
Kedatangan Finanisha disambut oleh Charles dan Jeane. Gadis itu duduk dengan anggun. Charles sengaja mengajak sang gadis duduk di ruang keluarga.
Di sana terpampang foto lukisan pernikahan Neil dan Naima berukuran besar. Di sana juga terdapat bingkai-bingkai foto beberapa kolega dan pejabat penting.
"Kenapa Om dan Tante melanggar janji?" tanya gadis itu sedih.
"Maaf Nak, kejadian itu sebelas tahun berlalu. Kau dan ayahmu menghilang bak ditelan bumi. Kami yakin perjanjian itu sudah tak berlaku. Terlebih Neil memang tidak mau dijodohkan!' jelas Jeane dengan nada menyesal.
"Tapi aku masih memegang teguh perjanjian itu hingga aku belum menikah!" ujar Finanisha dengan mata berkaca-kaca.
Dua ajudannya menunggu di mobil. Mereka memilih mencari beberapa perusahaan yang besar dan menawarkan proyek yang dibuat oleh atasannya.
"Maaf sayang ... Tante bukan bermaksud ...."
"Aku akan menuntut Tante dengan dakwaan penipuan dan pelanggaran janji!" tekan Finanisha tegas.
"Apa?" tanya Charles tak percaya.
"Aku yakin, para media pasti sangat suka dengan berita skandal. Bagaimana tanggapan orang-orang di luar sana menilai kalian?" Fina makin berani.
"Kredibilitas anda sebagai pengusaha ternama akan dikaji ulang, bisa jadi beberapa kolega akan menyoroti anda sebagai pengingkar janji!" lanjutnya lalu duduk layak ratu, begitu arogan.
Tiba-tiba Charles tertawa terbahak-bahak. Pria itu tak habis pikir dengan pikiran dangkal gadis cantik di depannya.
"Dangkal sekali pikiranmu!"
"Jangan bercanda Tuan Gutama. Saya bisa menghancurkan reputasi anda!" ancam Fina begitu berani.
Charles adalah pebisnis yang sangat berpengalaman. Fina baru terjun di dunia bisnis belum satu tahun.
Gadis itu memang cukup berani menentang penguasa bisnis. Jika diibaratkan, Fina bagai seekor anjing kecil yang tengah menggonggong menantang si raja hutan.
"Fina ... jika kau lakukan itu. Bukan aku yang hancur!' kekeh Charles duduk dengan gagahnya.
Jeane juga mantan pebisnis handal. Jika saja dulu ia tak berambisi menyaingi bisnis suaminya. Mungkin ia masih berjaya sampai sekarang.
'Apa maksud Om?" tanya Fina tak mengerti.
"Fina, kau hanya mengancamku dengan pepesan kosong. Ancamanmu malah membuat putraku tambah membencimu!" lanjut pria itu.
"Kau baru membangun perusahaan ayahmu yang sudah mati sejak sebelas tahun lalu. Kau terlibat banyak utang!"
Tak perlu waktu banyak bagi Charles mengetahui kiprah usaha dari Finanisha.
Gadis itu terdiam. Jeane meminta Fina pulang dan melupakan semua janji sebelum gadis itu akan mati karena usahanya dilibas oleh Neil.
"Berpikirlah jernih Fina. Kegagalan dalam perjodohan masa kecil itu bukan hal baru. Banyak dari kami para pengusaha membatalkan sepihak perjodohan ini. Bahkan ada yang sudah dihari pernikahan kedua mempelai tak datang," jelas wanita itu.
Fina kembali pulang dengan wajah tertunduk malu. Gadis itu gagal total. Jika ia memaksa maka nasib seluruh karyawannya akan berakhir begitu juga dirinya.
"Nona, ada perusahaan Vic Corp menginginkan kerjasama ini!" seru Neta salah satu ajudan Fina.
"Benarkah?" gadis itu setengah tak percaya.
"Beliau menginginkan pertemuan sore ini juga di perusahaannya!'
"Kita ke sana!' perintah Fina langsung.
Kendaraan itu bergerak, Charles menatap mobil mewah itu keluar dari halaman mansionnya.
"Sayang?!"
Charles menoleh, sang istri mendekati mendekatinya. Jeane memeluknya erat.
"Maaf dulu aku pernah membuatmu kecewa," ujarnya lirih.
"Hei ... jangan ingat lagi sayang. Kita sudah berjanji melupakan hal itu," ujar Charles menenangkan istrinya.
Sore menjelang, Neil mengantar istrinya untuk cek up. Keduanya duduk, Naima dicek tekanan darahnya.
Setelah itu, Naima berbaring di ranjang pasien. Dokter wanita menanganinya. Mengangkat baju bagian perut, mengolesi gel lalu sebuah alat menjalar di perut Naima.
"Ini dia, masih ukuran normal ya ... Belum ada pergerakan yang berarti karena baru berusia empat bulan," jelas dokter.
Usai pemeriksaan, keduanya mendapat buku catatan perkembangan bayi dan juga foto 3d usg nya. Naima tersenyum bahagia, wanita itu sampai berbinar dan terharu melihatnya.
'Ini anak kita Mas!"
"Iya sayang," Neil mencium pucuk kepala istrinya.
Setelah itu mereka pergi ke apotik untuk menebus resep. Naima sudah memakai baju hamil berwarna hijau dengan aksen bunga matahari.
Neil mengajak istrinya makan di restoran. Naima sedang ingin makan steak.
"Silahkan sayang!'
Makanan terhidang. Neil memotong-motong daging menjadi bagian kecil. Lalu menukar piringnya dengan milik sang istri. Naima tinggal mengambilnya dengan garpu.
Selesai makan, mereka pun pulang. Neil benar-benar memperlakukan istrinya dengan lembut. Ia siap jadi suami siaga.
"Apa perlu beli peralatan bayi sekarang sayang?" tawar Neil ketika perjalanan pulang.
"Nanti saja ketika kandungan berusia delapan bulan sayang," jawab Naima.
"Aku juga sedikit lelah hari ini," lanjutnya.
Sampai di mansion, Naima memilih langsung membersihkan diri. Neil mendapat telepon dari ibunya.
"Ya Ma?"
"Tadi Fina datang kemari," ujar Jeane lewat sambungan telepon.
"Fina siapa?" tanya Neil memang tak mengenal siapa yang disebutkan ibunya.
"Anak dari Tuan Buditama!"
"Aku nggak kenal!' potong Neil langsung.
Jeane menghela napas panjang. Mungkin salah jika ia memberitahu perihal kenangan perjodohan masa kecil itu.
"Apa katanya?" tanya Charles setelah sang istri selesai menelepon putranya.
"Kandungan Naima baik-baik saja,' jawab Jeane..
"Bukan itu!" sungut Charles kesal.
"Ya apa?" tanya Jeane gusar.
"Soal Finanisha!" sahut Charles meninggi suaranya.
"Dia lupa!' jawab Jeane.
"Oh ya?" tanya Charles tak percaya.
"Dia benar-benar lupa," jawab Jeane memastikan.
"Syukurlah kalau begitu!" ujar Charles lega.
Sepasang suami istri itu tampak diam. Keduanya belum memastikan jika Finanisha akan menghentikan aksinya.
"Buditama sosok ambisius. Perusahaannya hancur akibat ambisi berlebihan pria itu!" ujar Charles menerawang.
"Kita awasi saja sayang. Aku yakin menantu kita juga bukan wanita yang lemah," sahut Jeane lagi.
"Ya ... aku pasti akan mengawasi anak Buditama itu!" ujar pria itu mengangguk setuju.
Sedang di tempat lain. Perusahaan milik Fina berhasil mendapat kontrak kerjasama. Ia membuat pesta kecil bagi para karyawan.
"Kita harus memberi kesan yang baik. Saya harap kalian tidak melakukan hal yang mengecewakan dan dapat merugikan kita semua!" tekannya.
"Siap Nona!" sahut beberapa petinggi perusahaan.
Fina melangkah menuju jendela besar. Ia menatap iringan mobil merayap memenuhi jalanan ibukota.
"Neil ...," panggilnya lirih.
"Aku belum menyerah untuk mendapatkanmu sebagai milikku!" lanjutnya bermonolog.
Fina menyesap sampanye. Tangannya ia lipat di dada. Ia baru saja mendapat informasi siapa istri dari Neil Gutama.
"Jadi dia adalah cucu dari Hartono?'
"Benar Nona!" sahut pelapor membenarkan.
"Nyonya Naima Az-zahra Hartono pemilik dari PT Hart Corp. Perusahaan terbesar ke lima di sini!' lanjutnya memberitahu.
Fina menelan saliva kasar. PT nya jauh jika ingin bersaing dengan perusahaan yang Naima pimpin.
"Baik terima kasih!' ujarnya.
Pria itu pergi, Fina menggeleng pelan. Ia kalah telak.
"Aku akan hancur jika memaksa!"
bersambung.
nah sadar diri kan?
next?