
Apartment Own Towne Village, Cambridge.
Setelah melakukan drama yang membuat mereka lelah, terutama Aldebaron. Kini Laurence terbangun terlebih dulu sebelum Aldebaron.
Jangan tanya mereka sekamar atau tidak, tentu saja tidak. Karena Laurence pantang menuruti keyakinan nya untuk tidak satu kamar dengan seorang lelaki dewasa.
“Kak bangun!Ini sudah hampir pagi” teriaknya tepat pada telinga Aldebaron.
“Hmmm” gumam Aldebaron dengan menggumam tanpa membuka matanya.
“Ham Hem ham Hem!Cepatlah kak katanya kau mau ke Bandara!” teriaknya tapi tidak membuat si empunya bangun, malah membuat Aldebaron membalikkan tubuhnya.
'Belum menjadi suamiku saja kau sangat susah untuk dibangunkan. Apalagi kau menjadi suamiku ckck. Tapi sayangnya aku cinta sama kamu kak' batinnya menatap kesal namun masih sadar.
“Ayo bangun kak!Aku akan bersiap siap sebentar lagi. Ini hampir pagi!” teriaknya seraya mengguncang guncangkan tubuh prianya.
“Kau tau baby, aku sangat lelah karena semalam kau selalu bercerita padaku dan aku sangat ngantuk” gumam nya dengan suara khas orang tidur tanpa membuka matanya.
“Yasudah kalau kau tidak bangun, aku akan berangkat duluan ke Rumah Sakit, kau bisa masak sendiri. Aku tidak punya banyak waktu!” omel nya menggerutu kesal.
' Tetap tidak bangun. Dasar kebo Badag!' umpatnya dalam hati.
'Harus memakai cara apa lagi aku membangunkannya ya Tuhan!'
Tring,
Sesuatu muncul di dalam otak bengek Laurence.
“Bangun bangun!Kebakaran” teriaknya seraya menyimprat nyimpratkan air ke wajah tampan Aldebaron.
“Mana kebakaran mana baby!” teriak Aldebaron langsung bangun dan terlihat dari wajahnya yang sangat cemas.
“Nah itu bangun!Ayo kita sarapan dulu” seru Laurence lalu menggandeng lengan Aldebaron.
' Ternyata dia membohongi ku. padahal aku sangat mengantuk sekali karena semalam diganggu olehnya' batinnya menggerutu namun tidak berani jika ia mengungkapkan nya langsung, takut dengan nenek sihir yang ada dihadapannya.
“Kenapa sih kak kau itu sangat kebo sekali!” gerutu nya karena masih kesal dengan perihal tadi.
“Yasudah sih, kan aku bukan kebo. Aku manusia baby, ” gumam nya tak kalah kesalnya.
“Makan dulu, biar kau tidak kelaparan kalau perjalanan ke Bandara.” Gumam nya melayani Aldebaron yang sedang merenggut kesal.
“Kenapa wajahmu kusut seperti karpet gorden dilipat delapan lipatan?” tanya nya menaikkan sedikit alisnya.
“Tentu saja aku masih sangat ngantuk baby. Kau sangat tidak mengerti!” omelnya merajuk.
“Kalau mau tidur tidur lagi aja.” Gumam Laurence.
Wajah yang semula merenggut kesal, kini berbinar binar dan mengangkat tubuhnya untuk kembali merebahkan diri.
Membuat Aldebaron mengurungkan niatnya untuk kembali tidur. Agar kekasihnya tidak marah seperti meong.
“Yayaya Tuan Putri memang berkuasa” gumamnya pasrah.
____________🌹🌹🌹_____________
Airport International
“Baby, makasih ya kau sudah mengantarku. Aku pasti akan sering kesini karena merindukan mu” gumam nya dengan raut wajah yang kelihatan murung enggan berpisah lagi dengan kekasihnya.
“Kak, kau jangan murung gitu. Sudah tua, kau janji padaku ya akan memperjuangkan hubungan kita.” Gumamnya nya meyakinkan Aldebaron.
“Baiklah, kau hati hati ya baby. Aku pasti akan memegang teguh keyakinan kita untuk menikah” ucap nya dengan melebarkan senyumnya.
Laurence melepaskan pelukannya, sebenarnya di dalam hati juga ia tidak ingin berpisah lagi dengan kekasihnya, setelah lama ia berpisah. Namun apa daya, dirinya tidak ingin Aldebaron melawan kedua orangtuanya demi dirinya.
_________.....................
Coventry, London.
Setelah sampai di kediamannya, Aldebaron disambut oleh para pelayan namun disambut tidak hangat oleh kedua orangtuanya.
“Ada apa Mom, Dad, kenapa wajah kalian seperti itu” tanya Aldebaron mengerutkan keningnya setelah melihat kedua orangtuanya yang tampak marah.
“Kau bisa bisanya mengingkari janjimu Son!” tegas sang Daddy yang terbiasa dingin namun kini ia mengeluarkan suaranya.
“Janji?” tanya nya tidak mengerti karena setahunya ia tidak berjanji pada sang Daddy.
“Jangan berlagak tidak tahu!Kau sudah membuat anak teman Mommy mu menunggu begitu juga dengan Mommy mu!” tegasnya menatap tajam putra satu satunya itu.
“Oh ya. Aku lupa Dad, Mom maaf.” Ucap nya menyesal.
“Bisa kau meminta maaf Son?!” Sinis Wufi Addison melihat putra nya tidak peduli dan melangkahkan kaki begitu saja.
“Tentu saja, aku baik tidak jahat seperti orang yang tidak bisa mengucapkan kata maaf.” Sinisnya tak kalah tajam secara tidak langsung menyindir orangtuanya yang telah merampas kebahagiaan nya dulu.
“Kau menyindir kami Disson?” tanya sang Mommy yang kini angkat bicara karena karena kelakuan kurang ajar putranya itu.
tiba tiba...
“Mommy, Dad, kakak aku datangggg” teriak seseorang dari luar memecah ketegangan tiga orang itu.
“Mom, Dad, kakak? Kalian kenapa wajahnya?” tanya Citra karena penasaran wajah mereka pada tegang semua.
bersambung....
Jangan lupa like dan comment ya🌹