Our Love Is Different

Our Love Is Different
Senjata Makan Tuan



"Ren, lo kenapa diem aja ini gue, gue Oktavia sahabat somplak Lo, kenapa lo diem aja ayo ngomong!" lantang Oktavia menggoyang goyangkan tubuh Laurence.


"Ehmm.."


Laurence berdehem pelan karena merasa tak mengingat apapun, se berusaha Ia mengingat pun, hasilnya nihil. Ya, semenjak kejadian itu, Laurence tidak mengingat kejadian yang sebelum atau setelahnya saat ia menyebrang jalan. Laurence hanya mengingat ia menyebrang jalan. Sebelum atau setelahnya, entahlah Laurence tidak mengingat nya.


" Maaf, aku ga kenal sama kamu, siapa namamu?" seru Laurence


Oktavia memicingkan matanya, karena merasa tidak percaya ia melihat apakah ada kebohongan di sana. Ya, Oktavia tidak menemukannya.


" Lo masa ga inget sama gue sih Ren, " dengan mengerucutkan bibirnya, Oktavia kembali merajuk


" iya asli, bener aku ga inget sumpah" seru Laurence hingga membentuk jarinya menjadi huruf v.


" Oke oke gue percaya, "


Dengan enteng nya, Oktvia menarik lengan Laurence, dan memasuki taman belakang kampus.


" Nah disini, dulu lo pertama kali masuk sama gue disini, lalu nenek lampir nyiramin es balok ke lo? coba inget inget deh"


" Apa iya ya?" tanyanya dan kemudian , kepalanya terasa berdenyut sakit karena mencoba mengingat kejadian tersebut.


" Udah lah Ren, kalo lo ga inget mending kita masuk kelas aja yu, jangan dipaksain nanti tambah sakit, "


" Yu"


Mereka melangkahkan kakinya ke dalam kelas, dan semua mata tertuju pada kedua gadis itu, tepatnya pada Laurence.


" Eh ada Ratu Dombrett" lantang Indri senang karena musuhnya kembali lagi.


Dan Indri berencana akan membuat Laurence menderita selama dikampusnya. Ya, dia melihat Laurence yang sekarang adalah Laurence yang lugu, dan Indri suka itu.


Padahal, Laurence sengaja mendiamkan dan enggan untuk meladeni hal yang tidak penting.Laurence diajarkan Aldebaron untuk tidak terlalu meladeni hal hal yang tidak penting. Tujuannya yaitu satu, mendapatkan nilai yang sebaik baiknya dan kembali mendapatkan beasiswa untuk tujuan kuliah nya di London.


Mimpinya, ia ingin melanjutkan pendidikan nya di Univerisity of Cambridge yang London.


Biasanya, orang orang yang mendapatkan nilai terbaik di Universitas Brawijaya tersebut, akan mendapatkan beasiswa menempuh kembali pendidikannya di LN, terserah mau kemanapun.


Saat jam kelas selesai, Indri kembali mencari gara gara dengan Laurence. Saat melangkahkan kakinya, sengaja Indri mencegat kan kakinya saat Laurence melewatinya.


Indri dengan tujuannya agar Laurence terjatuh dan dipermalukan di kelasnya, malah terbalik.


" Auhh.. sakit dasar ******!" teriak Indri yang masih didengar oleh Laurence


" Lo! bilang apa tadi?" tunjuk Laurence dengan nada sedikit tenang, tetapi mengandung racun


" iya Lo, dasar ******!" lantang Indri lagi yang kedua kalinya karena terlihat kesal, rencana nya kembali pada dirinya sendiri.


Laurence lalu meneruskan perannya, dan mencekal dagu Indri dengan kencang.


" Lain kali kalau nilai orang itu ngaca terlebih dulu, biar ga jatuh ke bawah lumpur! Dasar J A L A N G!!" Seru Laurence dengan nada tak kalah tinggi nya. Dan melepaskan cengkeramannya pada dagu Indri. Laurence meninggalkan kelasnya setelah memainkan perannya.


Diikuti oleh Oktavia, Laurence memasuki kantin.


" Bu pesan es teh coffe coklat dan makannya mie ayam" seru Laurence dan berbalik ke arah Oktavia


"kamu?" tanyanya


" Gue es teh tarik aja Ren,"


" Oh oke. Bu es teh tarik nya satu"


Ibu kantin menganggukan kepalanya dan segera membuat pesanan mereka.


"Oktav, tadi siapa si yang tadi cari gara gara sama aku" ucap nya


" Oh itu, orang yang syirik sama lo, dan dia juga yang gue ceritain ke lo saat kita pertama memasuki kampus dan mencari gara gara sama lo" jawabnya


" Emang itu orang, gaada takut takutnya ya Tav, udah aku ancam dan pelototin juga ga takut tuh orang"


Sambil mengaduk adukkan minumannya, Laurence terus menggerutu pada Oktavia.


" Ya, lo gausah dengerin dia, kita masing masing aja"


" Tapi kan aku tadi udah ga ngelayanin dia, tapi dia mencoba menjegal dengan kakinya, kalau tadi aku ga liat mungkin udah jatuh dan jadi bahan Bullyan " seru Laurence terus menggerutu


" Bolehlah main main seperti tadi ,asal kita tahu batasan ga terlalu nyakitin dia, Nanti kita yang bahaya. Soalnya orangtua Indri Donatur tetap kampus kita" celoteh Oktavia panjang lebar


bersambung...