
Neil menepati janjinya. Pria itu memberitahu pada sang kekasih akan mempererat hubungannya. Sebuah pertunangan akan dilangsungkan dua minggu setelah kepulangannya.
"Sayang, apa sudah disiapkan semua?" tanya Denita sedikit kesal melihat cucunya yang bersantai.
"Neil yang siapin semua Oma," jawab Naima santai.
"Kau nggak ikut andil?"
"Neil melarang Ma. Dia udah siapin semua. Dari hotel, makanan bahkan baju-baju kita!" jawab Naima merasa tak bersalah.
"Terus kamu nggak ke spa gitu, buat mempersiapkan diri kamu?" tanya Denita yang melihat kulit cucunya mulai kusam.
Naima kini sudah bisa ke distrik sendiri. Gadis itu memaksa Andre untuk mengajaknya. Pria itu sampai kesal, Fidya yang membela Naima jika merajuk.
"Nona, ini semua dari Tuan Gutama!"
Beberapa maid masuk membawa banyak paper bag. Denita kini mengerti kenapa cucunya santai. Naima yang memang tidak suka dengan kemewahan, ia pun tak begitu mengerti dengan designer ternama.
"Semua baju sama saja. Selama kita nyaman, ya pakai saja," jelasnya beralasan.
"Gaunmu indah sekali sayang," ujar Denita ketika mengambil salah satu paper bag.
Gaun warna Salem yang sangat cantik. Tak ada riasan berlebihan di sana hanya saja taburan berlian Swarovski membuat gaun itu menjadi lebih indah.
'Cakep banget gaunnya!' puji salah satu maid dalam hati.
"Letakkan di kamar ya!" perintah Denita.
"Buat Ibu mana"
Naima mencari paper bag untuk Darni. Gadis itu pun menemukan sebuah tunik berwarna sama dengan pakaian kakek neneknya. Ia tersenyum.
"Bu, ini buat Ibu. Nanti harus ikut ya!"
"Non!" Darni berusaha menolak.
"Bu," rengek Naima.
"Kau ikut Darni," perintah Denita.
"Baik Nyonya,' sahut Darni menurut.
Naima tersenyum. Ia telah mengatakan pada Neil jika Darni adalah bagian hidupnya. Tanpa Darni gadis itu tak bisa melewati hari-harinya dengan mudah.
Naima ditelepon Neil. Pria itu ingin kekasihnya mempersiapkan diri.
"Aku sudah memberimu kartu debit unlimited sayang. Kau harus menghabiskan setengahnya!' perintah pria itu.
"Banyak sekali!" teriak Naima.
"Apa yang mesti kubersihkan?" lanjutnya dengan kening berkerut.
"Seluruhnya sayang. Aku ingin semua bersih, hingga ...."
Naima menutup ponselnya sambil mengumpat pelan. Gadis itu tidak suka dengan perkataan sang kekasih.
"Sayang kenapa dimatikan?" tanya Denita.
"Neil mesum Oma!" adu gadis itu kesal.
Denita terkekeh mendengarnya. Ia mengelus kepala sang gadis.
"Laki-laki itu memang harus begitu sayang. Itu menandakan dia normal," jelasnya.
"Tapi kan malu Oma!" rengek Naima manja.
Beberapa maid memasukkan paper bag ke kamar. Salah seorang maid menatap gaun yang tadi dicoba oleh nona mudanya. Ia mengusap pelan gaun indah itu.
"Ini cantik sekali," pujinya lirih.
Gadis itu melirik, semua rekannya sudah pergi keluar kamar. Ia mengangkat gaun itu. Perlahan ia dekatkan ke tubuhnya. Ia menatap cermin besar. Ia menggoyangkan tubuhnya.
"Bagus ya gaunnya?"
"Iya," angguk maid dengan senyum indah.
Deg! Maid mendadak pucat. Ia sangat mengenal suara siapa yang tadi bicara.
"Nona ...."
"Tidak masalah Fen," ujar Naima tersenyum.
Gadis itu paham, bagaimana semua perempuan tentu ingin memakai baju bagus.
"Jika kau mau, aku punya beberapa gaun yang tidak aku suka," ujar Naima.
Gadis itu menuju ruang wardrobe. Ia meminta Fen mengikutinya. Maid itu berjalan dengan kepala menunduk.
"Kau punya enam teman kan?"
"Apa Nona?"
"Kau punya enam rekan yang sama denganmu bekerja kan?" tanya Naima ulang..
"Iya Nona!" jawab Fen menunduk.
"Tubuh kalian jauh lebih kecil dibanding tubuhku," ujar Naima lagi lalu ia memilih beberapa gaun cantik yang tak pernah ia pakai.
"Terima kasih Nona!" Fen membungkuk hormat pada nona mudanya.
Gadis itu bahkan juga diberikan enam pasang sepatu untuk dibagikan pada rekannya.
"Apa? Jadi hanya karena kamu menjajal gaun nona. Kau diberikan ini?" tanya salah satu maid.
"Iya, aku sudah memilih gaunku. Selanjutnya, kalian pilih sendiri!" ujar Fen lalu mengambil satu gaun cantik warna pink begitu juga sepatunya.
"Kau tidak dipecat karena memegang gaun mahal. Malah kita dapat gaun bagus dan mahal juga!" seru salah satu maid mencoba gaun pilihannya.
Naima pergi ke sebuah spa. Kali ini ia membawa Fidya bersamanya. Wanita hamil itu sudah suntuk di rumah. Kandungannya berjalan sebelas minggu.
"Mama juga bisa spa kan?" tawar Naima.
"Tidak sayang, Mama takut. Dokter melarang Mama untuk melakukan pijat yang bukan profesional pijat wanita hamil," tolak Fidya menjelaskan.
"Jadi Mama ngapain?" tanya Naima.
"Mama mau creambath aja deh sama manipedi," jawab wanita itu.
"Oke deh Ma. Aku masuk ya," Fidya mengangguk.
Andre memang memanjakan istrinya. Ia yang melayani semua kebutuhan sang istri. Pria itu tak mau wanitanya mengeluh sedikitpun.
Dua jam berlalu. Naima sudah semakin cantik dan wangi. Ia menurut permintaan Neil. Fidya pun sudah selesai.
"Ayo, Mama sudah lapar. Kita pulang. Papa pasti masak enak!" ajak Fidya.
"Papa bisa masak?" tanya Naima.
"Tentu saja. Bahkan masakan Mama kalah," jawab Fidya..
"Ayo Ma. Aku nggak pernah makan masakan Papa,"
Keduanya pun pulang ke rumah Andre. Di sana pria itu sudah menyajikan hidangan yang menggugah selera.
Sementara itu Neil sesekali memeriksa semua proyek yang telah ia kerjakan.
"Bro, udah nggak usah dipikirin. Kerjaan mah nggak bakalan beres!" peringat Dion pada sahabat yang menjadi atasannya itu.
"Tapi ini kan penting!" sanggah Neil.
"Ya, semua kerjaan penting. Tapi ingat, bentar lagi kamu mau tunangan. Jangan forsir tenaga. Pas hari H, kamu sakit lagi!" oceh Dion.
"Lo kek Emak gue aja deh!" ledek Neil.
"Lah, bukan gitu ...."
"Iya ... iya ... aku ngerti. Makasih ya," ujar Neil menepuk bahu sahabatnya.
"Ganteng," colek Neil pada dagu Dion..
"Eh ... najis Lu ya!" teriak Dion geli.
Neil terbahak, pria itu harus kabur dari Dion agar tak dipukul oleh sahabatnya itu. Neil memilih pulang dan menyerahkan semua pekerjaan pada Dion.
'Lu tuh baik, tapi kenapa selalu diselingkuhi sama pasangan Lu?" tanya Neil dalam hati pada sahabatnya itu.
Sementara itu Dion hanya menghela napas panjang. Ia menatap semua tumpukan berkas yang tak ada habisnya.
"Lama-lama gue kawinin ini berkas-berkas!' dumalnya kesal.
Kendaraan Neil bukan menuju hunian orang tuanya. Tapi ia memilih ke sebuah tempat. Pria itu memastikan acaranya yang tinggal hitungan minggu berjalan sempurna.
"Neil!' Pria itu menoleh.
Neil menatap datar pada sosok gadis yang pernah menjalin hubungan dengannya.
"Kau di sini?" tanya gadis itu mencoba mencairkan suasana.
"Tuan, semuanya sudah siap," ujar management dekorasi.
"Bagus. Aku tidak mau ini berantakan. Aku sudah booking tempat ini sampai satu bulan. Aku tidak mau ada yang menyentuhnya!" tekan Neil setengah mengancam.
"Baik Tuan!" sahut manager.
Neil mengangguk, ia benar-benar tak peduli pada sosok gadis yang dari tadi menatapnya dengan kesedihan dan permintaan maaf.
"Neil ... aku minta maaf. Bisakah kita mulai dari awal?" pinta Viona memelas.
"Tidak!" jawab Neil tegas.
"Neil ... aku tau kau masih mencintaiku. Buktinya tempat ini adalah tempat favorit kita berdua!" teriak Viona.
Sayang Neil tak mendengarnya. Gadis itu menghentak kakinya kesal.
"Baiklah. Aku yang akan mengacau nanti Neil!" ujar Viona ketika ia melihat tanggal acara berlangsung.
Bersambung.
Cari mati!
next?