
'Kau punya ponsel?" Agung mengerutkan keningnya.
"Ada masalah Tuan?" tanya Naima ikut mengerutkan keningnya.
"Dari mana ...."
"Tidak perlu tau Tuan. Yang penting aku tidak meminta uang padamu!" potong Naima menyindir.
"Kau bisa minta Nak," ujar pria itu lembut.
"Ck ... dia dapat uang dari mana sih? Palingan menjual diri," celetuk Anna sinis.
"Jangan sembarangan Nyonya!" sentak Naima dingin.
"Nggak usah ngegas kalo enggak merasa," sahut Anna santai dan merasa tak bersalah.
Naima hendak menyahuti, tetapi Darni menenangkan gadis itu dengan membelai lengan Naima.
"Tidak akan pernah menang melawan orang buta dan tuli,' bisik wanita itu.
Naima pun diam dan mengulas senyum tipis. Anna sangat kesal. Ia begitu penasaran dengan apa yang dibisikkan Darni.
"Kau ...."
"Cukup!" sentak Agung menyudahi perdebatan di meja makan itu.
Pria itu menyerahkan satu kartu debit pada Naima.
"Pa ...!" Sofia dan Anna hendak memprotes.
"Diam kalian!" bentak Agung lagi kali ini dengan muka memerah.
"Ini pakailah. Semua kebutuhanmu mulai sekarang kau bisa kelola sendiri," ujar Agung lembut.
Naima menoleh pada satu kartu debit dengan nama salah satu bank swasta nasional.
"Tidak perlu. Aku bisa cari uang sendiri. Setelah mendapat kartu identitasku. Aku akan pergi dari rumah ini!" ujar Naima tenang.
"Jangan ... kenapa mesti pergi?!" larang Agung.
"Biarin aja sih kenapa Pa?!" sanggah Anna.
"Diam kamu Anna!" bentak Agung lagi.
"Pratma ... bawa istri dan ibumu pergi dari sini!" perintah Agung.
Pratma hanya bisa menurut. Pria itu tak lagi memiliki pamor di depan sang ayah. Bahkan ibunya tak bisa membela sama sekali. Setelah digagalkannya pernikahan siri pria itu. Pratma banyak bungkam seperti tikus kecebur got.
"Kakek, kalo dia dikasih kartu ... aku juga mau!" Renita bersuara.
"Rendra, Reinhart, bawa adikmu keluar ya!" pinta pria itu. "Tolong!"
Reinhart menarik lengan sang adik. Remaja itu juga lebih banyak diam. Ia adalah anak nomor dua. Agung lebih menyorot pada Rendra dibanding dirinya. Rendra tak suka perlakuan sang kakek pada Naima.
"Ayo Dik, kita nggak dianggap!" ajaknya.
"Rendra!"
Naima memilih pergi. Keputusannya sudah bulat. Setelah mendapat kartu identitasnya, ia akan pergi jauh dari rumah neraka ini.
"Nak, Kakek mohon jangan pergi," pinta pria itu. "Kakek akan merasa bersalah pada ayah dan ibumu!"
Pria itu mengejar Naima yang sudah di depan pintu. Tangan pria itu menahan lengan Naima.
"Maaf, aku sudah sulit bernapas di rumah ini. Aku mau hirup udara bebas!' jelas Naima begitu tegas.
"Nak ...."
Naima menatap tajam pria itu. Tak ada ketakutan sama sekali. Agung menelan saliva kasar. Gunung emas yang sebentar lagi di tangan akan raib jika Naima benar-benar pergi.
"Nak kau mau pergi ke mana? Identitasmu hanya bisa didapat jika kau terdaftar di kartu keluarga," ujar Agung lagi.
Naima terhenti langkahnya. Gadis itu menoleh pria di depannya.
"Iya Nak. Kau tidak akan bisa dapat kartu identitas jika kau tidak masuk dalam kartu keluarga. Mbok Darni juga ikut keluarga ini,'' jelas Agung lagi.
"Nak, tetap lah di sini. Kakek janji akan merubah semuanya. Walau sedikit terlambat, maaf kakek tidak terlalu memperhatikan dirimu," ujar pria itu lagi.
Darni ada di sana dan mengangguk kepala. Wanita itu juga bingung jika ia harus ikut dengan Naima. Darni tidak memiliki tempat tinggal setelah suami dan anaknya meninggal dunia.
Naima menaiki sepeda lalu mengayuh pedalnya kuat-kuat. Agung tidak bisa melarang hal itu. Rendra dan dua adiknya pun naik mobil.
Sedang di sebuah perusahaan. Sosok wanita kini duduk di kursi pimpinan tertinggi. Denita menggantikan posisi sang suami yang kini koma akibat pembengkakan pembuluh darah. Delapan tahun Damar terbujur antara hidup dan mati. Selama itu Denita menjalani peran sebagai CEO di perusahaan sang suami.
"Selamat Nyonya. Anda berhasil kembali memenangkan tender di pusat kota D!" seorang pria menjulurkan tangan.
Denita menyambut jabatan itu dengan senyum ramah. Wanita itu sudah belajar banyak selama delapan tahun ini. Ia benar-benar fokus.
"Andre!" panggilannya pada sosok pria yang selama ini membantu pekerjaannya.
"Nyonya!' pria itu membungkuk hormat.
"Ambil Cucuku Naima Az-zahra! Apapun pertentangannya!' perintah wanita itu.
"Nyonya ...," Andre memperingati atasannya.
"Aku bilang, ambil Cucuku apapun pertentangannya!" perintahnya lagi dengan tegas.
Andre membungkuk hormat. Pria itu menjalankan tugasnya. Walau mungkin berat, karena pasti Naima akan menolak semuanya karena selama delapan tahun diabaikan.
"Bagaimana aku mendekati gadis itu. Dari lahir ia tidak tau jika kakek dan neneknya seorang kaya raya?" keluh pria itu.
Andre harus memiliki strategi untuk mendekati Naima, cucu dari atasannya itu. Ia membaca data yang didapat dari beberapa sumber terpercaya.
Delapan tahun semenjak Damar Hartono jatuh sakit membuat semua berantakan. Terlebih perusahaan mengalami sedikit krisis.
Denita menjadi sosok pengganti harus berjuang keras untuk membuat publik bisnis percaya. Seorang istri yang tidak pernah berkecimpung di dunia bisnis, Denita benar-benar berjuang keras untuk menggapai posisinya sekarang.
Sementara itu, Renita yang kesal karena Naima diberi kartu debit oleh sang kakek memilih kabur ketika istirahat kedua. Ia bolos sekolah bersama beberapa teman-temannya.
"Ren ... kamu dikasih uang kan sama ibumu?" Renita menggeleng.
"Hanya uang seratus ribu nih dari kakek," ujarnya menyodorkan satu lembar uang dari saku kemeja seragamnya.
"Aje gile ... Ortu Lu kan orkay ... masa kasih duit segitu doang?" tanya salah satu teman bolos Renita tak percaya.
"Ya inilah Gue. Kek anak babu aja kan?" semua mengangguk dan memandang iba pada gadis itu.
"Mau cari duit gampang nggak?" tawar Gita pada Renita.
"Apa?" tanya Renita antusias.
"Jadi Baby sugar!' jawab Gita yang membuat Renita bungkam.
"Gue nggak mau. Bisa-bisa dibunuh kakek gua kalo lakuin itu," tolak Renita.
"Ya jangan sampai tau?!" seru Gita merayu temannya itu.
"Nih liat gue dipegangin apaan sama Daddy sugar gue!" Dita mengeluarkan kartu hitamnya.
"Anjirr ... tajir bet Lu Git!" seru Jessy kagum.
Gita menggosok-gosok benda tipis itu ke mukanya yang glowing.
"Gimana kalian mau nggak?" tawarnya.
"Gue mau lah!' seru Jessy semringah.
Tiga lainnya mengangguk. Tak peduli dengan harga diri, yang penting bisa foya-foya setiap hari.
"Gue nggak ya," tolak Renita.
"Duh kan gue bilang jangan kasih tau kakek Lu!" bujuk Gita.
"Temen kakek gue pengusaha semua Git. kalo mereka pergokin aku gimana?" tanya Renita kesal.
"Lu mau tanggung jawab gantiin gue digantungan?" lanjutnya sinis.
"Dih ... ogah," ujar Gita tentu tak mau.
"Ya udah, yuk ke resto. Hari ini gue traktir!" ujar Gita pada akhirnya.
Lalu empat gadis tanggung itu pergi ke sebuah restoran ternama dan makan siang di sana.
bersambung.
hemmm ... Andre bisa bawa Naima pulang nggak ya?'
next?