
" Iya tapi, kelakuan nya udah kelewatan tau! sumpah, mau dia anak orang kaya kalau dia yang salah pada kita ya kita harus ngelawan dong, masa iya kita diem aja kalau diinjak injak,.. kaya film 'Ku menangis aja'"
" Oke deh. Terserah lo aja ah, mari kita cabut. Satu kelas lagi terus pulang deh" seru Oktavia
" Satu kelas lagi, pas pulang ke rumah tugas nya nyampe berabad abad jadi ya percuma ga akan lega meskipun kita udah pulang, hadehhh" gumamnya sembari menggeleng gelengkan kepalanya
" Iya si ya" seru Oktavia menggaruk kepalanya yang tidak gatal
*********
Saat tiba di parkiran, mereka bertemu si biang kerok tukang rusuh, atau si makhluk astral kalau julukan yang diberikan Oktavia, kalian pasti tau kan siapa dia?
Ya, Sanca Pratama. Dialah orangnya. Sambil mengedip ngedipkan matanya pada Laurence, Sanca lalu berjalan dan mendekat ke arah Laurence.
". Eh cantik, kemana aja kamu, sudah lama ya kita tidak berjumpa" sambil bersiul, Sanca lalu menggoda Laurence dengan kata kata recehnya.
Bukannya suka, Laurence malah menjadi ilfeel pada Sanca. Dan tidak mengenalnya sama sekali, tiba tiba ia menggoda nya, Semakin membuatnya ilfeel saja.
Dengan wajah juteknya, Laurence tidak menghiraukan pria tersebut. Dan sibuk melihat jam tangannya menunggu sang Kakak menjemputnya.
Tidak sampai sana, Sanca terus mengejar Laurence dan tidak pantang menyerah terus mengejarnya. Sedangkan Laurence, selalu menghindar dan menghindar.
" Apapaan si lo!! pegang pegang tangan gue tanpa izin lagi! awas lo nyebarin virus di tangan gue !" ucapnya dengan sewot dan mengibas ibaskan tangannya
" Aduh cantik, ko kamu gitu sih sama aku yang ganteng ini, masa kamu ga tertarik si? orang orang disini mengejar ku dan kamu malah menolak ku, semakin penasaran aja" gumamnya
" Apapaan si lo! awas gue mau keluar! lo jangan terus terusan halangin gue kalo ga mau gue tinju adik kecil lo!" dengan nada mengancamnya Laurence menyentak Sanca
" Ya kamu harus kasih nomor telefon kamu dulu sebelum melangkah keluar, maka aku akan kasih kamu jalan keluar"
Belum sempat melanjutkan kata katanya, Laurence melihat Sanca lari terbirit-birit karena takut dengan ancamannya.
" Huh dasar pria pengecut! banci dasar!" celotehnya
Bremmmm... Bremmmm
Suara mobil tiba di gerbang kampusnya,
" Abang, Abang ko lama sih jemputnya!" gumamnya dengan manja
" Ban nya tadi bocor de, makanya wajar lama. Cepet ah naik Abang Masi ada urusan lain dek."
___________________
Aldebaron memejamkan matanya, ia melihat lihat ke arah Sofa, balkon yang setiap harinya selalu dihiasi Laurence. Ya, Aldebaron sangat merindukan gadis kecil tersebut. Ia jelas tersiksa, walaupun sudah sehari ia tidak bertemu, rasa rindu itu terus menyiksanya.
Wajarlah orang kasmaran kalau merindu gitumah wkwkk
Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur untuk bisa bertemu Laurence di alam mimpi. Aldebaron tidak ingin kakaknya Laurence tersebut semakin menjauhkan Laurence dengannya, ia tidak mau.
Makanya ia tidak berani ke rumahnya Laurence. Ya, walaupun Aldebaron orang berkuasa, nyatanya ketakutan nya lebih besar jika ia kehilangan Laurence. Sungguh, ia tidak mau lagi terpisah dengan orang orang yang disayanginya.
" Huh.. semoga bisa bertemu dengan wajah cantiknya di alam mimpi" gumam Aldebaron menghela nafas kasarnya
bersambung...