
Tenonet .. tenonet...
Handphone Indra berdering
“Hallo Oktav?Apa lo udh putusin?” tanyanya
“Huum udah, gue mau jalan soalnya hari ini gue shift pagi jadi bisa dinner bareng Lo Bang,..” seru nya dibalik telfonnya
“Yess!!” ucap Indra seraya mengepalkan tangannya dan menggerakkan dengan gembira sambil berteriak
Ia melirik sedikit ke arah ponselnya, untung saja Oktavia ga mendengar teriakan-teriakan nya. Sungguh sangat memalukan jika Oktavia mendengarnya.
'Sepertinya aku hari ini harus pulang cepat dan menyiapkan semuanya, agar nanti dia menyukai dinner denganku' batinnya seraya melebarkan senyumnya karena bahagia.
Sepertinya wanita itu sangat menghargai Abang Laurence, disela sela kesibukan dan pilihannya ia tetap memilih untuk dinner dengan Indra. Memang saat ini Sanca pun mengajaknya untuk makan malam, namun ia justru menolaknya karena alasan ada urusan lain yang lebih penting, ujarnya.
'Kenapa ya tiba tiba Abang ngajakin gue Dinner, apa iya dia ada hal penting yang mau dibicarain sama gue' batinnya dengan penasaran karena memang tumben Abang nya Laurence mengajaknya.
**********
Setelah sekian lama Indra menyelesaikan beberapa pekerjaannya, ia kemudian menggerak gerakan badannya hingga berbunyi.
ltekk.. ltukkk...
Setelah merasa lega, Indra kemudian melenggangkan kakinya keluar dan bersemangat untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk Dinner nanti.
_______________
tak tak tak
Suara high heels mengena tepat telinga indra. Ia melirik sedikit ke belakang, namun sedetik kemudian ia menatap kagum ke arah bidadari yang tiba-tiba mungkin terjatuh dari angkasa. Terbengong, ternganga, tercengang, itulah ekspresi wajah Indra saat ini.
Namun tiba-tiba tangan mungil bidadari itu mengagetkannya dari pikiran alam bawah sadarnya yang menatap kagum bidadari di hadapannya saat ini.
“Woy Abang! Lo kenapa natap gue gitu seperti tatap hantu?” tanyanya sambil berteriak menaikkan alisnya
“Lo kenapa sih teriak-teriak! gendang telinga gue bisa pecah karena teriakan emak-emak lo itu!” seraya menutup kedua telinganya dengan tangannya
“Hehe abisnya lo gitu amat mukanya kayak orang bego” seru Oktavia seraya terkekeh
“ Lo lo ngatain gue bego ya! Mau gue tabok rambut lo?!” ujar pria itu dengan nada sedikit kesal karena memang Oktavia ucapannya seperti Laurence yang nyerocos seperti jalan raya tanpa rem.
“Yaudah yaudah Abang, gue to the point aja. Lo tumben ngajakin gue Dinner?” tanyanya dengan merendahkan sedikit suaranya
“Ya mau aja, emang kenapa ga boleh ya? atau lo keberatan?” tanyanya balik
“Ya, nggak sih gue cuma nanya doang kan biasanya lo gak ngajak gue kaya gini yakan?”
“ Gue ada yang mau dibicarain sama lo Oktav,.. ”
Dengan tegang dan deg-degan, Oktavia semakin dibuat penasaran dengan Abang Laurence. Sedangkan hati Indra semakin berdebar-debar kencang saja jika setiap melihat Oktavia.
“Waw, amazing lo yang nyiptain ini sendiri bang?” tanya Oktavia balik karena terkagum kagum seperti pasangan romantis saja yang berada di film atau novel novel.
“Tentu saja kalau yang nyiptain ini orang orangnya, tapi ini hasil gue. Bagus ga?” tanya nya
Setelahnya, pria itu memegang tangan Oktavia yang lembut dan diusapnya. Sedangkan Oktavia semakin dibuat terkejut oleh kelakuan Indra yang tak biasa. Ia menarik kembali tangannya karena merasa canggung akibat perlakuan Indra.
“Maaf...” ucap Indra dengan lirih
“Maksudnya apaan bang?” tanya nya dengan sedikit canggung
“ Sebenarnya gue udh suka lo dari lama Oktav, cuma gue takut lo nolak gue terus ngejauh dari gue” ucap Indra dengan lirih menatap mata coklat Oktavia
Oktavia melirik ke arah samping, ia kemudian antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Abang Laurence. Ia sendiri bingung harus menjawab apa, karena memang sebenarnya Oktavia tidak punya perasaan lebih pada Indra, ia hanya mencintai kekasihnya yang sudah lama meninggal. Hingga saat ini, hatinya tertutup untuk seorang lelaki, karena ia takut lagi merasakan kehilangan yang membuatnya merasakan sakit yang amat amat pedih.
“Maaf Bang, gue mau jelasin dengan sedetail-detailnya nya ya. Lo pernah nanya gue ziarah ke makam siapa? Dan lo tau itu adalah cinta pertama gue yang ninggalin gue karena penyakit yang diderita nya, dan kami sudah berpacaran saat kelas 3 SMP hingga kelas 3 SMA. Saat itu Laurence pun gak tau hubungan gue sama kekasih gue itu, karena memang kita pacaran backstreet karena kita masih tahap pendidikan waktu itu, dan kisah cinta kita berakhir dengan tragis, dia menutupi penyakitnya dan tidak menampakan nya setiap kali saat dia bersama gue. Gu..gue.. masih belum bisa melupakan dia bang...” ucapnya kembali menangis dengan tersedu-sedu. Oktavia sudah berusaha melupakan kenangan manisnya dengan kekasihnya, namun ia juga sangat lemah jika kembali teringat dengan cinta pertamanya itu. Hingga dia belum melihat seberapa banyak lelaki yang berjuang untuk mendekatinya.
“Maafin gue Oktav, gue gak bermaksud ingetin lo sama mantan lo... Tapi gue beneran sayang sama lo Oktav, Lo bagaikan bidadari yang turun dari planet yang menyamar sebagai nenek sihir di hidup gue.” Ucap nya dengan sedikit lirih
plak
“Lo udh tau gue lagi nangis, masih bisa aja bercanda dasar Abang laknat lo!” seru Oktavia terkikik seraya menggebuk lengan Indra dan mengusap buliran air bening yang hinggap di wajahnya.
“Yah makanya lo jangan terlalu serius, kan nangis.. Udahlah lo lupain aja mantan lo itu, dan fokus menatap masa depan. Dan fokus juga sama gue hehe” ucapnya dengan terkekeh
“ Izinin gue semakin Deket sama lo Oktav, gue janji akan buat lo jatuh cinta sama gue” ucap Indra kembali menatap Oktavia
“Ini kan udah Deket Bang, lo mau sedekat apa lagi sama gue hah?!” omelnya dengan kesal
“Ya maksudnya kan dket sebagai laki laki dan perempuan gitu. Lo mah gitu aja meni gatau! Dasar awewe butut!” ucapnya tak kalah kesalnya
“Kan lo laki laki... Sedangkan gue perempuan. Jadi menurut lo kita Deket selama ini sebagai gay, banci, bencong gitu?” tanya nya dengan polos
“Ah Lo mah bikin mood gue hancur aja, ngerusakin suasana romantis aja lo!”
“Yaudah babang tampan, kita makan yu.. kasian makanan nya minta dimasukin ke kandangnya” seru Oktavia sambil menggaet lengan Indra dan mendudukkannya di kursi.
“Kebalik, dari tadi gue nyuruh kita duduk. Lo yang seharusnya gue layanin!” ucap Indra
“Dimana mana, wanita yang layanin lelaki, malah sebaliknya!” ucapnya tak ingin kalah bicara
“Memang ya, wanita selalu benarrrr” ucap Indra dengan menggunakan lihat r dengan panjang.
“Yaudah, jangan banyak omong markimak, mari kita makaaannnn!.... ” ucapnya dengan berbinar binar karena perutnya terasa dipijak pijak cacing yang sedang demo
bersambung....
Jangan lupa like dan comment ya. Like Semangat ku✨