
"Hai ... apa yang kau lakukan!" sentak Andre.
Pria itu menghalangi laju Saskia. Ia sangat tau maksud dari gadis itu yang hendak mengotori baju nona mudanya.
"Saskia!' sentak Neil marah.
Naima menahan laju pria itu dengan langsung merangkul lengannya. Tatapannya meminta Neil agar menenangkan diri.
"Aku tidak sengaja!" teriak Saskia tentu saja berbohong.
"Nona, jangan menipuku. Kau ada di sana dan mengambil wine. Untuk apa kau berjalan sebegitu jauh dan tiba-tiba tersandung di dekat Nona mudaku!' sambar Andre langsung pada intinya.
"Aku tidak ...."
"Maafkan kami Tuan Hendrawan!' ujar Jeane memotong perkataan Saskia langsung.
Wanita itu menarik paksa Saskia. Gadis itu setengah berontak. Neil yang memang tak pernah suka kehadiran gadis itu dari dulu ingin mengikuti keduanya.
"Sebentar sayang. Ada yang harus aku luruskan terlebih dahulu," ujarnya.
"Mas ...."
"Percaya sayang, oke?"
Naima pun mengangguk. Charles meminta maaf langsung pada dua tamunya. Sungguh ia juga menahan amarahnya. Baju Andre sudah ditangani. Pria itu menolak menggantinya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Asal aku harap kejadian ini tidak terjadi lagi!' tekan pria itu.
Charles menjanjikan hal tersebut. Baru kali ini ia mendapat malu luar biasa. Sementara di tempat lain Saskia disiram air sirup satu ember oleh Bracelet. Wanita itu begitu senang ketika Neil yang menyuruhnya.
"Neil!" pekik gadis itu kesal.
"Diam kau!" bentak Neil marah.
Saskia sepertinya masih punya nyali hendak merengek pada Jeane, bibinya.
Plak! Satu tamparan keras dilayangkan perempuan itu. Saskia langsung bungkam seketika.
"Bukankah aku sudah memintamu Saskia!" bentak Jeane murka.
"Mami, aku menyerahkannya padamu. Aku tak mau melihatnya berkeliaran di sekitarku!" perintah Neil.
Pria itu pun berlalu dan memberi kecupan sayang pada Bracelet yang menyiram Saskia atas perintahnya.
"Thanks Brace!"
"Anytime dear!"
"Neil ...."
"Jangan panggil nama putraku dengan bibir kotormu itu Saskia!" bentak Jeane murka.
Satu amplop besar dilempar. Lembaran foto-foto Saskia yang tengah berciuman dengan banyak lelaki ada di sana.
"Ini tidak benar!" teriaknya tak terima.
"Bahkan kau telah melakukan aborsi, Saskia!" bentak Jeane lalu memberi bukti konkrit atas itu.
Saskia terdiam, kepalanya tertunduk. Ayah dan ibunya sudah diberitahu oleh Jeane agar membawa putri mereka jauh-jauh.
"Jangan sampai Neil membakar seluruh perusahaanmu!" ujar wanita itu sebelum mematikan sambungan telepon.
Naima pun pulang bersama Andre. Sebuah pengumuman tentang hubungan mereka berdua menjadi trending topik.
"Anda bahagia sekali Nona," ujar Andre dalam mobilnya.
"Papa, aku jatuh cinta papa ... aku jatuh cinta!" pekik gadis itu menakup dua pipinya yang memanas.
Andre tersenyum lemah. Neil adalah pria sepadan dengan nona mudanya. Ia pun mendoakan yang terbaik bagi Naima.
"Besok Tuan dan Nyonya besar pulang Nona. Apa kita tak menyambut mereka?" tanya Andre mengingatkan.
"Tentu saja Papa. Aku sudah siapkan semua!" jawab gadis itu tegas.
Andre mengangguk, tentu saja ia tau. Naima telah menyiapkan pesta penyambutan di perusahaan. Besok seluruh pegawai dan staf akan ikut hadir dan memberi selamat atas kesembuhan Danar Hartono.
Sedang di tempat lain. Rendra menatap datar berita yang ada di tangannya. Berita tentang satu hubungan antar pengusaha.
"Kau pintar sekali mencari pasangan Naima. Dia memang pantas jadi pendampingmu,"
"Kakak ... huuuuu ... kakak!" isak Renita langsung masuk kamar Rendra.
Pria itu menghela napas panjang. Gadis itu memeluk Rendra dan mulai mengadu yang tentu semuanya bohong.
"Renita ... aku lelah!' ujar Rendra tak menanggapi drama sang adik.
"Kakak ...."
"Jadilah dewasa Nita. Kakak bukan tak paham. Kau cantik kau juga pintar. Banyak laki-laki hebat yang pasti akan menarik perhatianmu,' ujar pria itu menyadarkan adiknya.
"Dia tidak merebut apapun darimu Nit!" bentak Rendra mulai marah.
"Tolong sadar. Tuan Gutama tak pernah menyukaimu. Selama dua tahun, ia dekat dengan Naima bukan kamu!"
"Kakak ... itu karena ...."
"Cukup Renita Lakso!" bentak Rendra.
"Sebelum aku marah padamu dengan semua khayalanmu. Aku ingin kau belajar dewasa. Besok Bibi Jihan datang. Aku memintanya membawamu keluar negeri bersamanya!'
"Kakak ngusir aku?!" tanya Renita tak percaya.
"Aku bukan mengusirmu! Aku ingin kau belajar lebih dewasa lagi di sana dan lebih mandiri!" sahut Rendra mulai putus asa dengan adiknya.
"Aku nggak mau. Jika kakak memaksa aku akan kabur dari rumah ini!" teriak Renita.
Gadis itu hendak berlari tapi tubuhnya langsung ditangkap oleh Rendra. Tentu saja ancaman adiknya tak bisa dianggap remeh.
"Lepaskan aku!" teriak Renita.
"Tidak!"
"Biar aku pergi dari rumah ini. Asal tidak bersama dengan Bibi Jihan!"
"Iya Dek ... iya ... kakak tidak akan membiarkan Tante Jihan membawamu," janji Rendra
Gadis itu menangis. Rendra menenangkan adiknya. Ia pun mulai menasehati gadis itu perlahan.
"Jangan bawa khayalanmu ke kenyataan Dek. Kakak takut kau tak mengenali kakak nantinya,"
"Kakak ...."
Rendra menatap mata adik perempuannya. Gadis itu masih bersikeras jika apa yang dikatakannya adalah benar. Rendra menghela napas panjang. Satu-satunya cara adalah memberi terapi pada sang adik.
"Kakak akan mengobatimu Dek," janjinya dalam hati.
Sementara itu, Neil tengah tersenyum indah sambil memegang ponselnya. Ia tengah asik berchat ria dengan gadis yang baru saja jadi kekasihnya.
"Dua tahun aku meruntuhkan tembok itu. Akhirnya, aku bisa meluluhkan hatimu Naima," ujarnya pelan.
Di layar ponselnya ada foto mereka berdua yang saling tatap. Pancaran cinta hadir di sana. Neil mengecup pelan layar datar yang sedikit panas.
"Aku merindukanmu!" pekik pria itu tertahan.
Pagi menjelang, Andre telah bersiap menjemput tuan dan nyonya besarnya. Naima pun pergi ke perusahaan untuk menyiapkan pesta penyambutan kakek dan neneknya.
Kedatangan Hartono menjadi sorotan semua media. Semua saham merambat naik. Banyak wartawan dari berbagai media datang meliput.
Pukul 10.46. Iringan mobil mewah masuk halaman perkantoran. Semua mata memandang layar atas kepulangan dari pemilik perusahaan terbesar di sana.
"Seandainya dulu kau tak serakah!' sindir Sofia pada suaminya.
"Sayang," rengek pria itu.
Agung berubah total semenjak Sofia melayangkan gugatan cerainya. Pria itu tak ditinggal sedikitpun bahkan ketika Sofia hendak buang air besar sekalipun.
Lalu tatapannya beralih pada layar di depannya. Sosok wanita yang dulu pernah mengisi hatinya turun dari mobil mewah.
'Denita?' gumamnya dalam hati.
Sementara di tempat itu semua karyawan membungkuk hormat pada atasan mereka. Danar tersenyum lebar dengan pesta penyambutan yang dilakukan oleh cucunya.
"Selamat datang Opa ... Oma!" seru gadis itu lalu memberikan satu buket bunga pada Danar.
"Terima kasih sayang," ujar pria itu terharu.
"Selamat datang Tuan Hartono. Anda sehat kembali!' seru beberapa kepala divisi.
"Puji syukur, ini adalah berkat doa kalian semua!' ujar Danar.
Neil datang setengah jam kemudian. Danar sangat menyukai perilaku kekasih dari cucunya itu.
"Aku harap kalian tak berpacaran terlalu lama," pintanya penuh harap.
"Kami baru mulai menjalin hubungan, Opa," ujar Naima. "Kami belum mengenal baik!"
"Jangan khawatir Opa. Aku akan melamarnya setengah tahun lagi!' janji Neil pada pria tua di depannya itu.
Deg! Andre menunduk ketika mendengar kata-kata Neil.
Bersambung.
Ah ... Sabar ya Papa Andre. Jodohmu ada kok.
Next?