
Laura menatap putrinya dengan sayang, ia bisa meraba wajah putrinya yang sudah menghilang saat bayi. Bukannya sengaja menghilang, tapi untuk dititipkan agar musuh tidak berkobaran mencelakai keluarganya atau lebih tepatnya mencelakai putri kesayangannya.
Laurence juga yang baru merasakan lagi kasih sayang seorang ibu, kini ia bisa bermanja-manja sepuasnya dengan sang Ibunda.
Namun terdengar ketokan dari arah luar.
Ning nong.
“Biar Laurence aja Mom. Mom tinggal duduk aja seperti Ratu” seru Laurence dengan cengengesan.
Laura yang sudah terbiasa dengan Laurence, ia hanya menggelengkan kepalanya terkekeh.
Namun sang putri belum kembali, ia sangat cemas dengan apa yang terjadi di luar.Kemudian ia menyusul putrinya keluar.
“Sayang, kenapa kau..la...” belum melanjutkan ucapannya, Laura menggeleng gelengkan kepalanya saat sang putri tengah berada di pangkuan Aldebaron.
“Ibu mertua, aku akan mengajak belahan jiwaku untuk berkencan, boleh tidak?” tanya Aldebaron dengan konyol.
Terlihat dari eksperesi wajah Laurence cemberut. Sepertinya ia masih ingin bermanja-manja dengan Ibundanya.
“Terserah kalian. ” Sahut Laura melebarkan senyum tulusnya.
“Mom, tapi Laurence masih ingin sama Mommy” rengek Laurence dengan manja.
“Gak bisa! Kamu harus ikut aku baby, kau mau lihat sunset dengan ku tidak sambil melihat pemandangan di Cambridge” ujar Aldebaron dengan membujuk anak gede yang sedang dipangku nya.
Mata Laurence langsung berbinar-binar, Laurence memang masih ingin bersama Mommy nya namun ia juga sudah lama tidak berinteraksi dengan alam.
Laurence menganggukkan kepalanya senang, Aldebaron memang sangat mengerti dirinya. Laurence digendong nya hingga sampai mobil. Sungguh, pria idaman para kaum hawa yang sangat perhatian.
Setelah mereka tiba di pegunungan yang lumayan jauh jaraknya dari Apartment Laurence.Melihat Laurence yang tengah tertidur lelap Aldebaron hanya menggelengkan kepalanya tersenyum tipis.
“Saat tidur kau selalu cantik baby, aku jadi tidak tega untuk membangunkan mu” gumam Aldebaron pelan menatap wanita yang sangat sempurna dihadapannya.
Lama ia memandang wajah ayu Laurence, karena terlalu lama bosan juga ia memilih membangunkan Laurence pelan.
“Baby, jangan kebo ayo bangun. Kita udah sampai!” gumam Aldebaron yang tengah memencet hidung Laurence.
Hingga sang empu mengucek ngucek matanya karena merasa ada yang mengusik mimpinya.
“Kak Disson, kita sudah sampai?” tanya Laurence yang masih menatap Aldebaron yang tengah tersenyum ke arahnya.
“Huum. Aku sudah menunggu mu dari satu jam yang lalu. Tapi aku sangat bosan. Ayo kita lihat sunset nya” ajak nya seraya melenggangkan kakinya turun dari mobil.
Laurence terkagum-kagum dibuatnya. Melihat pemandangan yang sangat asri dan damai. Ia sudah lama tidak berinteraksi dengan alam. Biasanya, dia seorang diri saat dibully di masa SD nya, ia langsung lari ke tepi danau untuk menenangkan pikiran.
Mereka duduk diatas hamparan batu yang dibawahnya terdapat jurang kalau melompat. Mereka duduk diatas batu itu seraya menikmati indahnya alam yang jarang mereka temui.Karena rutinitas yang mereka lihat seperti biasanya hanya jalan, kantor, bangunan rumah dan lainnya.
“Kau senang baby?” tanya Aldebaron tersenyum dengan menyibakkan rambut Laurence dan menyelipkan nya ke belakang telinga Laurence.
“Huum, tentu saja. Aku sangat menyukai tempat tempat seperti ini. Hatiku sangat plong rasanya” Sahut Laurence dengan antusias.
“Oh ya, kita aku ada sesuatu untukmu” gumam Aldebaron yang melangkah ke belakang dan berdiri untuk mengambil sesuatu dari saku nya.
Laurence yang melihat Aldebaron berdiri, sontak ia berdiri dan melihat apa yang tengah dikeluarkan Aldebaron dari saku nya. Penasaran, itulah ekspresi dan raut wajah muka Laurence saat ini.
“Will you marry me?” tanya Aldebaron yang langsung pada intinya menatap dalam manik hitam indah wanita yang ada dihadapannya.
Degg!
Tentu saja Laurence terkejut sekaligus terharu dan bahagia, inilah hari yang ia tunggu tunggu. Hari dimana ia ingin lebih serius untuk bisa bersama Aldebaron selamanya.
Tentu saja wanita cantik nan imut itu menganggukkan kepalanya dan menitikkan air mata kebahagiaan. Akhirnya yang ia tunggu tunggu tiba. Tuhan memang sangat baik jika umatnya selalu bersabar dan menghadapi sesulit apapun rintangannya.
Pegunungan Cambridge dan Sunset menjadi saksi bahwa mereka akan segera bersatu. Setelah sekian lama mereka meminta restu pada sang Mommy dan begitu banyak pengorbanan yang mereka lalui, kini mereka akan segera bersatu.
____________ ☘️☘️☘️______________
Dua Minggu setelah nya, hari ini hari pernikahan seorang pengusaha sukses yang akan menggelar resepsi pernikahan dengan seseorang yang sangat berarti baginya, bahkan mungkin adalah hidupnya.
Para tamu undangan riuh, iri dan juga ada orang yang mendoakan mereka agar keluarga mereka bahagia.
Kini Aldebaron dan Laurence telah resmi menikah setelah sekian lama mereka mendapatkan lara dan duka. Kedua insan itu bahagia, terlihat dari raut wajah mereka berdua.
“Selamat ya, kau sudah menikah. Bahkan aku belum” seru Oktavia, sahabatnya yang tengah mengerucutkan bibirnya.
“Kau pasti segera menyusul Oktav, aku do'akan kau berjodoh dengan Sanca” Sahut Laurence melebarkan senyumnya.
Mommy Ha Neul memang sudah merestui mereka. Tidak ada alasan lagi untuk mereka tidak bersama. Bahkan semesta dan Tuhan menciptakan sepasang insan itu berbahagia.
Kini terlihat pelemparan bunga oleh kedua mempelai itu, dan...
cuittttttttt.
Bunga telah mendarat di tangan Oktavia. Karena jika Oktavia tidak menangkapnya mungkin sudah terkena wajahnya. Oktavia yang tengah kebingungan, menjadi bahan tertawaan semua orang karena raut wajah bingung nya.
Itulah kisah cinta Laurence dan Aldebaron, cinta kita berbeda.
~***The End*** ~