Our Love Is Different

Our Love Is Different
Citra mengetahui



“Huum Nak, kakak mu memang sudah berpindah keyakinan, berbeda dengan kita” gumam Dady Wufi dibalik telfonnya.


Tentu saja Citra kini kesal mendengar ucapan sang Dady. Karena jika bersangkutan dengan agama, bagaimana pun ia tidak terima dengan kakak nya yang mengambil keputusan sepihak. Ia juga tidak menyetujui kakak nya masuk Islam, namun ia sudah setuju dengan hubungan sang Kakak.


Citra dengan kasar menutup telfonnya dan balik menelfon Aldebaron.


***


Ia mengkode kepada Laurence, agar bisa mengangkat panggilan sang adik, karena tidak biasanya Citra menelfon. Pikirnya.


“Sebentar ya baby, aku akan mengangkat telfon dulu” gumam Aldebaron lembut.


Laurence hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


“Ya Hallo Cit, ” gumam Aldebaron dibalik telfonnya.


“Cut cat Cit cit!Memangnya aku cicitmu apa!” gerutu Citra kesal dibalik telfonnya.


“Iya ada apa adekku sayang?” tanya Aldebaron dengan nada dimanis maniskan agar Citra ilfeel. Karena memang Citra tidak suka orang yang lebay.


“Ish apaan sih kak!Jangan lebay begitu, aku bukan kekasihmu!” seru Citra lantang dibalik telfonnya.


“Ckck, serba salah. Begini salah apalagi begitu. Dasar wanita!” ujar Aldebaron pelan.


“Lalu ada apa kau tumben menelfon ku?” Lanjut Aldebaron dengan bertanya to the point.


“Apa benar kau sudah berpindah agama?!!” tanya Citra dengan nada mengintimidasi dari arah jauh.


“Yes, kenapa?” Sahut Aldebaron mantap. Kini giliran ia yang bertanya. Ada masalah apa dengan perpindahan agamanya, pikirnya.


“Kenapa jika menyangkut agama saja kau pindah kak?! Kau tahu kami memegang teguh pada Tuhan Yesus. Dan kenapa kau malah ingkar!” gumam Citra menaikkan sedikit bicaranya.


“Bukan soal menyangkut atau tidak nya. Ini masalah keyakinan dan hati, aku sudah jatuh cinta pada Islam, dan jika kau tidak suka laukm diinnukum waliya diin” gumam Aldebaron dengan melontarkan sedikit dari isi Alquran.


“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Apa itu?” tanya Citra dengan penasaran. Karena jujur, ia tidak mengerti apa yang sedang kakak nya bicarakan tiba tiba.


“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku ” gumam Aldebaron santai dibalik telfonnya.


Lalu setelah mendengar jawabannya itu, sontak sang Adik menutup nya dengan kasar. Aldebaron hanya menghela nafas kasarnya.


'Semoga adikku cepat diberikan hidayah. Dan semoga Allah senantiasa membolak balikkan hatinya' batinnya menghela nafas kasarnya.


Melihat wajah lesu Aldebaron, wanita itu sedikit bingung dan khawatir. Apakah Mommy nya Aldebaron menyuruh nya untuk pulang, pikirnya. Jika benar hal itu, maka ia juga akan mengizinkan Aldebaron.


“Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” tanya Laurence tiba tiba.


“Adikku kini sudah tau aku berpindah agama. Mungkin Dady yang memberitahu nya. Huhhh, tidak mudah bagiku dengan semua ini. Semoga Allah melapangkan kesabaran kepadaku ya baby, ” gumam nya dengan menghela nafas kasarnya.


Keesokan harinya, Indra berangkat ke Bandara Soekarno Hatta untuk menjenguk adik kesayangannya. Karena ia mendapat telfon dari Aldebaron bahwa adiknya telah sadar. Dan dia langsung bergegaslah untuk meminta cuti pada atasannya. Karena Jack sedang sibuk, maka ia meminta izin pada Citra.


“Beginilah rasanya tidak mempunyai pasangan. Adik lagi adik lagi, ke bandara pun hanya sendiri” gumamnya pada diri sendiri dengan menghela nafasnya.


Penerbangan sangat cepat, ia lebih memilih tidur dalam pesawat mencurahkan rasa jenuhnya.


Tiba di Cambridge, ia langsung ke Addison Hospital. Tidak sabar ingin segera melihat dan memeluk adiknya yang sudah lama ia rindukan.


Addison Hospital.


“Nona, apa kau tahu dimana kamar rawat pasien bernama Laurence Angelina?” tanya lelaki itu kepada resepsionis.


“Ohh.........” resepsionis itu menjelaskan secara detail dimana kamar pasien bernama Laurence. Indra hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda mengerti.


tok tok tok


“Masuk!” gumam Aldebaron dengan nada tegas dan terkesan masih dingin.


Laurence membulatkan matanya senang, melihat Abang nya yang dirindukan itu kini ada dihadapannya.


Pria itu langsung menghamburkan pelukan kerinduan nya pada sang Adik, karena hanya Laurence lah harta yang harus ia jaga dan ia miliki satu satunya.


“Apa masih ada yang sakit?” tanya Indra dengan khawatir.


Laurence menggelengkan kepalanya, ia hanya masih betah di pelukan sang Kakak. Orang yang selama ini mati Matian menjaganya layaknya mengantikan orangtuanya sendiri.


“Aku sudah tidak ada yang sakit Abang. Kau tidak perlu khawatir” Sahut Laurence dengan melebarkan senyumnya.


“Oh ya?Apa kau sudah makan?Abang membawakan bubur spesial dari Indonesia dibawa langsung kesini” gumamnya dengan antusias. Ia tidak sabar menyuapi adik kesayangannya.


Laurence membulatkan matanya, tidak mungkin kan bubur itu tidak mencair, pikirnya. Namun ia menepis semua itu dan berusaha menerima nya apapun itu pemberian dari sang Abang, agar tidak membuat Abang nya sedih.


“Apakah iya?Mau dong...” seru Laurence dengan manja.


“Boleh. Tentu saja boleh. Abang suapi ya” gumamnya lalu mengambil bubur dan sendok itu dengan antusias. Lalu duduk di kursi disamping Laurence.


Saat ia membuka bagian bubur itu, realita nya tidak sesuai ekspektasi. Ia kemudian merenggutkan wajahnya.


“Maaf ya dek, buburnya sudah mencari menjadi air” ucap nya dengan lirih dan merenggut.


bersambung...


Jangan lupa like dan comment ya teman teman 🌹