
Nama Naima makin melejit. Gadis belia yang baru saja terjun di dunia bisnis ini mampu mengepakkan sayap tinggi-tinggi.
Naima menjadi pemegang nominasi pengusaha terbaik di majalah bisnis. Semua ide dan terobosan yang ia gaungkan, langsung menembus pasar komoditi bisnis.
"Nona ... otak anda berasal darimana?" tanya salah satu kolega yang begitu takjub dengan gebrakan yang dilakukan Naima.
"Hanya ingin melakukan yang terbaik saja Tuan. Toh, tidak semua apa yang saya lakukan diterima," jawab Naima tetap merendah.
Sandra sangat kagum akan sosok Naima. Gadis itu menjadi motivator baru para anak perempuan yang dianggap tidak becus mengurus perusahaan.
"Selamat Nona Hartono!" ujar Sandra penuh kekaguman. "Saya belajar penuh pada anda!"
"Anda berlebihan Nyonya Pratama!" ucap Naima lagi-lagi merendah.
Sikap loyal dan rendah hati yang diterapkan pada Naima jadi sorotan. Gadis yang mengantongi omset biliyunan sangat jauh dari kesan sombong. Pakaian Naima juga lebih sering sederhana dibanding pakaian bermerek.
"Nona, aku ingin bicara secara personal dengan anda!" salah satu pengusaha pria mendekati Naima.
Sandra sangat mengenal pria itu. Salah satu pengusaha ternama. Ia gelisah setengah mati. Berkali-kali melirik benda melingkar di lengan kirinya. Dua putranya belum juga menampakkan diri.
'Mana dua anak bengal itu!' gerutunya dalam hati.
Wanita itu melirik Xavier Pratama, putra dari selingkuh suaminya. Pria itu memang sangat tampan dengan mata hitam dan rahang tegas. Ia menatap sosok yang digandeng Xavier.
"Cih ... selevel dengan ibunya!'' umpatnya bergumam. "Wanita rendahan!"
Sabrina mengangkat dagunya ketika berjalan di sisi pria yang mencintainya teramat sangat. Xavier yang tidak peduli statusnya seorang mantan sugar baby salah satu pengusaha ternama. Bahkan ia telah memiliki seorang putri dari hasil hubungan gelap itu.
Pesta berlanjut, perkenalan antar CEO memang jadi ajang transaksi proyek dengan nilai profit triliunan. Naima sudah mengantongi tiga proyek. Kini ia duduk sendiri setelah berbicara dengan salah satu kolega yang hendak menjodohkan putranya.
Sabrina datang dengan begitu percaya dirinya. Ia belum mengetahui siapa itu Naima yang tengah menikmati hidangan di meja vvip. Setelan formal yang dikenakan Naima memang sangat sederhana dan bukan dari butik ternama.
"Eh ... apa karyawati biasa bisa datang ke sini dan duduk di meja vvip?" tanya Sabrina merendahkan.
Naima tak menanggapi pertanyaan Sabrina. Gadis itu mengenakan gaun warna gold dari designer ternama. Harga gaunnya bisa membeli satu unit sedan biasa.
"Hei ... apa kau tuli?" bentak Sabrina menggebrak meja.
Naima sedikit terkejut dan menatap gadis cantik yang memandanginya rendah. Andre memang tidak bersamanya. Pria itu sedang keluar kota untuk pekerjaan lainnya. Sedang sekretaris dan juga asistennya tidak ikut karena memang hanya diperuntukkan para pengusaha.
"Anda bicara dengan saya?" tanya Naima dengan bahasa formal.
"Oh ... oh ... oh ... sangat percaya diri sekali kamu!" sindir Sabrina dengan senyum mengejek.
"Memang siapa lagi kaum rendahan di sini?" lanjutnya bertanya dengan nada sama.
"Maksud anda?" Naima tidak mengerti.
"Ck ... kau ini benar-benar bodoh ya?" tanya Sabrina dengan tatapan jijik pada sosok tanpa riasan.
Naima menanggapi tenang gadis yang kini mulai tersulut emosinya. Xavier yang melihat gadisnya tengah berseteru dengan seseorang datang mendekati.
"Sayang?" panggilnya mesra.
Sebuah pagutan terjadi, Naima melengos untuk tidak melihat itu. Xavier langsung tertarik dengan wajah cantik yang tersembunyi di balik rupa tanpa riasan itu.
"Sayang, lihat perempuan ini!" rengek Sabrina.
"Masa dia berani menghina kekasih CEO dari PT Xavi Corp!' adunya yang tentu bohong.
Naima terkekeh mendengarnya. Sabrina tentu kesal sekali dengan tanggapan Naima yang tidak terpancing dengan semua perkataannya.
"Apa untungku menghinamu Nona?" tanya Naima dengan tatapan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu ******!" teriak Sabrina menghina.
Naima tentu marah diteriaki bahkan dihina sedemikian rupa. Dengan gerakan cepat, Naima berdiri dan menampar keras pipi Sabrina sampai hampir terjungkal jika saja Xavier tidak berada di sisinya.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Xavier marah.
Sabrina shock, tamparan itu membuatnya pusing dan pastinya susah makan karena sempat tergigit olehnya.
"Apa perlu aku ungkapkan siapa yang ****** di sini Nona?" tanya Naima sangat merobek harga diri Sabrina.
"Aku akan menuntutmu sebagai pencemaran nama baik!" ancam Xavier.
Kegaduhan mereka mengundang semua orang. Sandra yang memang tidak menyukai Xavier maju membela Naima.
"Oh ini dia Xavier Pratama. Anak haram hasil hubungan gelap dengan suamiku Rudi Pratama?" sindiran kasar dilontarkan perempuan itu.
Bisik-bisik mulai gaduh, mereka baru mengetahui jika suami dari wanita terhormat memiliki anak hasil luar nikah.
"Apa? Benar begitu?" tanya salah seorang pebisnis dengan bisikan keras.
Xavier menelan ludah. Kedudukannya sebagai CEO akan dipertanyakan jika semua terungkap. Tetapi perkataan Sandra membuat semua menyorot padanya.
"Kau ...."
Xavier menarik kekasihnya keluar dari ruangan mewah itu. Beberapa wartawan mengejarnya. Sandra memang sudah menyiapkan semuanya. Wanita itu akan menghancurkan bisnis yang didirikan Xavier.
"Anak haram masih jadi sorotan dan akan langsung berimbas pada bisnis yang digelutinya. Aku ingin tau, apa dia besok masih mau dilihat orang?' Sandra bergumam.
Naima tak peduli. Gadis itu melanjutkan menyantap hidangan yang sangat enak. Kali ini ia berhasil meyakinkan kepala acara untuk menyelenggarakan gala dinner di restoran yang baru saja ia bangun.
"Tempat ini benar-benar nyaman dan makanannya juga sangat enak dengan porsi kenyang!' puji salah satu kolega bisnis.
Andre langsung datang menjemput. Kehebohan yang dibuat oleh kekasih dari Xavier jadi trending topik.
"Nona ... Anda tidak apa-apa kan?" tanya pria itu khawatir.
"Tidak apa-apa Pa," jawab Naima terkekeh.
Andre menghela napas panjang. Pria itu sudah pasrah dengan sebutan nona mudanya. Ia pun bisa menetralisir perasaannya.
"Apa kita pulang?" ajak Andre.
"Tunggu sebentar Nona!" cegah Sandra.
Dua putranya baru saja muncul di detik-detik acara berakhir. Keduanya juga memakai setelan formal yang nyentrik dan sangat kekinian.
"Perkenalkan ini dua putraku. Hendra Pratama dan Dino Pratama!" ujarnya memperkenalkan dua putranya.
Naima bersalaman dengan dua pemuda tampan itu. Senyum ramah tak pernah lepas dari bibir sang gadis. Andre yang masih cemburu jika sang nona dekat dengan lawan jenis langsung mengajak pulang.
"Ayo Nona. Kasihan Bu Darni jika ditinggal terlalu lama," ujarnya beralasan.
Naima akhirnya mundur dari pesta karena memang berakhir. Sandra menatap kesal pada dua putranya.
"Kalian melewati kesempatan emas mendekati gadis itu!" gerutunya.
"Ma, aku juga ada kepentingan yang lain!" sahut Hendra kesal.
"Apa lagi aku!" sahut Dino juga menyahuti.
"Alah! Palingan kalian sedang sibuk mencumbu kekasih kalian!" sindir Sandra mencibir putra-putranya.
"Ma ...!"
"Lihat saja nanti! Kalian akan menyesal jika melewati Naima!" gerutu Sandra melirik dua putranya itu.
Bersambung.
Duh ... Sandra .. jan ngadi-ngadi ngejodohin Naima ya!
next?