
Kehamilan Naima makin lama makin besar. Kini kandungannya sudah mencapai delapan belas minggu. Perutnya yang rata mulai membuncit.
Naima berbinar melihat bentuk tubuhnya yang mulai berisi di beberapa bagian, seperti dada, bokong dan perutnya sendiri.
"Kamu makin seksi sayang," puji Neil mengecup tengkuk istrinya.
Naima menaikan bahu karena geli. Wanita itu jadi semakin manja. Ia selalu ingin dekat dengan suaminya.
"Aku nanti bawa makan siang ya,"
"Iya sayang," sahut Neil.
Neil berangkat, untuk hari ini Naima berada di mansion suaminya. Wanita itu akan memasak udang tepung asam manis dan daging iris bumbu barbeque.
"Nyonya, selamat pagi!" sapa Darni.
"Pagi Bu," balas Naima.
Darni akan mengelus perut majikannya. Naima ingin perempuan itu melakukannya setiap pagi.
"Pagi juga sayang," sapa Darni ketika mengelus perut Naima.
"Pagi Nini," jawab Naima dengan suara kecil.
"Aku akan memasak untuk makan siang Neil Bu," ujarnya kemudian.
"Baik Nyonya," sahut Darni.
Beberapa Maid sudah bersiap di sana. Anik yang paling antusias membantu majikan cantiknya itu.
Bahan-bahan disiapkan. Naima mulai memasak daging iris dulu. Bawang bombay dan lada hitam adalah bumbu utama. Naima menumisnya dengan minyak wijen.
"Udangnya sudah dibersihkan Nyonya," ujar Leni.
"Terima kasih, letakkan di situ ya. Buat tepungnya. Jangan lupa kasih bumbu garam, penyedap rasa dan juga lada," perintah Naima.
Leni bergerak cepat, Anik dan Jian membantunya. Darni menyiapkan beberapa wadah dan kotak makan siang.
Bau harum menguar, Anik melompat kegirangan melihat bagaimana majikannya menata makan siang di atas piring saji.
"Nyonya kenapa cabainya bisa jadi bunga?" tanyanya bodoh.
"Ini hanya di iris sebelah sini dan sini. Lalu megarkan seperti ini," jelas Naima mempraktekkan membuat bunga dari cabai.
"Coba cicipi,' Naima menyulangkan makanan ke mulut Anik.
Gadis itu membuka lebar mulutnya. Sedari awal memang Naima tak pernah membedakan siapapun.
"Selalu the best Nyonya!' puji gadis itu mengacungkan jempol.
Naima terkekeh, ia senang masakannya disenangi oleh semua orang. Bahkan sang suami juga sangat menyukai masakannya.
Sementara di perusahaan Neil. Pria itu berkutat dengan tumpukan berkas. Dion dan Didi juga sama sibuknya.
Sudah mau pertengahan tahun. Laporan keuangan dan perjalanan bisnis harus segera diperiksa. Mereka harus membuat laporan dan pendataan perusahaan.
"Tuan, sepertinya banyak error pada kotak sheet nomor dua, enam, dua belas, lima belas dan dua puluh delapan,'' lapor Didi.
"Benar sekali, coba tanyakan pada divisi data keuangan apa ada komputer mereka error?!" perintah Neil.
Didi langsung melakukan apa yang disuruh oleh atasannya. Tak lama telepon di meja kerja Dion berdering.
"Ya halo!"
"Tuan ada CEO dari PT Finesher, Nona Finanisha Buditama," sahut resepsionis di seberang telepon.
"Oh bawa dia ke ruangan rapat divisi. Kita akan adakan rapat di sana!" suruh Dion.
Sambungan interkom terputus. Dion mencari berkas di mana kerjasama dengan perusahaan yang baru disebutkan tadi.
"Tuan, kita harus rapat!" Neil mengangguk.
Keduanya pun pergi, Didi sudah ada di tempat itu. Pria muda itu memang sangat tanggap, bahkan berkas-berkas yang diperlukan sudah dikopi dan di letakan di setiap meja para kepala divisi perusahaan.
Seorang gadis cantik dengan balutan mewah duduk dengan anggun. Gadis itu memakai setelan formal yang terbuat dari sutera.
"Selamat pagi menjelang siang, semua hadirin sekalian!' ujar Didi memulai acara.
Beberapa review dari perusahaan Finesher diutarakan. Finanisha mereview kerjasamanya dan memberikan satu keuntungan yang begitu menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha di sana.
Dion mencoret beberapa kata yang tak penting di sana. Terlalu banyak kosa kata hiperbola.
"Iya benar sekali!" jawab gadis itu begitu yakin.
"Nona, total proyek yang anda tawarkan hanya mampu menembus angka delapan persen. Darimana keuntungan yang anda bilang itu?" tanya Dion yang membuat Finanisha terdiam.
Gadis itu memang sedikit berlebihan dalam perhitungan laba untungnya. Ia sangat yakin dengan proyek yang ia rencanakan ini.
"Saya yakin Tuan. Selama perusahaan ini menanam modal dan mempercayakan pada perusahaan kami!" tukas Finanisha yakin.
"Dari mana keyakinan itu Nona?" tanya Dion gusar. "Nilai yang anda tawarkan sangat tidak sesuai!"
Finanisha lagi-lagi diam. Beberapa kolega mulai kasak-kusuk. Finanisha berdiri dengan tubuh gemetaran. Ia sangat panik. Didi iba melihatnya, pria muda itu masih memahami jika sebagai pengusaha baru, tentu semangat dan berlebihan dalam perhitungan.
"Tetapi proyek ini memang menjanjikan dalam jangka waktu tiga sampai empat tahun mendatang," celetuknya bergumam.
Dion berdecak, memang semestinya Finanisha merujuk poin keuntungan di masa akan datang.
"Perbaiki proposalmu Nona Buditama!" perintah Neil bijak dan diangguki semua petinggi divisi.
"Memang kami mencari untung besar dalam setiap proyek. Tetapi tidak mengada-ada!' tekannya lagi.
Finanisha harus menahan malu, ia mengambil lagi proposal yang ia bawa dengan harapan tinggi.
"Jangan khawatir Nona. Proposalmu sudah bagus tetapi, kau harus lebih rasional lagi!" ujar salah satu petinggi divisi.
Gadis itu pergi bersama dua orang ajudannya. Naima datang membawa makan siang untuk suaminya.
Naima melihat wajah gadis yang memerah menahan tangis ketika keluar dari lift. Keningnya berkerut.
"Dia kenapa?" gumamnya bertanya.
Naima tak peduli. Ia masuk lift khusus dan naik ke lantai di mana suaminya berada. Ketika pintu lift terbuka, bertepatan dengan Neil, Dion dan Didi keluar dari ruang rapat.
"Sayang!" panggil Neil.
Naima tersenyum, Didi memilih menganggukkan kepala untuk menyapa istri atasannya. Dion juga melakukan hal yang sama.
"Kami akan makan di kantin!" ujar Dion.
"Aku masak banyak loh Kak!" ujar Naima yang membuat Neil melirik sebal pada istrinya.
Naima memaksa dua pria bawahan suaminya untuk makan siang bersama.
"Masakan anda enak sekali Nyonya!" puji Didi yang baru pertama kali mencicipi masakan Naima.
"Makasih!' ujar wanita itu tentu senang dipuji.
"Cepat habiskan dan keluarlah!" perintah Neil kesal.
Dion dan Didi mempercepat makannya. Setelah mengucap terima kasih. Keduanya pun pergi dari ruangan.
"Sayang!" rengek Neil cemberut.
"Uh ... suamiku cayang!' kekeh Naima lalu memeluk suaminya.
"Kamu lucu sekali kalau lagi merajuk seperti ini!?" lanjutnya dengan senyum lebar.
"Sayang, aku ingin makanan itu hanya untukku!" rengek Neil.
"Sayang, jangan pelit jadi orang ya!" peringat Naima lalu mengecup pipi suaminya.
"Sayang," panggil Neil dengan pandangan gairah.
Naima mengusap rahang suaminya. Ia juga sedang didalam gejolak birahi.
"Ke kamar?" ajak Neil yang diangguki Naima cepat.
Neil menggendong istrinya. Ia menekan kunci otomatis. Lalu memberi tanda merah. Dion akan mengerti jika melihat tanda itu.
Sedang di tempat lain, Finanisha melempar berkas yang tadi disuruh revisi oleh salah satu pebisnis ternama.
"Bodoh kau Neil!" makinya kesal.
Bersambung.
Ih ... kok?
next?