
Beberapa petinggi usaha tengah berkumpul di sebuah restauran ternama. Mereka akan merebut proyek yang tengah diusung oleh pemerintah.
"Sepertinya ada beberapa perusahaan yang layak masuk pada posisi utama dalam proyek ini. Salah satunya adalah PT N. Graha!"
Semua bertepuk tangan meriah. Memang apa yang ditawarkan oleh perusahaan yang kini dipimpin oleh Naima sangat dibutuhkan proyek yang akan dibangun.
"Kami akan memberikan sebanyak 40% dari pembangunan proyek!"
"Wah!"
semua berdecak dan bertepuk tangan. Rendra mengepal tangan kuat, walau ia mendapat bagian dari proyek itu. Tapi ia merasa kalah dengan Naima membuatnya malu.
Penandatanganan kontrak disepakati. Semua puas dengan hasil yang didapat. Walau ada yang harus gigit jari karena tak mampu bersaing.
Naima dan Andre kembali ke perusahaan mereka. Di sana ada empat kandidat sekretaris yang terpilih dan sesuai kriteria yang diinginkan Naima.
Gadis itu sendiri yang akan menginterview calon sekretarisnya itu. Usai menguji kemampuan para calon sekretarisnya. Pilihan jatuh pada sosok berkaca mata dan bertubuh sedikit tambun.
Naima lagi-lagi memilih seusai kebutuhan kerja bukan kebutuhan mata.
"Oke Nona Mala, selamat bergabung di PT N Graha!' sambut Naima menjabat tangan gadis di depannya ramah.
"Terima kasih Nona. Saya akan berusaha sebaik-baiknya," ujar Mala tegas dan mata berbinar.
"Kau boleh bekerja Senin depan. Pakai pakaian formal setelan celana ya. Karena besok kita akan pergi ke pabrik!" tekan Naima tegas.
"Baik Nona!" Mala membungkuk hormat.
Mala keluar ruangan dengan perasaan bahagia campur tak percaya. Penampilan yang jauh dari kata menarik membuat ia insecure. Walau nilai pendidikannya sangat baik, tapi penampilannya yang tak menarik membuat semua perusahaan menolaknya.
"Syukurlah aku berhasil. Akan kubuktikan jika aku bisa bekerja dengan baik!" tekad gadis itu dengan langkah ringan.
"Kita pulang Nona?" ajak Andre.
"Iya Kak. Oh ya, apa motorku masih ada di tempat parkir?" tanya Naima.
"Masih ada Nona!' jawab Andre.
Naima hanya mengangguk, gadis itu telah merencanakan semuanya. Kini ia melangkah dengan anggun. Semua penampilannya perlahan berubah. Andre memperingatkan gadis itu jika berpakaian sembarangan.
"Kita langsung ke kediaman Tuan besar Nona!" ajak Andre.
Naima hanya mengangguk. Gadis itu telah menyiapkan semuanya. Kendaraan mewah itu berjalan perlahan, jarak tempuh selama dua jam ke depan akan membuat perubahan baru di hidupnya.
"Kakek dan Nenek orangnya seperti apa Kak? Apa mereka jahat?" tanya Naima lirih dengan pandangan kosong.
"Mereka orang baik Nona," jawab Andre lalu melirik spion tengah.
Deg! Deg! Deg! Jantung Andre mendadak berdetak cepat. Naima memang sangat cantik. Terlebih sepasang mata jeli yang begitu indah. Alis melengkung indah, hidung mancung dan bulu mata lentik.
Pandangan Andre turun pada dua gumpalan indera bicara. Bibir Naima merah muda alami, rambunya yang hitam tergerai. Pupil mata Naima menangkap sepasang mata yang memindainya di kaca spion tengah.
Andre gelagapan, beruntung ia mampu mengalihkan fokusnya dengan cepat ke arah belakang mobil.
"Kakak tadi lihatin aku?" tanya Naima tersenyum usil.
"Nggak!" sanggah Andre tentunya bohong.
Naima tersenyum simpul melihat tingkah pria yang selalu mengajarinya banyak hal itu salah tingkah.
Tak terasa perjalanan sudah sampai. Naima tertidur ketika sampai gerbang tinggi menjulang. Hari sudah terlalu malam, Naima juga dalam keadaan lelah.
Sampai di depan pintu besar. Denita sudah menunggu di sana. Wanita paru baya itu tak dapat memicingkan matanya.
"Selamat malam Nyonya!" sapa Andre ketika turun dari mobil.
"Malam Ndre, mana cucuku?" tanya Denita tak sabaran.
"Beliau tidur Nyonya," Andre membuka pintu belakang mobil.
Denita menatap dengan genangan di pelupuk matanya. Wanita ingin memeluk erat gadis yang selama ini hanya ia dengar dari orang-orang yang dibayar untuk melindungi cucunya itu.
"Gendong dia Ndre!" perintah wanita itu.
Andre sedikit bergeming, ia takut sendiri. Menyentuh nona muda yang membuat ia harus berjuang keras menetralkan hatinya.
"Andre?" panggil Denita lagi.
'Ah, maaf Nyonya,"
Andre mengambil tubuh tinggi nona mudanya. Perlahan ia membawanya ke lantai atas.
Sebuah ruangan mewah, Andre meletakkan tubuh ringan gadis itu. Naima memang masih kurus, gadis itu tak suka makan terlebih banyaknya pekerjaan yang harus membuatnya bekerja lebih ekstra.
Ingin sekali Andre mengusap peluh yang ada di dahi gadis itu. Namun tubuhnya langsung mundur karena ia mendapat signal bahaya.
Andre membungkuk hormat lalu pergi dari ruangan mewah itu. Denita mengusap peluh cucunya dan memberi kecupan di kening gadis cantik itu.
"Wajah ayahmu sangat tercetak jelas di wajahmu sayang. Bersiaplah, kau akan mendapatkan apa yang hilang dari dirimu, kecuali ...," Denita menghentikan perkataannya.
"Ayah dan ibumu," lanjutnya lirih.
Denita meminta para pelayan mengganti baju nona muda mereka. Pagi menjelang. Naima merenggangkan tubuhnya.
"Aku di mana?" tanya gadis itu belum sepenuhnya sadar.
Perlahan matanya membuka lebar. Ada empat pelayan yang berjejer menunggui nona mudanya.
"Selamat pagi Nona!" sambut para maid membungkuk hormat.
"Kalian siapa?" tanya Naima kebingungan.
"Kami akan melayani Nona mulai sekarang!" jawab salah satu maid masih dalam keadaan membungkuk.
"Keluarlah kalian. Aku akan mengurus diriku sendiri!" suruh Naima tegas.
"Maaf Nona. Kami tidak berani melanggar perintah Nyonya! Mohon kerjasamanya!"
"Sudah kukatakan aku bisa mengurus diriku sendiri. Keluar!" teriak gadis itu.
Denita masuk ke dalam kamar cucunya. Wanita itu sudah tak sabar, dua netra saling tatap.
"Sayang ...," panggil wanita itu sangat lirih.
Naima hanya terdiam, gadis itu menatap tatapan lembut ayahnya. Tiba-tiba satu titik bening jatuh dari sudut mata Naima.
Denita langsung bergegas menghampiri cucu perempuan satu-satunya itu. Maid pun beranjak keluar dari ruangan itu dan menunggu di luar.
"Sayang, perkenalkan ... aku Denita Lukito, nenekmu. Ibu dari ayahmu!' ujar wanita itu memperkenalkan diri.
Naima masih tidak bergeming. Denita sedih bukan main, ia masih setia menunggu Naima menerima pelukannya.
"Sayang ... Oma minta maaf," ujarnya lirih.
"Anda jahat ...."
"Sayang ...."
"Anda sangat jahat ... hiks ... hiks!" Naima tergugu dan menangis.
Denita tak sabar. Wanita itu langsung memeluk erat cucunya. Keduanya menangis pilu.
"Maafkan aku sayang ... maafkan aku telah membuatmu menderita," ujar Denita.
Ia mengurai pelukannya, lalu menghapus jejak basah di pipi mulus Naima. Denita kembali mengecup kening cucunya.
"Ayo mandi sayang. Kita sarapan, sudah itu kita jenguk Opamu," ajak Denita.
Naima mengangguk. Sementara itu di tempat lain. Rendra telah menjual secara rahasia beberapa inventaris perusahaan yang kakeknya miliki.
"Siapa yang menawar tinggi perusahaan ini Dek?" tanya Rendra.
"Aku tidak tau Kak. Tapi, penawarannya memang sudah standar jual di antara banyak penawaran yang ada!' jawab Renita.
"Kau pastikan itu bukan perusahaan milik Naima Dek!" tekan Rendra.
"Oh ... ayolah Kak!" sela Reinhart tiba-tiba.
"Kenapa kau sangat memusuhi gadis itu. Naima tak pernah salah!" lanjutnya tak habis pikir.
"Kakak belain dia?" tanya Renita tak suka.
"Dek ... kakak bukan belain. Tapi, mestinya Naima yang marah pada kita. Kalian tau kan alasannya!" sahut Reinhart memberi pengertian pada dua saudaranya itu.
"Cukup Reinhart!"
"Kakak yang cukup!" sentak Reinhart keras.
"Sudah cukup ego kakak dan kalian semua di sini. Kalian tau, mestinya kita bersyukur, Naima tak memenjarakan ayah kita akibat kecelakaan itu!" serunya lagi tak habis pikir.
"Sekarang yang kita butuhkan adalah uang untung melunasi utang yang sebentar lagi jatuh tempo!" lanjutnya.
Rendra dan Renita diam. Mereka memang tak banyak pilihan. Sebelum bank mengaudit perusahaan yang dibangun sebelum mereka lahir itu datang dan membuat semua jadi gelandangan.
Bersambung.
Nah gitu Rendra!
Next?