
Laurence mencoba menikmati suasana baru nya di dalam rumah sederhana tersebut. Lalu terus berceloteh, bertanya kepada kakaknya.
" Abang, apa aku mempunyai ayah dan ibu, adik?" seru Laurence celingak celingukan bertanya dengan wajah penasarannya.
Ekspresi wajah Indra terlihat kembali murung, saat Laurence menanyakan hal itu. Ya, dia teringat kembali luka lamanya. Saat mereka semua berlibur. Saat itu terjadi kecelakaan pesawat. Dan yang selamat hanya dirinya dan sang adik, Laurence. Ia teringat kembali perkataan ibunya sebelum berlibur, dan kecelakaan pesawat tersebut seperti ada yang janggal. Karena cuacanya sangat mendukung. Dari awal mula perjalanan nya oke oke saja, tapi saat tepat mau mendarat, pesawat itu langsung terjun ke bawah tiba tiba, entah kehabisan bahan bakar, atau apalah yang bisa menyebabkan pesawat itu jatuh. Seperti nya ada orang yang sengaja.
Hingga, semenjak kehilangan orangtua nya, Indra terpaksa harus menjual rumah hunian mereka karena harus membiayai sekolah, kehidupannya dan Laurence.Ya, dia sangat terpukul sekali setiap mengingat kejadian itu.
" Dek, apa kamu ga ingat? saat itu kita mengalami kecelakaan di pesawat, hingga pesawat tiba tiba jatuh dan hanya kita berdua yang selamat dari kecelakaan tersebut. Semua orang tidak ada yang selamat, dan ayah ibu, mereka pun tidak selamat" gumam Indra dengan menekuk wajahnya tertunduk lesu
" Iyakah? tapi ko aku ga ingat ya, Ah tapi syukur lah berkali kali aku kecelakaan, aku tidak diambil dulu oleh sang pencipta " seru Laurence
" Iya dek, kalo kamu juga meninggalkan Abang sama seperti ayah dan ibu, Abang akan sangat terpukul dan kesepian sekali" gumam Indra lirih
" Iya, Abang tenang aja, Laurence janji akan tetap ada sampai Abang menikah" seru Laurence menguatkan kakaknya dan merengkuhnya.
" Kalau kamu sudah nikah duluan ketimbang Abang, berarti kamu mengingkari janji itu dek" gumam Indra menaikan satu alisnya
" Ya engga lah, pasti Abang duluan yang nikah, karena udh ketuaan" ejek Laurence dengan seringai liciknya
" Hah kamu ini dek! jangan berjanji kalau tetap bersama Abang, karena kita gatau apa yang kita alami kedepannya, tapi berusaha lah dengan apa yang kamu ucapkan karena janji itu hutang" gumam Indra mengacak acak rambut Laurence dan mencubit hidungnya dengan gemas.
" Ya tapi kan bangg, jangan gitu juga,.. ini rambut ku berantakan" gumamnya sembari mengerucutkan bibirnya
" yasudah dek, udah malam cepet tidur besok nikah.."
" Eh salah maksudnya kuliah dek, haha Abang salah ngomong"
" Yehh Abang, kebelet kawin ya makanya pengen nikah"
" Itu ada domba Mak eem minta dijodohin sama Abang hahahaha" ejek Laurence dengan tertawa terbahak bahak dan kabur ke dalam kamarnya.
*******************
Bunyi suara ayam berkokok, menandakan sang fajar mulai terbit, dan matahari belum menampakkan sinarnya.
Laurence menggeliatkan badannya karena terasa hari sudah pagi. Ia teringat ucapan kakak nya bahwa hari ini dia kuliah. Ya, dia masih belum mengingat apapun selama kuliah. Bahkan sahabat terbaiknya pun ia tidak ingat. Ya, padahal sahabat nya itu rindu dan cemas sekali pada Laurence, sahabat barbarnya.
Dan hari ini, ia diantarkan oleh kakaknya. Tidak ingin kehilangan adiknya lagi, ia mengantar Laurence hingga pada gerbang kampusnya.
"Kamu baik baik disana ya dek, belajar yang rajin jangan pulang terlalu larut dan jangan kecewakan Abang mu ini" gumam Indra lalu mengacak rambutnya dengan penuh sayang.
" Aduhhh ! Abang ini, sudah rapi malah diberantakin lagi! huh aku males lah gamau pulang sama Abang lagi" celoteh Laurence sembari menghentak hentakkan kakinya ke tanah.
" ternyata anak kucing suka sekali merajuk" gumam Indra menggeleng gelengkan kepalanya dan sedikit tersenyum. Lalu melajukan kembali kendaraan roda empat nya .
Dari arah kejauhan, seseorang menghampiri Laurence dan memeluknya hingga menangis
" Ren, lo kemana aja si selama ini?" seru Oktavia menghentikan air mata kecilnya
Laurence mengerutkan keningnya, dan.....
bersambung...
Jangan lupa like, komen dan vote ya sahabat readers ku💖