NAIMA

NAIMA
JANJI NAIMA



Naima menatap suaminya yang semenjak pulang kemarin malam, pria itu banyak melamun. Wanita yang baru saja hamil beberapa minggu ini, begitu penasaran dengan apa yang diamunkan sang suami.


“Sayang, kau kenapa?” tanyanya begitu ingin tahu.


“Ah ... apa?” rupanya Neil tersadar dari lamunannya.


“Sayang!” rajuk Naima kesal.


Wanita itu cemberut, ia tengah hamil. Tentu saja hormonnya sedang naik. Emosi wanita itu kadang tak stabil. Neil langsung meminta maaf.


“Kamu melamuni apa?” tanya wanita itu lagi dengan wajah kesal.


“Maaf sayang. Akhir-akhir ini aku banyak sekali kerjaan,” jawab Neil setengah berbohong.


“Apa itu benar?” tanya Naima curiga. “Tidak ada wanita cantik lain?”


“Oh ... ayo lah!” sungut Neil tak terima.


Naima memicingkan matanya, ia mendekatkan wajah pada sang suami.


“Sayang!” sungut Neil lagi.


“Ih ... aku hanya bertanya!” sahut Naima tak acuh.


“Aku bukan pria yang gampang tergoda!” sahut Neil sebal melihat tingkah istrinya.


Naima berdiri dari ranjangnya, Neil tentu kaget dengan gerakan tiba-tiba wanita itu. Hal ini membuat Naima memicingkan matanya lagi.


“Kau kenapa sih Mas!?” dumalnya kesal.


“Kau mengagetkanku!” Neil membalas perkataan sang istri.


“Iya kah? Perasaan, biar petir menyambar. Kau tak pernah sekaget ini?” tanya Naima lagi-lagi curiga.


“Aku tidak ....”


”Ah ... sudah lah!” potong Naima cepat.


“Aku hargai jika kau tak mau berbagi denganku. Aku hanya tekankan!” lanjutnya memberi ultimatum pada sang suami. “Selesaikan apapun itu tanpa melibatkan aku di dalamnya!”


Naima turun dengan mulut mendumal pelan. Ia sangat kesal dengan lamunan suaminya. Ia tak habis pikir, sebanyak apa pekerjaan hingga sampai dilamunkan oleh pria itu. Selama ia menjalin kasih dengan Neil. Pria itu tak pernah membawa masalah kantor ke rumah.


Denita dan Danar sedang menikmati sarapam mereka. Sepasang suami istri yang telah sepuh itu tersenyum melihat kedatangan cucu kesayangan mereka.


“Ayo sarapan sayang!”


Danar merentangkan sebelah tangan kanannya. Naima menyambut tangan kakeknya dan duduk di sisi pria itu. Denita mencari sosok pria yang jadi suami cucunya itu.


“Mana suamimu?” tanyanya.


“Asik melamun,” jawab Naima sangat pelan.


“Apa?” tanya Denita yang merasa cucunya menjawab tetapi ia tak bisa mendengarnya.


“Mungkin sebentar lagi, Oma,” Naima meralat jawabannya.


Benar saja, Neil turun dengan setelan rumah. Pria itu mengenakan kaos yang mencetak otot dadanya dan celana selutut. Beberapa maid wanita melirik tubuh tegap pria itu.


“Pamer!” sindir Naima masih sewot dengan suaminya.


“Sayang!” peringat Danar.


Naima cemberut, sedang Neil sangat tidak nyaman dengan kelakuan sang istri yang sedari tadi membuatnya kesal.


“Ayo sarapan, jangan dengarkan istrimu,” bisik Danar.


Neil duduk di sisi Naima, ia menunggu sang istri melayaninya. Tetapi Naima seakan lupa dengan apa yang harus ia lakukan.


“Sayang!” peringat Denita pada cucunya itu.


Naima berdecak, ia merengut dan hendak mengambil kepingan roti tawar.


“Hentikan Naima!” tekan Neil sedikit emosi.


“JIka kau tak rela melayaniku lagi. Hentikan tanganmu!; lanjutnya marah.


Neil melempar serbet ke meja. Hal ini membuat Danar dan Denita terkejut bukan main. Pernikahan mereka baru seumur jagung. Dan ini pertengkaran pertama keduanya.


“Aku tak lapar. Silahkan kalian lanjutkan!”


“Sayang?”


“Hiks ... hiks!” Naima menangis.


“Sayang. Jika kau salah. Minta maaflah!” perintah Danar tegas.


Naima sadar, jika ia sudah keterlaluan pada suaminya. Wanita itu urung memakan sarapannya, ia beranjak ke atas, denita hendak mengikutinya tetapi Danar langsung menahan istrinya.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri Ma!”


“Tapi Pa ....”


”Ma ... biar kan ya,” ujar Danar lagi lalu meminta istrinya untuk melanjutkan sarapannya.


Naima sampai pada pintu yang sedikit terbuka.terlihat jika handel pintu itu rusak akibat Neil yang melampiaskan kemarahaannya pada benda itu.


Tok! Tok! Tok! Naima mengetuk pintu, perlahan ia buka dan melihat sosok tinggi besar tengah berkacak pinggang menghadap jendela kamarnya. Dengan langkah perlahan, wanita itu mendekat, ia mengukur rentangan tangannya pada pinggang sang suami.


“Lebar sekali ... hiks!”


Neil membalikkan tubuhnya, tangan Naima masih terjulur ke depan. Netra wanita itu basah, Neil tak tahan dengan kesedihan istrinya, ia langsung memeluk Naima.


“Maafkan aku ... maafkan aku,”


“Hiks .... huuu ... uuuu!”


Pecah tangisan Naima di dada sang suami. Ia juga meminta maaf dengan penuh penyesalan. Sungguh, ia tak bermaksud untuk memulai pertengkaran dengan suaminya.


“Tolong katakan keresahaanmu. Aku sangat sedih jika kau tak mau berbagi denganku ... hiks!” ujar Naima sedih.


“Maafkan aku sayang ... maafkan aku ....”


Neil mencium istrinya lembut, ia juga merasa bersalah. Naima tengah mengandung anaknya, ia mestinya tau jika hormon wanita hamil selalu berubah. Akhirnya Neil menceritakan keresahannya selama ini.


“Jadi kau takut aku mengabaikan keluarga jika aku menjadi wanita karier?” Neil mengangguk.


“Katakan aku egois sayang ... tapi aku akan mati jika kau meninggalkan aku dan lebih memilih karirmu,” ujar Neil terisak.


“Sayang ...,” Naima memeluk suaminya.


“Sayang ... dengarkan aku!” pintanya tegas.


Naima mengurai pelukannya, menghapus jejak basah di wajah suaminya. Naima sangat sedih melihat Neil yang rapuh. Pria gagah itu benar-benar trauma dengan kejadian masa kecilnya.


“Aku berjanji padamu sayang. Aku akan emndahulukan kamu dan anak kita!” sumpah Naima.


“Apa itu benar?” tanya Neil sambil terisak.


Naima ******* bibir suaminya, ia mencurahkan semua cintanya pada Neil. Pria itu membalas ciuman sang istri. Keduanya terlibat perang bibir dan lidah cukup lama. Baru saja Neil menjamah bukit kesukaannya, tiba-tiba ....


Kriiuuk!! neil dan Naima menghentikan aksinya, keduanya saling tatap lalu tertawa lirih. Perut Naima berbunyi sangat keras hingga membuat wanita itu malu luar biasa. Neil juga merasa lapar. Ia pun mengajak sang istri untuk makan.


Malam menjelang, sepasang suami istri itu berpelukan di ranjang, Naima menenggelamkan dirinya dalam dekapan sang suami.


“Dokter memperingati kita untuk tidak melakukan percintaan sayang,” Neil kecewa ketika mengatakan hal itu.


“Itu disebabkan kandunganku masih muda sayang,” kekeh Naima.


“Bercinta di usia kandungan yang masih rentan, akan berbahaya,” lanjutnya.


“Iya aku mengerti sayang,” ujar Neil mengecup pucuk kepala istrinya.


“Sayang ...,” panggilnya.


“Ya sayang,”


“Kau tak akan meninggalkan aku kan?” ujar Neil lirih.


Naima menjauhkan dirinya dari pelukan sang suami. Neil malah merengek dan mengeratkan pelukannya. Naiam tertawa lirih. Ia juga akan mati jika Neil sampai meninggalkannya.


“Aku tak akan meninggalkan surgaku sayang!” janji Naima.


“I love you wife!”


“I love you more hubby!” balas Naima.


Neil dapat tenang, ia sangat mempercayai janji dan sumpah istrinya. Pria itu juga berjanji akan selalu setia pada wanita yang akan memberikan keturunan sebentar lagi.