
“Kau bisa menyerahkan gelang kaki itu terlebih dahulu padaku dan Laurence saat ia telah sadar dan sembuh dari masa kritisnya” ujar Indra dengan mantap.
Laura segera menganggukkan kepalanya, ia terlihat bodoh saat ini karena ingin memang semuanya terbongkar. Laura tidak ingin berlarut larut dengan semua ini.
Laura segera mencari gelang kaki dan memastikan gelang kaki tersebut ditaruh didalam tasnya.
Meraba raba ke dalam tas yang sangat terisi dengan banyak barang itu, ia segera mencari sesuatu yang dituju nya saat ini.
“Kemana ya gelang kaki itu. Aku tidak pernah salah menaruh nya disini. Ini tidak mungkin hilang, ya.” gumamnya pelan namun hatinya terlihat bimbang karena itulah jalan satu satunya mencocokkan gelang kaki itu.
Namun ia tidak berfikir, masih banyak jalan lain seperti test DNA yang akan membuktikan semua ini lebih akurat. Itulah otak nya yang terlalu cepat tanggap menerima informasi tentang anaknya.Terlalu nge blank.
“Aku harus mencarinya di rumah, ya benar rumah.” Gumam nya pada dirinya sendiri yang terlihat cemas mencari gelang kaki yang sangat berharga itu.
“Kau mencari ini?” tanya Aldebaron dengan memperlihatkan benda yang dicari Laura saat ini.
Laura melebarkan senyumnya, karena ternyata benda itu tengah ditangan kekasih anaknya.
Ia menggapai benda itu, namun Aldebaron malah mempermainkannya.
“Kau ingin mendapatkan ini?” tanya Aldebaron dengan serius menatap manik Laura.
“Tentu saja, itu hidup dan mati ku Tuan Aldebaron.” Sahut nya dengan kesal.
“Baiklah, Mrs. Laura yang terhormat, kau akan mendapatkan ini setelah kau memberikan keterangan kepadaku” gumam Aldebaron dengan aura kepemimpinan nya yang memang tidak ingin dibantah.
“Kau ingin aku memberikan keterangan apa?” tanya nya santai.
“Apa benar hilangnya Putrimu dan kini memang dipastikan kekasih ku lah Putrimu?Apa benar begitu?” tanya Aldebaron dengan tegas.
“Ya, aku ingin memastikannya. Maka dari itu kau harus memberikan gelang kaki itu kepadaku ” ujar Laura.
'Awas kau Aldebaron, jika kau memang calon menantuku kau akan ku kerjai hahahaha' batinnya terbayang apa yang akan dilakukannya nanti karena Aldebaron mempermainkan nya. Seperti nenek sihir saja.
“Baiklah, kau boleh memegang benda ini.” Gumam Aldebaron sembari melemparkan gelang kaki itu terhadap Laura dan memang sudah pas ditangkap di tangan Laura.
_____________🌧️🌧️🌧️_____________
Aldebaron langsung ke ruang rawat VVIP Laurence. Ia kemudian mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya yang sudah sangat lama meninggalkannya.
“Cepat sembuh baby, kau menyakitiku. Aku sangat terpukul sekali dengan kejadian semua ini. Bangunlah, kini tidak ada penghalang lagi antara Mommy dengan kita” gumam pria itu namun tidak ada sahutan.
Laurence tetap bertahan tidak bergeming. Percuma saja pria itu sampai menangis darah, Laurence tidak akan membuka matanya. Karena ia hanya merespon apa yang dikeluarkan dari mulut Aldebaron.
Tentu saja Laurence mendengar nya, namun ia tidak bisa membuka matanya karena terjebak di dunia yang berbeda dengan Aldebaron.
Pria itu menatap naas terhadap dirinya dan Laurence. Kisah cinta yang sangat menyakitkan karena Laurence selalu saja berkorban untuknya. Setelah ini, ia pastikan akan lebih ketat menjaga Laurence dari marabahaya yang menimpanya.
Apalagi jika Laurence terbukti anak kandung dari Laura. Pasti banyak musuh yang akan mengincarnya, termasuk dari keluarga ayah kandungnya. Pikir Aldebaron.
Terus menatap dan menelisik wajah cantik Laurence yang tenang tanpa terganggu dengan suaranya yang selalu merindukan Laurence.
“Kau harus cepat sembuh baby, semua orang menunggumu. Aku menunggumu untuk bisa bersama dalam kehidupan yang lebih serius. Bukalah matamu baby, kau harus cepat membuka matamu ” racau Aldebaron yang terus menerus bergumam dan menangkup wajah Laurence dengan sayang.
Tetap tidak membuka matanya, pria itu tersadar dan akan melafalkan apa yang selalu ia lafalkan saat ia berada di Rumah Sakit dengan Laurence.
Melafalkan surah Yasin dengan tenang, pria itu dengan fokus membacakan ayat suci Al-Quran yang saat ini menjadi pegangannya.
Setelah beberapa menit ia melafadzkan itu, Aldebaron menilik kembali Laurence apakah ia sudah sadar atau belum.
Kemudian tertidur karena ingin selalu berada di dekat Laurence. Tidak ingin beranjak dari sana sampai Laurence nya membuka matanya dan membuatnya tenang.
“Seharusnya saat ini kalian bahagia menjalani rumah tangga kalian.” Gumam wanita paruh baya itu sendu menatap putranya yang tidak pernah lelah dalam menjaga Laurence agar bisa cepat membuka matanya.
“Seharusnya aku tidak memisahkan kebahagiaan anakku. Aku memang ibu yang sangat jahat!” gumamnya menatap sendu terhadap dirinya sendiri.
bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya ✨