
Neil mendatangi mansion kekasihnya. Pria itu memakai setelan sederhana, ia jadi terkontaminasi dengan sang gadis yang tak pernah memakai baju mahal.
"Semua baju sama saja fungsinya," ujar Naima beralasan ketika ditanya kenapa tidak memakai rancangan designer ternama.
"Banyak baju-baju bagus dan murah, bahan kain yang sama," lanjutnya lagi.
Kali ini Naima memakai baju kaos warna biru dengan celana jeans yang melekat di kakinya yang jenjang. Neil terpana melihat kesederhanaan gadis itu.
"Opa, Oma. Kami berangkat!" pamit Naima mengecup Danar dan Denita bergantian.
"Hati-hati dan jangan pulang terlalu sore!" tekan Danar.
"Siap Opa!" ujar Neil menjanjikan.
Mobil yang dinaiki Naima dan Neil pun bergerak dari halaman mansion besar itu. Sepasang mata menatap nanar.
"Nona ...," ujarnya lirih sekali.
Andre turun dengan tidak bergairah. Pria itu benar-benar tak memiliki semangat. Hal itu membuat Danar heran.
'Kau kenapa Ndre?" tanyanya.
"Ah, Tuan maaf," ujarnya sedikit terkejut.
"Ada apa?" tanya Danar makin bingung.
"Tuan, saya rasa saya sudah tidak diperlukan lagi menjaga Nona Naima. Saya akan mengabdikan diri sebagai bawahan Tuan!" ujar Andre.
"Kau ingin meninggalkan cucuku?" tanya Danar.
"Tuan, tanpa saya Nona sudah sangat gemilang. Beliau terlatih selama dua tahun ini. Sudah saatnya Nona berdiri sendiri," sahut Andre beralasan.
Danar terdiam, memang Naima sudah banyak berkembang pesat. Andre harus memikirkan hidupnya sendiri. Danar melihat ajudan kepercayaannya itu belum juga menikah.
"Kenapa kau belum beristri Ndre?" tanyanya.
"Tuan?" kening Andre berkerut.
Danar tertawa lirih, ia lah yang membuat pria tampan di depannya melajang hingga saat ini.
"Andre ... aku tidak menuntutmu. Tapi kau kenal Fidya putri dari Tuan Nugroho kan?'
Andre mengingat siapa nama yang dimaksud atasannya itu. Tetapi, ia menggeleng, karena memang ia tak mengenalinya. Danar tertawa.
"Aku lupa jika kau tak bersosialisasi kecuali dengan cucuku selama ini!' kekehnya dengan nada menyesal.
"Fidya sudah berumur, gadis itu juga terkunci seumur hidup di ketiak sang ibu yang sangat menyayanginya," lanjut Danar berhenti berucap, ia menunggu respon Andre.
Pria itu hanya menunggu perkataan tuannya. Andre tak menanggapi sama sekali. Danar menghela napas panjang. Pria itu sepertinya harus bicara pada intinya.
"Aku berniat menjodohkanmu dengan Fidya Nugroho," lanjut Danar.
Andre terdiam, hatinya masih berharap jika sang nona berada disisinya saat ini. Tetapi, ia sadar jika khayalan itu terlalu tinggi ia gapai.
"Saya menyerahkannya pada anda Tuan," Andre membungkuk hormat.
Danar mengangguk puas. Andre adalah orang terbaik, pria itu juga sangat terkenal. Pernikahan bisnis ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
'Maaf jika aku memanfaatkan mu Ndre,' ujar pria itu dalam hati dengan perasaan bersalah.
Sedang di tempat lain. Naima tengah bersenang-senang di sebuah wahana permainan Neil juga melepaskan dirinya dari tumpukan pekerjaan.
"Astaga ... aku baru tau ada tempat bermain sebesar ini!" teriak Naima sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Neil memeluk kekasihnya itu dari belakang. Naima sampai terjengkit kaget. Ini baru pertama ia dipeluk oleh laki-laki.
"Mas ...."
"Tenanglah sayang," pinta pria itu lalu meletakkan dagunya di bahu sang gadis.
Naima kegelian, ia mengangkat bahunya tinggi karena tak tahan geli.
"Mas ... geli!" kikiknya.
Neil malah menciumi pipi sang gadis. Naima melepaskan diri. Ia menatap sang pria. Sungguh, ia tak begitu nyaman diciumi seperti itu.
"Bisa tahan itu nanti?" pintanya memohon.
"Sayang, kita pacaran. Hal itu biasa," ujar Neil lalu hendak mencium bibir Naima.
Gadis itu menahan laju kepala Neil, ia belum siap. Ia ingin mencium pria yang jadi suaminya kelak.
"Bisakah aku memberikannya di saat malam pernikahan kita?" tanya setengah memohon.
Neil mengerutkan kening. Naima adalah kekasihnya yang kesekian kali. Baru kali ini ia mendapatkan pacar yang menolak berciuman.
"Aku mohon," pinta Naima dengan mata berkaca-kaca.
Hari terlalu sore untuk mereka pulang. Tetapi, baik Naima dan Neil saling bungkam sepanjang perjalanan.
"Aku langsung pulang," ujar pria itu ketika sampai teras mansion kakeknya.
Naima mengangguk, dengan begitu ia menganggap jika Neil tak serius dengan hubungannya.
"Kita putus!' ujar gadis itu.
"Baik lah," ucap Neil tak sadar.
Naima turun dengan mata mengembun. Ia menarik napas panjang dan menyeka pelan ujung mata dan masuk ke dalam rumah.
Neil yang masih terdiam di dalam mobilnya tiba-tiba tersadar dengan perkataan sang gadis. Pria itu turun dari mobil terburu-buru.
"Naima!" teriaknya.
Gadis itu menoleh, mansion itu sepi. Hanya beberapa maid yang bekerja di dapur dan tidak mendengar keributan di ruang tengah.
Neil berlari ke tempat Naima berdiri. Gadis itu sedang naik tangga menuju kamarnya. Neil yang gusar lalu mencium bibir Naima tiba-tiba.
Naima yang kaget langsung berontak. Pelukan Neil yang kuat tak mampu dilepas.
Plak! Satu tamparan keras diberikan Naima. Gadis itu menangis, Neil merampas ciuman pertamanya.
"Kau jahat!" teriak gadis itu.
"Kau menghancurkan mimpiku!"
Neil membiarkan Naima memukulinya. Sungguh pria itu tak masalah, walau pukulan itu sangat kuat dan ia menahan sakit selama dipukuli gadis itu.
"Kalau begitu ... ayo kita menikah!" ajak pria itu menahan laju tangan Naima.
Gadis itu terdiam, ia masih kesal dengan pria tampan itu. Neil menatap sang gadis dengan serius. Ia tak mau kehilangan sang gadis.
"Kita menikah ... maka ciuman itu untukku!" ujar Neil lalu membenamkan lagi bibirnya di atas bibir Naima.
Pria itu mengajari sang kekasih berciuman yang benar. Naima larut dalam ciuman itu. Hingga keduanya memutuskan pergerakan bibir mereka.
"Sayang," panggil Neil serak.
"Cukup ya," pinta Naima lirih.
Neil mengangguk, ia menghormati keputusan kekasihnya.
"Kita nggak jadi putus kan?" tanya pria itu lagi menatap kekasihnya.
Naima bersemu merah, gadis itu mengangguk pelan. Neil nyaris melompat kegirangan. Ia kembali mengecup bibir sang gadis lalu pamit pulang.
Naima meraba bibirnya yang sedikit bengkak. Ia menghela napas. Lalu tatapannya terkejut ketika melihat sosok yang berdiri menjulang.
"Astaga Papa?!"
Andre melihat semuanya, pria itu hanya tersenyum. Ia turun lalu menepuk pundak nona mudanya.
"Selamat Nona," ujarnya tulus.
Naima hanya tersipu. Gadis itu menakup kedua pipinya yang memerah, lalu lari ke kamar dengan hati berbunga-bunga.
Andre menatap nona mudanya hingga hilang dari pandangan. Pria itu menghela napas panjang.
"Semoga kau berbahagia Nona," doanya penuh ketulusan.
Sementara itu Neil baru saja sampai rumah. Charles dan Jeane tengah mengantar Saskia pulang bersama orang tuanya ke bandara.
"Selamat datang Tuan muda!" sambut beberapa maid membungkuk hormat.
"Apa Tuan besar belum pulang?" tanyanya.
"Belum Tuan," jawab salah satu maid.
"Siapkan makan malam. Aku makan di rumah!" perintahnya.
"Baik Tuan!" sahut salah satu maid lagi.
Neil memang pria rumahan. Laki-laki itu tak pernah pergi keluyuran, makanya ia tak bisa mempertahankan lama hubungan karena ia malas keluar.
"Ah, aku baru tau jika berpergian dengan kekasih itu menyenangkan!" ujarnya lalu merebahkan diri ke ranjangnya yang empuk.
"Naima ... jujur. Bibirmu manis sekali!" pujinya lalu meraba bibirnya.
Bersambung.
Ah ... othor jadi iri.
Next?