
Agung menepati janjinya. Pria itu kini selalu lembut, bahkan di meja makan juga ia mencontohkan itu. Semua tentu heran, Pratma juga heran melihat perubahan sikap ayahnya.
"Pa, Papa tidak sakit kan?" tanyanya bingung.
"Tidak ... Papa tidak sakit. Mulai sekarang, Papa tidak mau ada keributan lagi di rumah ini. Papa tau ini sangat mendadak. Tetapi, apa salahnya kita mencoba hidup damai," jawab Agung panjang lebar.
Naima yang duduk di sana hanya diam tak menanggapi. Sofia, sedikit bingung dengan perubahan sikap sang suami yang jauh lebih perhatian.
"Ma, Papa pergi dulu ya," pamit Agung lalu mengecup kening sang istri.
Sejak menikah hingga sekarang. Sofia tidak pernah diperlakukan mesra oleh suaminya. Wanita itu bergeming dan merasakan desiran aneh yang kembali muncul di dadanya.
"Ck ... jangan terpengaruh, Sofia!" peringatnya pada diri sendiri.
"Ma, Papa nggak apa-apa kan?" tanya Anna sang menantu.
"Aku tidak tau," ujar Sofia malas.
Sofia dulu begitu sangat mencintai Agung. Wanita itu jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat sosok tampan yang begitu dingin berada di pesta ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya.
Berkat kerjasama bisnis yang dibangun. Sofia berhasil menjerat Agung dalam sebuah pernikahan, cinta sucinya ia buktikan dengan menyerahkan diri secara utuh.
Sofia sebenarnya dididik begitu lembut dan penuh kasih. Tidak pernah arogan dan sombong. Tetapi perlakuan sang suami membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Agung yang terus terang berkata hanya menikahinya karena keuntungan bisnis, membuat cinta tulus Sofia hancur berkeping-keping. Terlebih ketika ia mengatakan itu setelah menyerahkan mahkota suci pada pria yang ia cintai itu.
Buliran bening keluar dari sudut mata wanita itu. Sungguh persembahan dirinya tak ada arti di mata Agung. Menurutnya hal itu pantas ia dapatkan.
"Aku membencimu Agung!" teriak Sofia ketika Agung meninggalkannya begitu saja di kamar pengantin mereka.
Sofia duduk di kursi malas. Wanita itu mengusap berkali-kali kecupan di keningnya. Sungguh dendamnya masih membara untuk Agung.
"Aku menghancurkan putramu hingga kau tak bisa mengangkat kepalamu Agung!' sumpahnya ketika melihat putra pertamanya lahir.
Sosok pewaris yang dinantikan semua orang. Dendam Sofia yang mengakar mengajari Pratma dengan cara yang salah. Ia benar-benar membuat Agung harus berkali-kali berurusan dengan polisi setelah putranya menginjak usia remaja.
"Ini pasti karena harta Naima!"
Sofia berdiri tiba-tiba dari kursi malasnya. Wanita itu mengepal tangan erat. Ia menggeleng kuat, tak akan dibuatnya sang suami berhasil dengan tujuannya.
"Kau berkhayal terlalu tinggi Tuan Lakso!" monolognya dengan seringai tipis.
"Aku pastikan kau tidak akan mendapatkan apapun!" tekannya lagi.
Sementara di tempat lain. Pratma yang kini menjadi ajudan sang ayah tak bisa berbuat banyak. Pria itu benar-benar kehilangan pamornya setelah kedapatan hendak menikah lagi.
"Pa, sampai kapan kau menghukumku?" keluhnya.
"Sampai perusahaan Naima ada di tanganku Pratma!" tekan Agung lagi.
"Kau tau, jika tanpa pergerakan modal dari perusahaan itu. Kau menghancurkan perusahaan yang kubangun dengan susah payah!" lanjutnya dengan muka kesal.
Pratma menunduk, ia memang terlalu bodoh. Hanya diberi perhatian lebih dari seorang gadis cantik dan seksi, ia bisa melakukan apapun untuk memenuhi keinginan sang gadis. Bahkan mengambil uang perusahaan semena-mena.
"Kenapa kau tak pernah belajar dari kesalahanmu Prat?" tanya Agung bingung.
"Apa ibumu terlalu memanjakan mu hingga kau berbuat semaumu?" sambungnya lagi sampai berdesis.
Pratma menggeleng, sang ibu yang selalu membela kelakuannya membuatnya tak banyak berpikir lebih. Pria itu yakin akan selamat selamanya, selama sang ibu berada di sisinya.
"Belajarlah Prat dengan cepat!' ujar pria itu lagi.
"Kau tau, jika perusahaan ini sedang tidak baik-baik saja," sambung Agung lirih.
Naima mendapat pesan singkat dari beberapa toko yang membutuhkan bantuan perekapan pembukuan keuangan. Gadis pintar itu tentu dengan senang hati terutama bayarannya sangat memadai hingga bisa membeli keperluannya sendiri.
"Eh ... hp baru Ma?" tanya teman sekelasnya.
Naima yang pendiam hanya mengangguk. Ia memang menjaga pergaulannya, tak memiliki teman akrab terlebih sahabat baik. Gadis itu menutup diri.
"Ck ... Gue lupa kalo Lu itu bisu," keluh gadis yang duduk di sebelah Naima.
Bel tanda akhir pelajaran berbunyi. Semua berhamburan keluar kelas setelah guru mereka keluar.
Naima mendapati lagi mobil lain yang menjemputnya. Pak Sopran berdiri di sana dengan senyum lebar. Naima menghela napasnya.
"Non," sapa pria baik itu.
Hanya dengan para pekerja di mansion itu membuat Naima betah. Terutama pada Mbok Darni, wanita yang selama ini mengurusnya.
"Aku ada kerjaan Pak, mau anterin nggak?" ujar gadis itu.
"Emang Non kerja apa? Apa Tuan tau?" tanya pria itu beruntun.
"Bilang dulu ya Non. Saya nggak mau dimarahi," pintanya lagi dengan mimik memelas.
Naima kembali menghela napas panjang. Ia pun mengangguk, Sopran segera menelepon majikannya. Naima sendiri yang mengatakan jika dirinya sudah menerima pekerjaan.
"Baiklah, tapi benar ya hanya dua toko?" tanya pria itu lembut dari seberang telepon.
Naima terdiam mendengar jawaban yang di luar ekspektasinya. Ia tak menyangka jika kakek angkatnya itu memperbolehkan dirinya bekerja.
"Kita boleh mampir Pak!" ujar Naima yang diangguki oleh Sopran.
Mereka pun masuk mobil. Sedang di mansion, Agung pulang cepat, entah kenapa ia ingin segera pulang ke rumah.
Ia masuk, sebuah aroma yang menggugah selera tercium. Pria itu melangkah menuju dapur. Di sana ia melihat sosok wanita yang ia abaikan hampir separuh hidupnya itu.
Sofia memasak, beberapa maid hanya membantu sekedarnya saja.
"Mbok, mana keju?" tanya wanita itu sambil menyeka keringat yang ada di dahinya.
Sofia mengenakan baju terusan tanpa lengan. Ia memakai celemek, rambutnya ia ikat asal. Agung menelan saliva kasar.
"Cantik sekali!" pujinya lirih.
Matanya terus menatap wanita yang berkutat di dapur. Semua tak lepas dari pengamatannya.
Sofia merasa diamati, ia menoleh. Kening wanita itu mengerut, masakannya sebentar lagi matang.
"Seperti ada yang melihat," gumamnya lirih.
"Nyonya, masakannya!" seru Darni heboh.
"Ah ...!' Sofia mematikan kompornya.
Beruntung tidak hangus atau merubah rasa. Wanita itu mencicipinya, justru keju yang meleleh membuat citarasa masakan makin lezat.
"Ah ... enak!" angguknya puas.
Agung berada di balkon. Ia tadi bersembunyi cepat ketika Sofia menoleh. Pria itu menekan dadanya yang bergemuruh.
"Ah ... buruknya kelakuanku dulu padamu Sofia," sesalnya tiba-tiba.
Pria itu mengingat jika tak pernah peduli dengan istrinya. Bahkan ia membiarkan sang istri melahirkan sendirian di rumah sakit. Pria itu mengejar proyek yang gagal total akibat data fiktif.
"Apa ini hukumanku?" tanyanya terkekeh sendiri.
Terdengar bunyi pintu terbuka, Agung menetralkan rasanya. Sofia masuk ke kamar hendak membersihkan diri.
"Loh ... Papa kok udah pulang?" tanya wanita itu melihat sang suami masuk dari balkon.
"Kenapa, apa aku tidak boleh pulang?" tanya Agung tersindir.
Sofia mengangkat bibir sebelah, nyinyir. Wanita itu masuk dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Bersambung.
Oh ... ternyata!
next?