
"Tuan, minumlah segera ... mumpung masih hangat," pinta Sandra lagi setengah memaksa.
"Aku akan meminumnya nanti Sandra," ujar Neil tanpa melihat sekretaris barunya itu.
"Tapi nanti jadi tidak enak Tuan," ujar gadis itu lalu mengangkat cangkir dan menyorongkan ke arah atasannya.
"Saya bilang nanti!' sentak Neil lalu menepis teh buatan Sandra hingga tumpah dan cangkir jatuh ke lantai.
Bunyi pecahan kaca terdengar. Neil menatap lengan kemejanya basah dan sedikit mengepul karena air yang panas.
"Tuan ... maafkan saya ... saya ...."
"Keluar!" desis Neil.
"Tuan ... saya tidak bersalah. Tuan yang menepis cangkirnya ... jadi ...."
"Keluar kau Sandra ... kau aku pecat!" teriak pria itu marah.
Neil menahan perih di lengannya. Ia yakin ada luka bakar kecil di sana. Sandra masih mematung. Ia tidak percaya akan dipecat untuk kedua kalinya. Setelah masa blacklist nya lewat. Ia mencoba melamar dan berhasil masuk. Atasannya yang tampan membuat ia kembali gelap mata untuk melakukan pendekatan. Sandra hendak menjebak Neil dengan minuman yang ia buat.
"Keluar kau!" bentak Neil lagi
Pria itu segera menekan sebuah nomor di interkom. Neil memanggil kepala hrd. Tak lama seorang pria masuk.
"Bawa perempuan ini keluar. Dia aku pecat!" perintahnya.
Sandra diseret. Gadis itu meronta dan menghiba. Neil menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran. Ia kembali memijat pelipisnya.
"Aaah ... aku merindukanmu Naima!" teriaknya gusar.
Pandangannya membentur tumpukan berkas yang menggunung. Neil ingin membakar semua berkas yang menyulitkannya itu.
"Aarrggh!" teriaknya frustrasi..
Setelah menenangkan diri, ia pun melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Tak lama asisten pribadinya datang. Pria itu juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Kau pecat sekretaris lagi?" tanyanya.
"Dia memaksaku meminum teh buatannya," jawab Neil malas.
Dion menatap sahabatnya itu. Entah sudah berapa sekretaris dipecat oleh pria tampan yang kini seperti ingin menelan semua berkas yang ada di hadapannya.
"Hanya karena itu kau memecatnya?" tanya Dion tak percaya.
"Kau pikir. Apa maksud seorang gadis memaksa pria meminum air buatannya?" desis Neil balik bertanya.
"Apa, aku tak tau?" jawab Dion.
"Dia mau menjebakku. Aku yakin dia sudah memasukkan sesuatu di air itu!" terka Neil menuduh.
Dion menggeleng tak percaya. Neil adalah pecinta novel romansa. Dion meyakini jika Neil terkontaminasi oleh novel bacaannya.
"Kau terlalu drama. Berhentiah membaca novel!" ujarnya memberi saran.
Neil acuh tak acuh mendengar saran dari sahabatnya itu. Pria itu memilih melanjutkan pekerjaannya. Dion tidak tau, jika apa yang dituduhkan Neil pada Sandra itu benar adanya.
Sementara di keluarga lain. Rendra memberikan pengobatan pada adiknya. Renita diberikan penangan psikiater.
"Aku tidak gila Kak," ujar gadis itu.
"Iya Dek. Kamu memang tidak gila. Tetapi, pikiranmu itu bisa mengarahkan mu ke sana," ujar Rendra memberi pengertian.
Reinhart juga sudah resah dengan pemikiran adik bungsunya. Renita selalu berkisah sesuatu hal yang tidak pernah terjadi. Bahkan menuduh Naima mencuri Neil sebagai suaminya.
"Apa itu tidak keterlaluan?" tanya Anna sang ibu.
"Ma, Renita tidak pernah menikah dengan Tuan Gutama," jawab Rendra.
"Tapi tidak perlu membawanya ke psikiater," kali ini Pratma yang bicara.
"Pa ... Ma, sudah cukup kita membiarkan Renita berkhayal dan membuat dia semakin jauh. Dulu, kita bisa berdamai dengan kepala sekolah dari Naima. Tapi ini Tuan Gutama Ma ... Pa!" kali ini Reinhart yang bicara.
Anna dan Pratama terdiam. Memang kejadian belasan tahun lalu adalah kejadian yang sangat memalukan. Anna yang memanjakan sang putri, membuatnya nyaris dipenjara.
"Sofia ... aku memang salah mencuri dari Naima. Aku tak mau jatuh karena kondisi kita yang terpuruk akibat kasus yang Pratma buat," jelasnya.
"Tapi aku tidak pernah mencuri perusahaan Papa,"
Agung mendekat dan menarik tubuh istrinya. Ribuan penyesalan dirasakan oleh pria itu. Mengabaikan cinta istrinya.
"Tolong jangan tinggalkan aku ... aku mohon," pintanya.
"Kenapa? Kau takut?" desis Sofia menatap marah pada laki-laki yang memeluknya.
"Iya ... aku takut," jawab Agung mengaku.
"Kau takut karena memang tidak ada yang mengurusmu kan?" sindir Sofia.
"Iya, aku takut tak ada yang mau mengurusku!" aku Agung lagi.
"Aku juga takut kehilangan cintamu. Maaf aku baru menyadarinya sekarang,"
"Kau sudah lemah ... aku mau cari yang masih perkasa!" ledek Sofia hendak melepas pelukan suaminya itu.
Agung mengeratkan pelukannya. Asep sudah pergi lama. Pria itu langsung menuju perusahaan, Rendra menyerahkan kepengurusan selama mengobati Renita.
"Dek, kau urus perusahaanmu juga. Biar Kakak yang menemani Renita," ujar Rendra pada Reinhart.
"Gantian saja Kak," saran Reinhart.
Anna dan Pratma terharu. Mereka tak pernah mengajarkan kekeluargaan pada ketiga anaknya. Tetapi, Reinhart memperlihatkan sisi kepeduliannya. Ia mengangkat kembali drajat keluarga. Suami istri itu memeluk ketiga anaknya.
"Papa tidak tau akan jadi apa tanpa kalian. Maafkan Papa ya Nak," ujar pria itu penuh sesal.
"Mama juga sayang. Mama bangga akan kalian, Mama akan menurut apa kata kalian kali ini sayang," timpal Anna.
Sementara itu Andre benar-benar mempergunakan cutinya mengurus pernikahannya yang hanya tinggal hitungan hari. Pria menyewa sebuah EO pernikahan dengan budget dua kali lipat karena waktu yang mendesak. Begitu juga tempat yang akan ia gunakan untuk membuat pesta kecil setelah pernikahannya.
Fidya ikut membantu, ia pergi ke sebuah percetakan undangan. Hanya seratus kertas undangan sederhana tapi sangat cantik. Ia juga membeli sovenir cantik untuk ucapan terima kasih pada tamu yang datang nantinya.
"Sayang, dekorasi apa yang kau mau?" tanya Andre tanpa filter.
Kata-kata sayang sering ia ucapkan bahkan di depan calon ibu mertuanya. Masha tak lagi mempermasalahkan tentang ciuman kemarin. Ia memang terlalu lebay.
"Yang sederhana saja sayang," jawab Fidya lirih.
"Apa mau yang seperti ini?" tanya Andre menunjukkan sebuah gambar dekorasi.
"Aku nggak suka banyak bunga. Terlalu ramai," jawab Fidya manja.
Beberapa ditunjuk, tetapi semua nyaris ditolak. Lalu pilihan Fidya tertuju pada satu design yang unik.
"Ini?" Fidya mengangguk.
Andre pun setuju. Setelah mendapatkan dekorasi yang diinginkan calon istrinya. Ia pun pergi setelah memberi sebuah kecupan lama di kening gadis itu.
Sedang kan Naima mulai resah dengan semuanya. Pria yang menjanjikan sebuah pernikahan tak kunjung memberi kabar. Ia benar-benar kesal dibuatnya.
"Apa datangi aja ya. rumahnya?" tanyanya bermonolog.
"Terus ... aku ngomong apa pas di sana?" sambungnya bertanya kali ini ia kesal sendiri.
"Tante ... anak Tante sudah mencium saya. Saya harap anak Tante bertanggung jawab!"
Naima berdrama. Ia tiba-tiba terkikik geli. Lalu perlahan menghela napas panjang.
"Biar aku kehilangan ciuman pertamaku. Aku yakin ada ciuman berikutnya dan itu selamanya!" lanjutnya bermonolog.
bersambung.
hhhh.
next?