alam Semesta dan terus membantai para reinkarnator terus menerus.
...----------------...
[2 Bulan kemudian, Bumi(Sarvest)]
Asap tebal menjulang tinggi di angkasa, kekacauan di berbagai tempat. Amerika, Inggris, Jepang, Rusia, Jerman, Singapura dan Negar-negara lainnya.
Semuanya menjadi kacau balau, Rafale berhasil mengacaukan Sarvest melalui rencananya.
Seorang Kakek tua berdiri dengan tubuh yang berlumuran darah sambil menahan sebuah luka tusukan di dada kirinya.
Tiupan angin yang kencang membuat udara sore itu semakin dingin dan membuat suasana kekacauan semakin mencekam.
"Rafale ... apa yang sebenarnya kamu pikirkan ..." suara serak dengan nada yang lemah, Jendral Kabura bertarung melawan Rafale.
"Matilah Kakek, mulai sekarang Sarvest akan ku ambil alih, kau tahu kan Castro Edgard sedang tidak ada disini?" ucap Rafale demgan nada dingin.
"Rafale ..." gumam Kabura sebelum akhirnya tersungkur ke tanah dengan lutut yang tetap menopang tubuhnya.
"Sampai jumpa." Rafale pergi begitu saja meninggalkan Kakeknya.
Jendral Kabura mengingat momen ketika keluarga besarnya dulu berkumpul dengan senyum yang menghiasi keluarga mereka.
Momen dimana ia memeluk Rafale, menggendongnya dan merawatnya semuanya terlintas dalam benaknya untuk terakhir kalinya.
"Emily ... maafkan Ayah kurang memberikan perhatian pada cucuku," gumam Jendral Kabura sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Rafale berjalan kearah Istana Anggota kerajaan di Inggris, Pangeran Dands serta Putri Thea diserang secara spontan begitu Rafale masuk.
Melihat adiknya diserang Pangeran Dands langsung bergerak menahan tendangan Rafale yang begitu keras.
"Kau! Rafale?! Apa yang kamu lakukan?"
Tak banyak bicara, Rafale langsung memutar tubuhnya dan kembali melayangkan tendangan menyerang Pangeran Dands.
Dands menangkis seluruh serangan yang dilayangkan padanya sekuat tenaga, namun ia benar-benar terdorong mundur.
Tak menunggu lama, Rafale menunduk kemudian menyandung tumit belakang Pangeran Dands yang membuatnya jatuh kehilangan keseimbangan.
Swusshh ...
Dands yang masih berada di udara dan belum jatuh ke tanah secara spontan kembali diserang, Rafale menendang perut Pangeran Dands hingga batuk darah dan terguling di lantai.
"KAKAK!"
Putri Thea dengan spontan berlari ke sisi kakak nya yang sedang terluka.
"Ka-kamu ... mengapa kamu masih disini Thea? p-pergi ... pergilah .... lari ..." nada bicara dari Pangeran Dands terasa sangat lemah.
Putri Thea memeluk kakaknya dengan erat sambil menangis mengkhawatirkan Pangeran Dands.
"Kakak, BANGUNN. huuuu ..."
Rafale berjalan menghampiri tubuh Pangeran Dands. dengan mata dan ekspresi kejam, tanpa sepatah katapun Putri Thea di tendangnya hingga menghantam dinding Istana kerajaan.
DUAGHH !
"T-Thea !!" teriak Pangeran Dands histeris.
Rafale kemudian menginjak mulut Pangeran Dands agar tidak mengeluarkan suara berisik.
"Diam brengsek!"
^^^Bersambung....^^^