
Mansion Neil sudah banyak orang. Naima mengundang lima ratus anak yatim piatu untuk acara selamatan putri pertamanya.
Anak-anak itu dimanjakan oleh pelayan yang didatangkan dari restoran milik Naima. Semua tertawa bahagia. Sang bintang acara dipangku oleh Darni.
Bayi cantik itu memakai baju dari katun tanpa lengan warna pink. Semua yang dipakai berwarna pink. Tadinya bayi itu memakai pita lucu dengan warna senada. Tetapi entah kemana pita itu berada. Rambut sang bayi sudah berantakan.
"Aahhh!" pekiknya kesal karena buyutnya menggoda bayi itu..
"Jadi siapa namanya?" tanya Nugroho pada Neil.
"Sabar," jawab Neil santai.
Didi dan Dion ada di sana. Dion akan mengumumkan siapa nama anak dari atasannya itu.
Para wartawan juga tengah menikmati hidangan yang tersedia. Berita tentang pengenalan sang ahli waris beredar kemana-mana.
Rendra menatap layar di depannya. Pria itu begitu takjub dengan apa yang ia baca saat ini. Mantan calon istrinya sekaligus adik angkatnya menjadi sosok yang sangat bersinar.
"Astaga ... dia begitu mengerikan. Aku tak bisa menyamainya. Bahkan jika perusahaan milik adik iparku bergabung!' ujarnya penuh kekaguman.
"Sayang!" pria itu menoleh.
Seorang gadis cantik datang dan membawa rantang makanan. Rendra tersenyum, ia menghampiri sosok cantik itu.
"Halo sayang, kenapa datang? Di luar terik sekali loh!" ujarnya lalu memberi kecupan di bibir sang kekasih.
"Untuk mengambil hati calon suami kan harus begini," jawab sang gadis sambil tersenyum lebar.
Rendra tertawa lirih, ia memijit gemas hidung mancung calon istrinya. Gadis itu menatap layar.
"Wah ... mantanmu?" tanyanya setengah menyindir.
"Kau cemburu?" tanya Rendra.
"Aku, cemburu dengan sosok Naima Hartono?" sahut sang gadis berdecak.
"Aku tak pantas. Jika pun Naima mau kembali padamu. Aku mundur teratur. Dia benar-benar mengerikan sayang!' lanjutnya menjelaskan.
Rendra terkekeh mendengarnya. Ia mengangguk setuju.
"Tuan Gutama memang pantas untuknya. Aku bukan apa-apa," ujarnya merendah.
"Sayang ... sudahlah," ujar sang gadis.
Ia mengalungkan lengan ke leher calon suaminya. Kedua bibir saling bertemu dan memberi kenikmatan.
"Cukup sayang," Rendra menghentikan ciumannya.
"Kenapa?" tanya sang gadis dengan nada sayu.
Napas keduanya menderu. Rendra nyaris berbuat lebih pada sosok cantik yang akan diperistrinya itu.
"Aku tak mau melakukan yang membuat aku dan kau menyesal nantinya," lanjut pria itu beralasan.
Rina terdiam ketika Rendra melepas rangkulannya. Gadis itu sedikit sedih karena penolakan sang kekasih.
"Denganmu aku rela sayang," ujarnya sendu.
Rendra menggeleng pelan. Ia mendudukkan kekasihnya di sofa. Lalu ia pun duduk di sisi sang kekasih.
"Coba siapkan makanan. Aku sudah lapar!" pinta Rendra.
Rina menghela napas panjang. Ia pun membuka rantang dan mulai menyusunnya lalu memberikan makanan untuk Rendra.
Sementara di tempat Naima. Mansion makin banyak berdatangan pada kolega bisnis. Semua orang tentu terpusat akan acara bergengsi itu.
"Nama bayi adalah Queenza Neina Gutama!' ujar Dion ketika memperkenalkan bayi cantik itu.
"Panggilannya Ezha!' lanjutnya.
Para wartawan membidik kamera mereka. Tentu saja nama itu akan jadi nama yang populer saat itu juga.
Queenza terlelap digendongan Dion. Pria itu mengecup buku tangan sang bayi yang menggenggam erat telunjuknya.
"Nanti jika aku punya putra, kau harus menikahinya ya!" ujarnya.
"Eh ... enak sekali kau!" tolak Neil langsung.
"Aku akan menjodohkan dengan Andriya!" ujarnya sinis.
"Putraku tidak kujodohkan dengan siapa-siapa!" tekan Andre yang membuat Neil cemberut.
Dion terkekeh meledek sahabatnya itu. Baik Charles, Nugroho dan Danar hanya menggeleng melihat kelakuan para pria di sana.
Pesta usai, semua orang sudah pergi. Mansion Neil sepi. hanya tinggal keluarga saja.
Fidya menggendong Queenza. Bayi itu tak bisa diletakan. Jika diletakkan maka Ezha akan menangis keras.
"Ih ... Mama, kan Ezha nggak mau diboboin!' seru Naima kesal.
Fidya tertawa, ia memang suka bayi. Andri saat ini berada dalam gendongan kakeknya. Bayi tampan itu memang sudah bisa bicara ala dia.
'Uhyut blevsibeusybnsjshdbdujsbysiauhzbwiusjaishasysy!' ocehnya tak jelas.
'Kamu ngomong apa sih Nak?" kekeh Nugroho.
'Apa kau sudah siapkan putrimu jadi apa?' tanya Denita pada Naima.
"Aku membiarkan dia bebas memilih hidupnya, Oma. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya membimbingnya di jalan yang benar," jawab Naima.
Kini putrinya sudah bisa diletakan di boksnya. Neil yang membawa putrinya ke kamarnya.
"Ini pita Nona Ezha, Nyonya!' Darni menyerahkan pita bayi cantik itu.
"Astaga ... pitanya sudah kotor!' kekeh Naima.
"Taruh di cucian saja Bu," suruhnya lembut.
Darni mengangguk. Ia pun membawa kain merah jambu itu ke belakang.
Akhirnya mansion Neil sepi. Bekas-bekas pesta sudah dibersihkan oleh jasa bersih-bersih.
"Apa putri kita sudah bobo?" tanya Neil.
Naima meletakkan putrinya yang sudah disusui. Bayi cantik itu sudah kenyang dan tak akan bangun sampai tengah malam. Neil membawa istrinya ke kamar lewat pintu penghubung.
Keduanya pun tidur berpelukan. Tengah malam Ezha terbangun. Bayi itu menangis keras. Naima perlahan bangkit.
Dengan mata setengah terpejam, ia mengambil putrinya lalu duduk di sofa empuk dekat sana.
Ezha menyusu dengan kuat. Naima sedikit meringis, bayi cantiknya itu memang sangat rakus.
"Sayang," Naima menoleh.
Neil juga bangun ternyata. Ia pun duduk menemani istrinya. Ezha terlelap, popoknya masih kering. Sebelum sang putri terbangun akibat popok penuh. Naima menggantinya.
Keduanya kembali tidur. Ezha bangun lagi sebelum subuh menjelang. Naima harus bolak-balik bangun.
"Sayang ayo mandi!' Naima menggendong bayinya yang masih terlelap.
Ia harus membiasakan Ezha bangun pagi dan mandi. Setelah dijemur di matahari selama sepuluh menit.
"Oeee ... oeee!" Ezha menangis kencang akibat air dingin mengguyur tubuhnya.
"Sayang!" Neil tak tega mendengar tangisan putrinya.
"Biar dia kuat sayang!' ujar Naima.
Ezha tenang dan kembali menyusu. Bayi itu kembali terlelap. Naima sudah mengundurkan diri dari perusahaan. Ia menyerahkan semua usaha pada Andre dan dua asistennya.
"Aku mau fokus sama anak-anakku nanti. Melihat tumbuh kembangnya dan menemani kenakalannya," ujar Naima.
"Sesuai janjiku padamu sayang," lanjutnya.
Neil mencium sang istri. Ia tidak pernah menyuruh Naima total meninggalkan pekerjaannya.
"Jika Papa Andre butuh bantuanmu. Aku tak masalah jika kau terus bekerja walau hanya dibalik layar sayang," ujar Neil.
"Aku tidak mau egois," lanjutnya lalu mengecup kening sang istri mesra.
Naima tersenyum, ia mengangguk dan menurut saja. Sungguh, ia juga tak mencari kesusksesan. Dirinya hanya ingin membuktikan pada sosok yang dulu selalu menekannya.
"Apa kabar Nyonya Sofia?" tanyanya dalam hati.
Sedang di hunian mewah lain. Agung dan Sofia membaca majalah bisnis. Perkenalan putri pebisnis nomor satu di negara ini tentu ada dan beritanya memenuhi seluruh halaman.
"Astaga ... dia makin mengerikan!" ujar Sofia takjub.
"Apa kau menyesal?" tanya Agung.
"Tidak ... aku tidak menyesal sama sekali!" jawab Sofia.
"Apa kau yang menyesal?" tanyanya ulang.
Agung mengangguk pelan. "Sedikit,"
Sofia berdecih dengan pria itu. Ia hendak berdiri tapi Agung langsung menggandeng tangannya.
"Kau tau Mas. Jika Naima tetap bersamamu. Dia tak akan bersinar seperti sekarang!" ujar Sofia menerawang.
TAMAT.
Hah kalah bersaing si Lakso sama Naima.
makasih kawan-kawan atas atensinya!