NAIMA

NAIMA
SEBUAH PERISTIWA



"Dia itu cuma numpang di rumahku jadi makanya tiap hari naik mobil sama aku," jelas Rendra pada beberapa temannya.


"Oh ... emang Naima apa kamu di rumah. Kok dia bisa tinggal sama kamu?" tanya Dean salah satu teman nongkrong Rendra.


"Itu ...."


Rendra bingung mau jawab apa. Remaja itu tentu tidak akan memberitahu jika ayahnya menabrak kedua orang tua Naima hingga meninggal dunia.


"Papa aku angkat dia sebagai anak," pada akhirnya itu jawaban yang ia pikirkan.


"Wah ... Papa kamu mulia sekali, mau angkat anak. Padahal kalian aja sudah tiga bersaudara!" ujar Ghen memuji.


"Iyah ... Papa aku memang baik," sahut Rendra tanpa ekspresi.


"Kalo dia saudara angkatmu. Kok kamu kayak nggak suka banget ama dia?" tanya Luis.


"Itu karena dia kampungan terus di rumah kerjaannya tiduran mulu!' jawab Rendra tentu bohong.


"Masa sih? Nggak dimarahin sama Papa dan Mama kamu?" tanya Ghen lagi.


"Dia berani ribut kalo ditegur sama Mama atau Papa aku. Mentang-mentang dia anak yatim," jawab Rendra mencoba merusak nama baik Naima.


"Dia dapat nilai tinggi loh pas ujian tengah semester kemarin, bahkan ngalahin nilai Jojo, anak paling pinter di sekolah," ujar Santo.


"Aku yakin dia nyontek!" ujar Rendra makin kesal mendengar prestasi Naima.


'Bisa nyontek gitu di kelas satu A? Dulu, Michael yang lihai aja nggak bisa nyontek sama sekali, padahal ia sudah siapin?" ucap Luis panjang lebar.


"Iya, nggak mungkin Naima bisa nyontek!" angguk Dean.


"Kok jadi malah belain dia sih?" Rendra kesal dengan teman-temannya yang malah membela Naima.


"Loh kok marah sih?" tanya Ghen bingung. "Kita kan bicara sesuai fakta!"


Rendra memilih bungkam. Rencananya ingin menjelekkan Naima malah dia yang kesal sendiri.


Sementara itu, Naima sedang merangkum satu buku yang baru ia pinjam di perpustakaan. Gadis itu membaca dengan teliti dan mulai menulis.


Tiga anak gadis dengan baju seragam ketat mendatangi Naima.


"Eh ... kamu!" panggilnya pada Naima.


Naima tak menyahuti, gadis itu sudah tenggelam dalam buku dan tulisannya sendiri.


"Hei!" bentak salah satu gadis menggebrak meja.


Naima baru mendongak melihat tiga gadis yang menatapnya hina.


"Lu beliin kita minum sana!" titah salah satu gadis dengan arogan.


"Kamu nyuruh siapa?" tanya Naima.


"Kamu ... kamu ... ngomong sama siapa Lo?!" bentak yang lain lagi begitu jumawa.


"Lu mesti manggil kita princess, karena kami memang princess!" suruh gadis itu begitu pongah.


"Oh," Naima mengangguk dan tak peduli.


"He ... lu denger nggak!" bentak yang lain hendak merebut buku yang Naima pegang.


"Ada apa ini!" sebuah suara menginterupsi.


Ketiganya terkejut setengah mati. Kepala sekolah masuk kelas, tadi ia melewati kelas Naima dan melihat tiga anak gadis hendak memperundungnya.


"Kalian pakai seragam seperti ini di sekolah?" tanyanya ketika melihat seragam yang dikenakan tiga anak muridnya.


Ketiganya menunduk, kepala sekolah menggeleng melihat tingkah muridnya ini.


"Ke ruang BP sekarang!" titah pria itu.


"Pak ...."


"Sekarang!" tekan kepala sekolah lagi tegas.


Ketiganya melirik Naima. Gadis yang dilirik malah mengerut kening heran.


"Cepat!" bentak kepala sekolah. "Jangan lirik Naima!"


Naima menghela napas. Moodnya langsung turun, melihat rangkumannya yang belum selesai.


"Ah ... udah males ngerjainnya!" keluhnya.


Pelajaran selesai, semua keluar. Hanya kelas Naima yang belum karena ada jam tambahan dari gurunya.


"Pulang Pak!' perintah Rendra pada supir. "Kami sudah lapar!"


"Tapi Tuan muda ...."


"Renita lapar ini!" lanjutnya lalu secara sembunyi-sembunyi mencubit paha kiri adiknya sampai mengaduh.


Akhirnya Pak Supri menjalankan mobilnya. Pria itu tentu tidak mau jika Nona mudanya sakit akibat kelaparan.


Sepuluh menit mobil pergi, Naima keluar kelas. Gadis itu melihat mobil yang ia kenali bergerak, Naima mengejar kendaraan itu.


"Tunggu!" teriaknya.


Sayang Supri tidak melihat Naima yang berlari. Pandangan pria itu fokus menyetir karena ada belokan. Naima menghentikan larinya.


Gadis itu menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Ia harus berjalan kaki setidaknya sejauh sepuluh kilometer jaraknya untuk pulang ke rumah yang sudah tujuh tahun ia tempati.


Sedang di mansion, ketika Supri hendak pergi menjemput Naima, Sofia meminta pria itu mengantarkan dirinya ke salon.


"Tapi ada Pak Sobar Nyah, kan supir Nyonya Pak Sobar?"


"Kamu berani membantah perintahku, Supri?" tanya Sofia marah.


"Nyonya ...."


"Kamu antar saya sekarang!" titahnya tak peduli.


Sofia naik mobil yang biasa mengantar jemput cucunya itu. Ia sangat tau jika Naima tidak naik mobil, Rendra yang mengatakannya.


"Biar dia jalan kaki Oma. Aku kesal, tiap hari mau enak saja naik mobil mewah kita!" jelas remaja itu ketika ditanya neneknya.


"Pintar juga kamu ya. Biar dia tau rasa!" Sofia memuji kepintaran cucunya.


Sementara di perusahaan, Agung tersenyum melihat pergerakan saham, otaknya berputar cepat. Perusahaannya sedang dalam masalah.


"Dengan saham ini. Aku bisa menyelamatkan perusahaanku," gumamnya sambil mengangguk.


"Pa ...." Agung berdecak.


Pratma datang dengan setelan formalnya. Pria itu takut menatap sang ayah.


"Persiapkan Rendra menjadi suami dari Naima!" perintah Agung.


"Kenapa Pa? Kenapa kau korbankan putraku?" desis Pratma.


"Jika kau tidak mau hidup miskin. Aku sarankan, persiapkan putramu itu menjadi suami Naima!" tekan Agung.


"Apanya miskin Pa? Kita nggak akan miskin!" teriak Pratma tak terima.


"Jangan teriak bodoh!" bentak Agung.


"Kamu baca ini!" Agung melempar berkas yang ada di mejanya.


"A-apa maksudnya ini Pa?" tanya Pratma bingung.


"Dasar bodoh. Percuma aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi, jika membaca berkas saja kau tak mampu!" cibir Agung mengatai putranya.


"Aku bisa Pa. Ini tidak mungkin terjadi pada perusahaan kita!" ujar Pratma tersinggung.


"Tapi itulah yang terjadi. Jujur, jika tidak ada pergerakan saham ini. Kita akan diaudit oleh Bank," jelas Agung lemah.


Pratma terdiam. Pria itu duduk di hadapan ayahnya. Dua pria saling mengurutkan kening. Memang perusahaan sedang mengalami kolabs, tetapi masih ada anak perusahaan yang membangkitkan roda perusahaan utama.


"Kita harus menutup sebagian perusahaan kecil yang tak berkompeten," ujar Agung lagi.


"Apa kartu kreditnya ditolak karena batas limit?" seru Sonya di sebuah salon terkenal.


"Iya Nyonya. Maaf, kartu ini ditolak," ujar kasir menyerahkan kartu hitam milik Sonya.


Wanita itu terpaksa merogoh dalam dompetnya. Beruntung ia tak memakai full perawatan tubuh yang pasti akan membuat ia malu karena tidak bisa membayar.


"Bangsat!" makinya pelan.


Wanita itu akan protes pada suaminya, perihal kartu debit. Sementara itu Anna juga terpaksa menahan malu pada teman-teman sosialitanya.


"Aku tidak tau dengan kartu kreditnya, biasanya tidak apa-apa bahkan limit satu miliar," ujarnya dengan wajah memerah.


"Udah nggak apa-apa Jeng. Kan selama ini Jeng Anna yang bayarin. Sekarang gantian deh," ujar salah satu wanita dengan pakaian mahalnya.


Ketika pulang Agung tak menemukan Naima. Pria itu menatap semua orang di sana termasuk tiga cucunya.


"Mana Naima?"


Bersambung.


nah loh ...


next?