
Naima mengayuh sepedanya kembali. Gadis itu bangun sedikit pagi karena ada kegiatan di sekolahnya.
Agung berteriak pada gadis itu, tetapi Naima memilih untuk tetap mengayuh sepedanya. Sopran bingung, pria itu menatap majikannya.
"Ya sudah, nanti saja ketika pulang kau jemput Naima. Mulai sekarang dan seterusnya!" perintah pria itu.
"Baik Pak!" angguk Sopran lalu membungkuk hormat.
Agung berangkat bersama supir pribadinya. Sofia menggeliat dari ranjang. Entah berapa ronde sesi panas yang ia habiskan bersama suaminya itu. Sofia begitu terkejut dengan perilaku Agung yang berubah sedemikian rupa.
"Baru kali ini dia menembak langsung ke dalam. Biasanya dia memakai pembungkus untuk bermain," Sofia menatap kendaraan suaminya yang keluar dari mansion mereka.
"Baiklah, sebagai gantinya. Akan kuantarkan makan siang," ujar wanita itu bermonolog.
Andre menatap miris pada Naima yang mengayuh sepeda ke sekolah. Pria itu mengikuti cucu dari atasannya. Jarak yang begitu jauh, membuat tubuh Naima berpeluh.
"Kuat sekali!" puji Andre.
"Apa dia sama kuat dengan kakeknya?" tanyanya lagi lirih.
Danar memang pria kuat. Jika saja ia tak drop akibat terlalu memikirkan pekerjaan yang tak ada habisnya. Danar adalah sosok yang begitu kuat dan ditakuti oleh siapapun.
"Aku ingin tahu sekuat apa Naima," monolog pria itu lagi.
Pria itu menekan pedal gasnya. Mencoba memepet sepeda yang dikayuh Naima. Gadis itu melirik arah kanannya.
Melihat ada kendaraan yang seperti hendak mencelakainya. Naima langsung naik ke trotoar. Andre tersenyum melihat kepintaran gadis itu. Lalu sepeda Naima berbelok ke gang kecil yang tak mungkin dilewati oleh Andre.
"Berarti dia sudah mengenali daerah ini!" gumam pria itu lagi.
Andre langsung mempercepat laju mobilnya. Pria itu sampai di sekolah Naima. Gadis itu sudah masuk ke kelasnya.
"Oh ternyata, Nona bersekolah di sini?" lanjutnya bermonolog.
"Kau keterlaluan Agung. Kupastikan, kau tak akan mendapatkan sepeserpun uang milik Nonaku!" tekan Andre marah.
Baru ingin menekan satu nama di layar ponselnya. Andre memiliki ide yang sangat brilian.
"Bagaimana jika Nona Naima menyadari jika selama ini uangnya dicuri oleh Kakek angkatnya sendiri?"
Seringai keji dipancarkan. Menghukum penjahat tentu ada caranya sendiri. Terutama yang dilawan adalah penjahat profesional seperti Agung Lakso.
"Oh ... kupastikan kau akan gulung tikar Lakso. Kau harus membayar semua penderitaan Nona Naima Az-zahra selama bersamamu!"
Andre, tersenyum puas dengan idenya. Memang butuh waktu, karena Naima masih terlalu muda.
"Tidak apa-apa. Tunggu ia bekerja di perusahaan milik Lakso. Akan kubuka kebusukan pria itu langsung dalam data perusahaan. Nona ... bersabarlah!"
Andre memutar kemudi. Pria itu akan memulai penyelidikan tentang pengambil alihan kekayaan Naima secara ilegal oleh Agung.
"Satu persatu dulu ... kau nikmati saja uang milik Nonaku sekarang. Nanti, kau harus bayar dua kali lipat Lakso. Aku pastikan itu!" tekad Andre.
Sementara itu, pergerakan perusahaan Agung mulai membaik. Pria itu benar-benar mempergunakan pergerakan saham dan keuntungan yang didapat. Mendompleng pada perusahaan milik Naima.
"Tinggal mengubah sedikit data ...," gumamnya sangat pelan.
Waktu berlalu begitu cepat. Naima lulus dengan nilai terbaik. Gadis itu langsung ditempatkan sebagai staf management oleh Agung.
"Kakek aku nggak mau ...."
Naima tadinya menolak. Tapi, Agung tetap dalam pendiriannya.
"Kau bekerja di perusahaan Kakek, Cu. Oh ya, hanya satu tahun saja, sudah itu kamu akan kakek tunangkan dengan Rendra!"
"Tapi ...."
"Aku tidak mau Kek!" tolak Rendra cepat.
"Kakek tak butuh penolakan! Menurut atau semua fasilitas kakek cabut!" ancam Agung.
"Dan kau Naima. Kau bisa kehilangan akses bekerja di manapun jika menolak!" lanjutnya pada Naima.
Gadis itu diam. Rendra mengepal tangannya erat. Sedang Sonya tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu seperti kehilangan semua rencana untuk menjalankan misinya.
"Kau senangkan, bertunangan denganku?" desis Rendra sinis pada Naima.
Naima menjadi sosok sangat sederhana. Agung memang memberikan kartu debit tapi tak lebih dari sepuluh juta satu bulan. Naima tentu harus berhemat, gadis itu ingin pergi dari rumah itu, tapi kesehatan Darni jadi taruhan.
"Aku bossnya. Ingat itu!" tekan Rendra tak mau kalah.
"Di mataku ... kau tak lebih dari anak seorang pembunuh!" tantang Naima begitu berani menatap Rendra.
Rendra mencekik leher Naima. Gadis itu memberikan pergerakan kecil dengan menyelipkan tangan ke cekikan dan memutar pergelangan tangan Rendra kemudian menguncinya kuat-kuat.
"Aarrggh!" teriak pemuda itu kesakitan.
"Kau pikir kau kuat?" tanya Naima dengan nada menyindir.
"Enyahlah!"
Naima mendorong kuat tubuh Rendra hingga terjungkal. Pemuda itu kesakitan, matanya nyalang melihat Naima yang tersenyum sinis padanya.
Gadis itu pergi meninggalkan Rendra yang begitu kesal. Ia pria sejati, tetapi menghadapi sosok mungil seperti Naima. Tenaganya seperti tersedot.
Mereka berdua tadi jauh dari keluarga. Agung menatap kejadian itu dengan pandangan nanar. Sofia hanya tersenyum sinis.
"Gadis merepotkan. Sudah diangkat menjadi seorang Lakso. Tetapi malah bertindak seperti preman!" ujarnya begitu kesal.
Agung tak mengatakan apapun. Anna dan Pratma hanya diam saja. Anna sudah lelah dengan sandiwara rumah tangga yang jauh dari kata bahagia.
"Kita bercerai saja," pintanya pada Pratma.
Pria itu menoleh pada wanita yang telah memberinya tiga anak. Tampak kelelahan di wajah Anna yang muram.
"Baiklah jika itu membuatmu bahagia," sahut Pratma juga menyerah.
"Aku bawa Renita bersamaku," ujar Anna lagi.
Pratma hanya mengangguk setuju. Reinhart sudah memiliki perusahaan kecil sendiri. Pemuda itu memang tidak dianggap oleh sang kakek karena hanya mementingkan Rendra sebagai ahli waris pertama.
"Kita tidak perlu mengumumkan perceraian ini. Biasa saja, tak usah heboh,"
Anna menatap wajah sang suami yang tengah memandangi mertuanya.
"Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku?" tanya wanita itu.
"Kita bisa pergi dan mulai dari awal. Reinhart mengajak kita hidup bersama dengan kesederhanaan," lanjutnya begitu lirih.
Muka Pratma menoleh pada istrinya. Satu pengharapan besar didapat dari wanita itu.
"Kau masih ingin denganku setelah aku berkali-kali menyakitimu?" tanyanya tak percaya.
"Aku harus bagaimana lagi?" kekeh Anna.
"Jujur, aku ingin sekali hidup tanpamu. Bahagia sendiri," sambungnya.
"Tapi, kau adalah ayah dari ketiga anakku. Aku tak mau Renita tak menganggapmu sebagai ayahnya," jelasnya panjang lebar.
"Kita tinggalkan Papa dan Mama," ajaknya.
"Tapi Papa pasti marah," Pratma masih ragu.
"Tidak akan selama Rendra belum mewujudkan mimpinya," sahut Anna lagi.
"Apa ... apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Pratma bingung.
Anna menggeleng pelan. "Kita tonton saja sampai akhir sayang."
Pratma mengangguk, ia akan mengikuti apa kata istrinya. Pergi meninggalkan hunian yang seperti neraka baginya.
"Aku tidak tau. Apa mereka benar-benar menyayangiku sebagai putra mereka," gumamnya lirih.
"Atau hanya sebagai komoditas dan identitas ahli waris belaka?" lanjutnya bertanya.
Keduanya pun pergi meninggalkan Agung dan Sofia. Dua sosok yang masih bersama. Jika Agung ingin membangkitkan lagi keterpurukannya, sedang Sofia ingin menenggelamkan Agung sedalam mungkin.
Bersambung.
Ah ... atur aja hidup kalian.
Ayo Andre ... buka topeng Agung dan kembalikan semua harta yang dirampas!
next?