
Mansion Addison.
Wanita paruh baya itu tengah menatap putra satu satunya itu dengan jengah. Ia tak habis pikir dengan wanita pilihan putranya yang selalu gagal dimatanya.
“Disson, kau mendengar Mommy tidak!” gumamnya dengan sedikit membentak.
“Iya Mom, Disson dengar. Mommy akan memilihkan wanita untuk Disson.” Gumamnya dengan patuh dan mantap menjawab pertanyaan sang Mommy.
“Bagus, jadi hari ini kita bertemu dengan anak dari teman Mommy” seru nya dengan tersenyum puas menatap putra satu satunya.
“Tapi Mom, jika itu tidak cocok maka Disson tidak akan setuju.” Tegasnya menatap Mommy dengan mantap.
“Kau tidak berhak menentukan pilihan Mommy. Dan Mommy yang akan memastikannya!” Ucap nya menatap tajam putranya.
“Maksud Mom?!” dengan sedikit tidak terima ia sedikit meninggikan suaranya.
“Ya, Mommy yang berhak menentukan dia pantas untukmu atau tidak. Jika ia, Mommy akan menikahkan kamu dengannya.” Dengan tegas sang Mommy berucap seperti itu tanpa mendengar perkataan tidak setuju yang sudah dilontarkan berkali kali oleh Aldebaron.
Aldebaron yang sudah dari tadi hilang kesabaran, ia kemudian menggebrak meja karena tidak setuju dengan Mommy nya yang selalu memaksakan kehendak dan selalu memutuskan di satu pihak saja.
“Tidak bisa begitu Mom, ini hidupku dan aku berhak menentukannya!” Gumamnya dengan membentak karena sudah dipenuhi amarah diubun ubun.
“Kamu berani membentak Mommy demi wanita itu?” seru Mommy lembut dengan berkaca kaca pada putranya.
Aldebaron menunduk sesal, bukan maksudnya yang disengaja membentak sang Mommy. Namun ia hanya dipenuhi hawa nafsu karena ulah sang Mommy yang selalu memaksakan kehendaknya, tanpa perduli dengan perasaannya.
“Bukan begitu Mom, Disson.... Disson hanya tidak ingin Mommy selalu memaksakan kehendak Mommy. Yang justru membuat Disson tertekan, Mommy tidak tahu kebahagiaan Disson ada disana dengan Laurence” Sahutnya dengan merendahkan suaranya. Merasa sesal karena telah membentak orang yang melahirkan nya.
Didalam ajaran Islam pun ia tidak diperbolehkan membantah bahkan membentak orangtuanya, apalagi orang yang melahirkan nya, ibunya.
Aldebaron selalu mendengar ceramah ceramah yang dilontarkan Abang Indra pada Laurence. Itu tidak menutup kemungkinan ia selalu menuruti ajaran Islam secara tidak sadar.
“Ya, dan kau tahu pantangan pantangan keluarga kita. Apalagi kita ini bangsawan Disson!” gumam wanita paruh baya itu menatap tajam putranya.
“Disson tahu, dan itu tidak berlaku sekarang Mom. Lihatlah bangsawan diluar sana banyak yang menikah dengan orang selain bangsawan! Tapi Mommy lebih mempertahankan pantangan lama dari zaman dulu itu!” gerutu nya dengan sabar.
“Tapi tetap Mommy tidak setuju sayang, apalagi dia terlihat seperti memoroti Laura. Bukan tidak mungkin kan dia memoroti kau juga Son, ” seru Mommy dengan menatap lurus ke depan.
'Ada ada aja si Mommy ini. Siapa lagi Laura, mengarang cerita saja' batinnya bergumam.
“Siapa Laura Mom?” tanya nya dengan mengernyitkan dahinya.
“Dia pernah kesini bersama Laurence, dan mengaku kalau Laurence sudah dianggap anak oleh nya sendiri” seru nya dengan jelas. Tanpa sadar, ia sudah membuka kedoknya menutupi kesalahan dirinya mencegah Laurence untuk bertemu Aldebaron saat itu.
“Jadi Laurence pernah kesini?” tanya Aldebaron dengan pura pura tidak tahu dan menautkan sedikit alisnya.
“Aduhh salah ngomong lagi!' batinnya merutuki omongannya sendiri.
“Maksud Mom, Mom mengawasi nya karena ingin tahu Laurence seperti apa. Bukan kesini” seru nya dengan gelagapan.
'Ternyata Mommy membohongi ku dan mencoba mengelak nya, padahal Mommy tahu aku tidak suka kebohongan.' Batinnya menatap dalam manik Mommy nya.
Tidak peduli dengan penjelasan sang Mommy, Aldebaron melajukan kakinya menuju kamar nya. Ia sangat tidak suka dengan kebohongan, apapun itu berupa kebohongan Aldebaron sangat tidak menyukai nya.
____________🌨️🌨️🌨️______________
“Aku.. aku sangat mencintai mu Laurence, ” ucap Raka dengan tulus.
“Tapi aku tidak mencintaimu Raka. ” Seru nya dengan singkat.
Mereka terdiam dengan perasaan masing masing, hingga Laurence memegang tangan Raka seraya mengusapnya perlahan. Ia dengan perlahan lahan berbicara pada Raka.
“Raka, kau tahu kita sahabatan hingga dua tahun. Dan selama dua tahun itu aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat. Tidak kurang dan tidak lebih. Dan kamu pun sudah tahu aku hanya mencintai Aldebaron dari dulu hingga sekarang, kau tahu itu Raka.” Seru nya dengan lembut.
“Carilah wanita yang lebih baik dan cantik dariku, kau berhak bahagia. Kau tahu?Selama ini aku cuek kepadamu agar kau menyerah dan tidak ingin dengan perkataan ku kau terluka Raka, aku .. aku sudah menyayangi mu sebagai sahabat” Lanjutnya dengan tulus dan menatap dalam manik Raka.
“Apa tidak ada sedikitpun, Laurence?” tanya nya dengan tulus menatap mata Laurence apakah ada sedikit cinta atau rasa untuknya.
bersambung....
Jangan lupa like dan comment ya✨