
Naima sudah lebih baik, gadis itu kembali bersekolah. Ia tak mengatakan apapun ketika ditanya oleh Agung, pria yang ia panggil Kakek.
Agung pun tak memaksa. Ketika naik mobil ada keraguan dalam hati gadis itu. Ia sudah meminta ibu yang mengasuhnya membawa bekal lebih banyak dan juga ongkos pulang jika ia ditinggal lagi seperti kemarin. Darni pun memberikan uangnya pada Naima.
"Naima pinjam Bu," ujarnya lirih.
"Tidak Nak. Ini untuk kamu, gunakan jika butuh. Simpan jika tidak ya," ujar Darni sedih.
Ia memang digaji bekerja di sana. Tetapi gajinya habis untuk biaya pengobatan dirinya. Naima menatap uang sepuluh ribu sebanyak lima lembar itu. Ia menyimpannya di dalam tas.
Sampai sekolah, Naima banyak diam, ia begitu tenang dan tak banyak menjawab pertanyaan guru yang berada di depan kelas. Biasanya Naima begitu aktif menjawab semua soal.
"Naima tau jawabannya?" tanya guru yang mulai heran.
Naima memilih menggeleng tanda tidak tau. Naima benar-benar habis suaranya. Bel istirahat pun berbunyi.
Naima memilih duduk kembali di sebuah taman. Gadis kecil itu menatap ilalang yang berbunga cantik.
"Andai aku ilalang ...."
"Aku hanya mengharap matahari dan hujan juga malam untuk pertumbuhanku," lanjutnya.
Buliran bening jatuh, ia masih berharap kedua orang tuanya hidup kembali dan menyongsongnya serta memberi pelukan hangat. Bel berbunyi tanda masuk ke kelas.
Naima masuk, ia melihat tasnya terbuka. Gadis itu panik setengah mati. Ia pun memeriksa apa uang pemberian Mbok Darni hilang.
"Hilang ... hiks ... uangnya hilang ...," gadis itu pun tak kuasa menahan tangisnya.
Sementara di kantin seorang anak baru saja mendongakkan wajah karena baru mentraktir teman-temannya makan.
"Nah gitu dong Do. Jangan kita mulu yang traktir kamu!' ujar salah satu murid laki-laki setengah menyindir.
"Iya, maaf ini gue juga baru ngumpulin uangnya. Maaf ya nggak bisa jajanin kalian yang mahal," ujar Dodo dengan nada menyesal.
"Santai aja Do," ujar Ferdy menepuk bahu temannya itu.
Ketika masuk kelas, Dodo melihat Naima menangis pilu. Sejenak ia merasa bersalah, tetapi ia sudah tidak sanggup menahan ledekan semua teman yang mengatainya numpang jajan gratisan.
Remaja laki-laki itu pun melewati Naima dan duduk di tempatnya. Semua masuk kelas. Naima yang terisak pun tak dipedulikan gurunya.
"Naima jika kamu menangis terus. Sebaiknya kamu keluar dan tidak ikut pelajaran Ibu!" hardik guru itu kesal karena terganggu.
"Iya Bu ... keluarin aja!" teriak Dodo ikut memprovokasi.
"Maaf Bu ... uang saya hilang," Naima mencoba meminta pengertian gurunya.
"Terus apa urusan Ibu. Memang ibu yang nyuri uang kamu?!" sang guru tersulut emosi.
"Bukan begitu ...."
"Keluar kamu!" usir sang guru pada Naima.
"Bu ...."
"Saya bilang keluar!" bentak guru itu lagi.
Dengan langkah berat, Naima keluar kelas. Langkah gontai menuju taman sekolah. Gadis itu menumpahkan lagi air matanya di sana. Bel tanda akhir pelajaran pun berbunyi. Semua berhamburan keluar kelas setelah guru mereka keluar. Naima kembali ke kelas, ia tak menemukan tasnya.
"Bu tas saya mana?" tanyanya pada sang guru yang tadi mengusirnya.
"Kenapa tanya Ibu!" teriak guru itu.
"Bu saya meninggalkan tas di kelas!' teriak Naima juga.
"Nggak tau!" bentak guru itu.
"Kembalikan tas saya Bu!" teriak Naima.
"Eh ... kamu malah bentak ibu ya?" guru perempuan itu tak terima.
"Ada apa ini?" tanya kepala sekolah datang.
Guru itu tiba-tiba ciut nyalinya. Kepala sekolah termasuk orang yang begitu disiplin, pria itu tak menolerir siapapun.
"Tas saya hilang di kelas begitu juga uang saya!" lapor Naima.
"Dia bohong Pak, saya memang mengajar di kelas dia. Saya keluarkan karena dia tak membawa alat tulisnya.
"Ibu yang bohong!"
"Naima!" tegur kepala sekolah tak suka nada bicara salah satu murid teladannya itu.
"Tuh, memang dia kurang ajar Pak. Dari tadi buat saya emosi, udah nggak bawa alat tulis, bilang uangnya hilang lagi!' sulut Bu guru membakar situasi.
"Jadi Naima tidak membawa alat tulis begitu?" tanya kepala sekolah.
"Iya Pak, dia nggak bawa alat tulisnya, makanya saya keluarkan dari kelas!" jawab guru itu tegas.
Pertanyaan kepala sekolah membungkam guru perempuan itu. Pak Sulis adalah guru matematika yang paling killer dibandingkan guru lainnya.
"Mungkin Pak Sulis lagi baik hati," jawab asal guru perempuan itu.
"Kita cek kamera pengintai!" ujar kepala sekolah yang langsung membuat guru itu ketakutan setengah mati.
"Pak nggak usah lah, masa Bapak tidak percaya saya," ujar guru itu mencoba merayu.
Naima melihat benda bulat di dinding, ia sangat yakin jika dirinya sudah ditinggal oleh cucu kakek angkatnya itu.
"Apa peraturan itu kamu yang buat Bu Nar?" tanya kepala sekolah geram.
Kamera pengintai dinyalakan. Benar saja, Bu Nar mengambil tas Naima dan menyembunyikan di di laci kerjanya. Bahkan uang yang dicuri ketahuan.
Tas dapat diambil tapi tidak uang pemberian dari ibu yang mengasuhnya. Halaman parkir kosong, Naima melihat lagi tas dan mengeluarkan bekalnya.
"Untung isinya nggak dibuang," gumamnya lirih.
Naima memakan isinya dengan lahap, ia memang sangat lapar karena mengumbar banyak emosi. Bu Nar diskor oleh kepala sekolah karena berlaku sewenang-wenang terhadap murid. Sedang untuk pencuri uang Naima akan dipanggil besok hari.
Naima melangkah kakinya. Kepala sekolah melihat Naima yang berjalan kaki. Pria itu menghentikan mobilnya.
"Nak?"
"Saya ditinggal lagi Pak," jawab gadis itu.
"Naiklah, Bapak antar," ajak pria itu.
Tadinya Naima menolak, kepala sekolah memaksanya. Akhirnya gadis itu pun naik ke mobil mewah itu.
"Kamu diangkat oleh keluarga Lakso kan?" tanya pria itu.
"Iya Pak," jawab Naima lirih.
"Bapak antar ke sana ya," Naima mengangguk.
Ketika sampai gerbang rumah. Naima turun dari mobil. Sopran membuka pintu gerbang.
"Non," sapanya ramah.
Naima hanya mengangguk, ia masuk ke dalam setelah mobil yang ia tumpangi pergi.
"Wah ... masih kecil sudah menggoda suami orang ternyata," hina Sofia ketika Naima masuk rumah.
Naima menatap nyalang pada perempuan yang pantas ia panggil nenek itu. Sofia sedikit bergidik, ia sangat ingat apa yang dibisikkan oleh suaminya.
"Jika kau melukainya. Bersiaplah kita tidur di kolong jembatan!"
Sofia menggeleng, Darni langsung menyambut Naima dan membawanya masuk. Perempuan paru baya itu kesal luar biasa. Tapi untuk menghardik Darni ia juga tak berani.
"Sialan!" umpatnya pelan.
"Kau benar-benar tak becus!" bentak Agung ketika di rumah.
"Kok aku yang disalahin sih Mas?!' teriak Sofia tak terima.
"Bukan aku yang suruh Rendra untuk meninggalkan anak itu begitu saja!" lanjutnya membela diri.
"Bahkan kau memasang cucumu untuk pembelaan diri?" desis Agung tak percaya.
"Bagaimana jika kumarahi saja Pratma?"
"Kenapa kau marahi putraku! Dia tak bersalah!" teriak Sofia membela putranya.
Agung menggeleng tak percaya. Mestinya seorang nenek akan lebih sayang pada cucunya.
"Aku akan mewariskan perusahaan pada Rendra. Bukan Pratma!" tekan pria itu tegas.
"Nggak bisa gitu dong Mas!" teriak Sofia tak terima.
"Diam!" bentak Agung murka.
"Jangan sampai aku memenjarakan putra kesayanganmu itu. Kau tau, dialah yang membuat perusahaan kita bangkrut!"
Blam! Pintu dibanting keras. Sofia sampai terjengkit, satu fakta baru jika putranya korupsi entah untuk apa.
"Aarrggh!" teriaknya putus asa.
Bersambung.
Ah ... keluarga kacau.
Next?